Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Desember 2018

Tokoh Kh. Tubagus Falak: Penggerak Jihad Melawan Penjajah dan Perintis NU di Bogor

KH. Tubagus Falak: Penggerak Jihad Melawan Penjajah dan Perintis NU di Bogor



 KH. Tubagus Muhammad Falak bin KH Tubagus Abbas adalah seorang kiai kharismatik yang dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan pesantren dan kemudian dikenal luas oleh kalangan masyarakat sebagai pemimpin rohani dalam gerakan sufi sebagai mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah yang mengambil ijazah langsung dari Syekh Abdul Karim Banten.

Beliau adalah tokoh agama yang dikenal pula karena keahliannya dalam ilmu kasyaf yang memiliki kedalaman ilmu agama dan memiliki keluhuran budi pekerti yang secara langsung dirasakan oleh masyarakat luas.

KH Tubagus Muhammad Falak dilahirkan pada tahun 1842 di Sabi, Pandeglang Banten. Sejak kecil beliau mendapatkan pendidikan agama Islam dari orang tuanya. Ayahnya KH. Tubagus Abbas adalah kiai pemimpin pesantren yang hidup dari hasil bertani dan sangat aktif dalam melakukan kegiatan dakwah dan syiar Islam di daerah Pandeglang dan sekitarnya bersama isterinya yaitu Ratu Quraisyn.

Secara garis kuturunan, KH Tubagus Muhammad Falak tidak saja berasal dari keturunan kiai pesantren, tetapi juga keturunan dari keluarga kesultanan Banten melalui ayah beliau, KH Tubagus Abbas. Silsilah keturunan beliau sarnpai kepada salah seorang dari sembilan wali yang memiliki putera bernama Sultan Maulana Hasanuddin Banten yaitu Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati. Kebangsawanan beliau diperkuat pula oleh garis keturunannya dari sang ibu yaitu Ratu Quraisyn yang masih merupakan keturunan Sultan Banten.

Dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga pesantren di Sabi, Pandeglang Banten menjadi awal yang sangat berpengaruh dalam perjalanan hidup beliau. Suasana keagamaan serta bimbingan agama Islam yang diberikan oleh orangtuanya semasa kecil sangat mempengaruhi pembentukan karakter dan semangat KH. Tubagus Muhammad Falak untuk menuntut ilmu pengetahuan agama Islam serta mengamalkan ilmu tersebut demi kepentingan masyarakat luas.

Setelah selesai mempelajari beberapa kitab dalam bidang bahasa, fiqh dan terutama aqidah dari orangtuanya hingga usia 15 tahun, KH. Tubagus Muhammad Falak yang sejak kecil mempelajari Al-Quran dan tergolong cerdas dalam menyerap pengetahuan Islam serta pintar dalam menguasai ilmu beladiri ini pernah memperdalam pengetahuan agamanya di Cirebon dan beberapa ulama banten diantaranya Syekh Abdul Halim Kadu Peusing atas anjuran KH. Tubagus Abbas.

Di usia 15 tahun tepatnya pada tahun 1857, MH. Tubagus Muhammad Falak diberangkatkan oleh orangtuanya ke Mekah untuk menunaikan lbadah haji dan menuntut berbagai bidang ilmu pengetahuan agama di sana. Selama mukim di Mekkah beliau bertempat tinggal bersama salah seorang gurunya yang merupakan ulama besar lndonesia bernama Syekh Abdul Karim Banten sesuai dengan anjuran salah seorang gurunya selama di Banten yaitu Syekh Sohib Kadu Pinang.
Mula-mula KH. Tubagus Muhammad Falak belajar ilmu tafsir Quran dan fiqh kepada Syekh Nawawi Al-Bantany dan Syekh Mansur Al-Madany yang keduanya berasal dari Indonesia. Dalam bidang ilmu Hadist beliau belajar kepada Sayyid Amin Qutbi dan dalam ilmu tasawwuf beliau belajar kepada Sayyid Abdullah Jawawi. Sedangkan dalam ilmu falak beliau belajar kepada seorang ahli ilmu falak bernama Sayyid Affandi Turki.

Khusus dalam ilmu fiqh, beliau belajar kepada Sayyid Ahmad Habasy, dan Sayyid Umar Baarum. Setelah dewasa KH. Tubagus Muhammad Falak memperdalam ilmu hikmat dan ilmu tarekat kepada Syekh Umar Bajened, ulama dari Mekkah dan Syekh Abdul Karim dan Syekh Ahmad Jaha yang keduanya berasal dari Banten.

Di bidang fiqh beliau belajar pula kepada Syekh Abu Zahid dan Syekh Nawawi Al-Falimbany. Di samping nama-nama di atas, selama di Mekkah beliau juga menuntut ilmu di bawah bimbingan ulama-ulama besar lainnya antara lain: Syekh Ali Jabrah Mina, Syekh Abdul Fatah Al-Yamany. Syekh Abdul Rauf Al-Yamany. dan Sayyid Yahya Al-Yamany. Bahkan selama di Indonesia, baik sebelum pergi maupun pada saat kembali dari Mekkah, KH. Tubagus Muhammad Falak berguru dan memperdalam ilmu pengetahuan kepada beberapa ulama besar banten diantaranya Syekh Salman, Syekh Soleh Sonding. dan Syekh Sofyan.

Selama berada di Timur tengah, KH.Tubagas Muhammad Falak berkunjung ke Baghdad Irak dan sempat berguru kepada ulama Mekkah yang sedang berada di Baghdad yaitu Syekh Zaini Dahlan. Di sana beliau pernah berziarah ke makam Syekh Abdul Qodir Jailani. Sedangkan selama berada di Madinah beliau berziarah ke makam Nabi Besar Muhammad SAW. Selama mukim pertama di Mekkah dan Madinah, KH.Tubagus Muhammad Falak seangkatan dengan Syekh Kholil Bangkalan yang pada periode yang sama tepatnya sekitar tahun 1860-an menuntut ilmu di Mekkah.
Setelah periode mukim pertama di Mekkah selama kurang lebih 21 tahun lamanya, KH. Tubagus Muhammad Falak kembali ke Nusantara pada tahun 1878.

Dalam konteks pergerakan kebangsaan melawan penguasa kolonial, dalam salah satu keterangan disebutkan bahwa KH Tubagus Muhammad falak menjadi salah satu kiai Banten yang turut aktif dalam pemberontakan petani banten 1888 yang dimotori oleh para kiai tarekat, diantaranya Syekh Abdul Karim, KH. Asnawi Caringin, KH. Tubagus Wasid dan KH.Tubagus lsmail. Akibat aktifitas politik tersebut beliau menjadi salah seorang yang menjadi sasaran untuk ditangkap oleh Belanda. Periode tersebut bertepatan dengan periode kepulangan beliau dari timur tengah ke Nusantara.

Pada tahun 1892, KH. Tubagus Muhammad Falak kembali ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan kembali memperdalam ilmu di sana hingga menjelang awaI abad ke-20 dan mengalami masa kebersamaan dalam kurun waktu yang sama dengan KH. Hasyim Asy�ari dan KH. Ahmad Dahlan, kedua tokoh agama pendiri dua organisasi besar di Nusantara yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Selama berada di Mekkah dan Madinah pada periode pertama dan kedua, beliau sangat dikenal oleh para ulama baik seangkatan maupun angkatan yang lebih muda khususnya yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara yang sedang menuntut dan memperdalam ilmu di sana.

Kemudian pada awal abad 20 setelah kepulangannya dari Timur Tengah, KH. Tubagus Muhammad Falak memulai aktivitas pendirian pesantren setelah melalui masa perintisan yang cukup panjang baik setelah melalui aktivitas dakwah dan syiar Islam sejak dari Pandeglang hingga ke pelosok-pelosok di daerah bogor dan sekitarnya maupun setelah merintis pengajian di daerah Pagentongan.

Pendirian Pesantren Al-Falak di Pagentongan Bogor oleh KH. Tubagus Muhammad Falak merupakan perwujudan akhlak yang ditunjukan oleh beliau sebagai seorang ulama yang telah mengalami perjalanan intelektual dan spiritual yang panjang di Timur Tengah untuk memberikan pendidikan dan pengajaran kepada masyarakat serta mernberikan penerangan-penerangan bagi umat dalam hal keislaman. begitu banyak kalangan yang datang kepada beliau untuk menjadikan dirinya sebagai guru yang dipandang memiliki kedalaman dan keluasan ilmu pengetahuan agama Islam.

Dan begitu banyak pula para santri yang telah mendapatkan bimbingan beliau menjadi kiai, tokoh agama yang merupakan pendiri dan pemimpin pondok pesantren dan majelis ta`lim serta guru-guru agama Islam yang tersebar di berbagai pelosok di Indonesia dan mancanegara. bahkan banyak pula para santri beliau yang telah menjadi birokrat dan politisi di Indonesia.

Khusus dalam konteks pergerakan, aktifitas KH. Tubagus Muhammad Falak dalam gerakan kebangsaan semakin terlihat mantap ketika beliau semakin banyak berinteraksi dengan para tokoh pergerakan nasional dari berbagai kalangan diantaranya H.O.S Cokroaminoto, Ir. Soekarno, dan berbagai tokoh pergerakan nasional lainnya. kemudian pada masa sebelum dan masa revolusi fisik 1945-1949, KH. Tubagus Muhammad Falak telah tercatat sebagai salah searang ulama besar Indonesia yang menjadi tokoh Spiritual dalam bidang kerohanian di laskar Hizbullah yang pelatihannya berpusat di daerah Cibarusa dan pemimpin spiritual di Bogor yang senantiasa membangkitkan semangat Jihad fii Sabilillah melawan penjajah untuk membela dan mempertahankan republik Indonesia. Pada masa-masa kritis beliau banyak didatangi oleh banyak masyarakat dari kalangan sipil dan militer untuk meminta keberkahan atas karomah yang diyakini di miliki oleh beliau.

Pada tahun 1953, KH Tubagus Muhammad Falak mendirikan Nahdlatul Ulama di Bogor dan pada saat pembentukan dihadiri langsung oleh KH Wahid Hasyim. Adapun salah seorang cucunya yakni KH Soleh Tohor Falak pernah menjadi salah Ketua Tanfidziyah NU Bogor

Adapun gelar falak yang selama hidupnya melekat pada beliau rnerupakan gelar yang diberikan oleh gurunya yang bernama Sayyid Affandi Turki oleh karena kecerdasan dan keahlian beliau dalam menguasai ilmu hisab dan ilmu falak yang diajarkan oleh gurunya tersebut. Beliau yang dikenal di Mekkah dengan sebutan Sayyid Syekh Muhammad Falak ini selama hidupnya memiliki hubungan interaksi yang amat luas dan memiliki kedekatan dengan ulama-ulama besar di dalam dan luar Nusantara yang sebagian besar pernah berkunjung kepada beliau di Pagentongan antara lain: Syekh Abdul Halim Palembang, Syekh Abdul Manan Palembang, Syekh Abdul Qodir Mandailing, Syeikh Ahmad Ambon, Syekh Daud Malaysia, Tuan Guru Zainuddin Lombok, Guru Zaini Ghoni Martapura, Habib Soleh Tanggul Jawa Timur, Habib Umar Alatas, Habib Idrus Pekalongan, Habib Ali Al-Habsy Kwitang, Habib Abu Bakar Kwitang dan para habaib dan kiai dari berbagai daerah lainnya di Nusantara.

Ayahandanya KH. Tubagus Abas dikenal sebagai seorang ulama besar di Banten. Ia sebagai pendiri dan pemimpin pondok pesantren Sabi, hampir separuh usianya dihabiskan untuk mendidik santri-santrinya. Dari beliaulah pertama kali KH. Falak mendapat pendidikan dalam bidang baca tulis Al Qur�an, Sufi dan terutama pemantapan Aqidah Islam, bahkan karena cintanya kepada ilmu, di usianya yang masih muda, KH Falak sempat mengembara selama 15 tahun untuk menggali dan menuntut ilmu ke beberapa ulama besar yang ada di daerah Banten dan Cirebon.

Selama di Mekah KH. Falak tinggal bersama Syekh Abdul Karim, dari Syeh Abdul Karim hingga akhirnya mendapatkan kedalaman ilmu tarekat dan tasawuf, bahkan oleh Syekh Abdul Karim yang dikenal sebagai seorang Wali Agung dan ulama besar dari tanah Banten yang menetap di Mekah itu. KH. Falak dibai�at hingga mendapat kepercayaan sebagai mursyid (guru besar) Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.

Pada tahun 1878. KH Falak kembali ketanah air. Selama beberapa pekan K.H. Falak tinggal di tempat kelahirannya Pandeglang Banten dan mendapat kepercayaan untuk memimpin pesantren Sabi yang ditinggalkan oleh ayahnya.

Tetapi seperti pada umumnya perjalanan seorang mubalighin, aktivitas da�wah dan tablignya untuk menyebarkan dan menyiarkan Islam tidak akan terhenti sampai disana demikian juga dengan apa yang dilakukan oleh KH Falak, sebagai wujud untuk mengembangkan dan mengamalkan ilmunya, sejak tahun itu juga beliau mulai melancarkan aktivitas tablig dan da�wah secara estafet. Dimulai dari daerah Pandeglang, Banten hingga sampai ke Pagentongan Bogor dan bermukim disana hingga wafatnya.

KH Tubagus Muhammad Falak wafat pada waktu subuh pukul 04.15 hari Rabu tanggal 19 Juli 1972 atau tanggal 8 Djumadil Akhir 1392 H di usianya yang ke, 130 tahun di Pagentongan, Bogor.

Oleh Alm. Akhsan Ustadhi
Ketua PCNU Kabupaten Bogor

Senin, 19 Februari 2018

Khutbah Jum�at dengan Bahasa Indonesia

Assalamu�alaikum wr. wb.. Nama saya Muchamad Wajihuddin asal kota Bogor. Saya mau bertanya seputar shalat Jumat. Apakah shalat Jum�at sah dengan khutbah menggunakan bahasa Indonesia? karena dalam kitab "Safinatunnaja" dan "Fathul Mu�in" disebutkan syarat khutbah Jumat diantaranya dengan bahasa Arab bil�arobiyah, dengan bahasa Arab.

Wa�alaikum salam wa rahamatullah wa barakatuh. Saudara penanya yang dimuliakan Allah Telah kita pahami bahwa khutbah Jum�at merupakan satu rangkaian yang harus dilaksanakan satu paket dengan shalat Jum�at. Artinya shalat Jum�at tidak dapat dinyatakan sah apabila khutbah Jum�at tidak memenuhi ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan.

Saudara penanya yang kami hormati Memang benar, apabila kita membaca dua kitab yang anda sebutkan, sepintas lalu kita akan mendapat pemahaman bahwa syarat sah khutbah Jum�at adalah dengan bahasa Arab. Namun apabila kita mau meneliti lebih dalam penjelasan tentang kitab-kitab ini (syarah �syarahnya seperti I�anatut-Thalibin dan Kasyifatus-Saja), maka dapat kita temukan bahwa yang dimaksudkan dengan keharusan bahasa Arab adalah ketika seorang khotib menyampaikan rukun-rukun khutbah, bukan keseluruhan khutbah. Dalam I�anat at-Thalibin:

?: ? ?- ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? - ? ? - ? ? ? ? ?




Khutbah Jum�at dengan Bahasa Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Khutbah Jum�at dengan Bahasa Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Khutbah Jum�at dengan Bahasa Indonesia

Artinya: ungkapan penyusun kitab Fathl-Mu�in: dan disyaratkan di dalam pelaksanaan dua khutbah (dengan bahasa Arab), artinya adalah rukun-rukun khutbah, sebagaimana dijelaskan dalam kitab at-Tuhfah. Adapun redaksi aslinya �syarat rukun khutbah�-bukan yang lain- adalah dengan bahasa Arab.

Dengan demikian khutbah yang disampaikan dengan bahasa Indonesia sebagaimana pertanyaan saudara, masih dihukumi sah selama rukun-rukunnya masih disampaikan dengan bahasa Arab dan tidak merusak kesinambungan (muwalat) antar rukun khutbah.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Hal ini juga pernah dibahas dalam forum muktamar NU ke-20 tahun 1954 di Surabaya. Jawaban ini mudah-mudahan bermanfaat dan menjadikan kita semakin yakin dengan ibadah shalat Jum�at yang kita lakukan. Amin. (Maftukhan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Amalan, Makam, Tokoh Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 17 Februari 2018

LPPNU Kraksaan Mantapkan Organisasi dan Program Kerja

Probolinggo, Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Pengurus Cabang Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Kota Kraksaan bekerja sama dengan Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluh Pertanian (BKP4) Kabupaten Probolinggo menggelar rapat koordinasi (rakor) dalam rangka memantapkan organisasi dan program kerja, Rabu (27/1).

Kegiatan yang dipusatkan di Kantor PCNU Kota Kraksaan ini dihadiri oleh Rais Syuriyah PCNU Kota Kraksaan KH Munir Kholili, Katib Syuriyah PCNU Kota Kraksaan KH Abdul Wasik Hannan, Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Kraksaan H Nasrullah A. Suja�i dan Kepala BKP4 Kabupaten Probolinggo Nanang Trijoko Suhartono.




LPPNU Kraksaan Mantapkan Organisasi dan Program Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)
LPPNU Kraksaan Mantapkan Organisasi dan Program Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)

LPPNU Kraksaan Mantapkan Organisasi dan Program Kerja

Pemantapan organisasi dan program kerja PC LPPNU Kota Kraksaan ini diikuti oleh 52 orang peserta terdiri dari 14 pengurus MWCNU dan 14 pengurus LPPNU MWCNU (Ketua, Sekretaris dan Bendahara) se- PCNU Kota Kraksaan.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketua PC LPPNU Kota Kraksaan Yahyadi mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk memantapkan organisasi serta terlaksananya program kerja PC LPPNU Kota Kraksaan. Program kerja PC LPPNU Kota Kraksaan masa khidmat 2015-2020 merupakan salah satu tindak lanjut dari hasil musyawarah kerja yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Hati di Dusun Toroyan Desa Rangkang Kecamatan Kraksaan.

�Penataan lembaga organisasi dan program kerja ini disusun sebagai acuan dalam menjalankan roda jam�iyah yang harus mengacu pada visi dan misi LPPNU Kota Kraksaan,� katanya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut Yahyadi, adapun program kerja PC LPPNU Kota Kraksaan diantaranya melaksanakan pemantapan dan pengembangan organisasi. �Disamping juga melakukan pendampingan, pemberdayaan dan advokasi terknologi kepada pelaku komoditas hortikutura, tanaman pangan, perkebunan, lingkungan hidup serta ekplorasi kelautan, baik pelaku utama maupun pelaku usaha,� jelasnya.

Sementara Kepala BKP4 Kabupaten Probolinggo Nanang Trijoko Suhartono mengatakan pembangunan pertanian bukan tanggung jawab pemerintah saja, namun semua pihak diharapkan ikut berperan aktif mulai dari masyarakat petani itu sendiri, lembaga sosial kemasyarakatan, lembaga swasta dan lain sebaginya.

�BKP4 bersama LPPNU secara berkesinambungan membantu petani dalam peran pendampingan dan advokasi. Langkah awal telah dilaksanakan rakor bersama dalam pemantapan kelembagaan dan pemantapan program kegiatan LPPNU Kota Kraksaan tahun 2016,� katanya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Tokoh Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 26 Januari 2018

�Grebek Suro� Tawangsari Peringati Perjuangan KH Abu Manshur

Tulungagung, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Tawangsari Tulungagung menggelar Grebek Suro" pada Selasa (13/10) siang. Kegiatan tersebut sebagai peringatan atas jasa dan perjuangan KH Abu Manshur, ulama besar pada kerajaan Mataram Islam (abad ke-18) yang terkenal ahli bela diri pencak silat.




�Grebek Suro� Tawangsari Peringati Perjuangan KH Abu Manshur (Sumber Gambar : Nu Online)
�Grebek Suro� Tawangsari Peringati Perjuangan KH Abu Manshur (Sumber Gambar : Nu Online)

�Grebek Suro� Tawangsari Peringati Perjuangan KH Abu Manshur

KH Abu Manshur ketika kecil bernama R. Qosim RM. Tolo Diponegoro. Ia adalah putra dari Prabu Amangkurat IV (Amangkurat Jawi/ RM Suryaputra putra dari Paku Buwana I) yang lahir pada tahun 1711 dari Ibu yang bernama Bandondari putri Adipati Kudus.

Sepeninggal Prabu Amangkurat IV tahta Kasunanan Kartasura diserahkan kepada putranya yang bernama RM Prabayasa (Sunan Paku Buwana II). Sedangkan KH Abu Manshur atau R. Qosim lebih tertarik pada ilmu keagamaan. Ia meninggalkan keraton dan memperdalam ilmu agama di sebuah pesantren di Tegalsari Ponorogo yang diasuh Kiai Kasan Besari.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Di pesantren itu R. Qosim menyamar sebagai orang biasa supaya diperlakukan selayaknya murid pada umumnya. Meski demikian Kiai Kasan Besari menilai R. Qosim berbeda dari murid lainnya. Ia cerdas dan cepat menguasai ilmu yang diajarkan. Sehingga ia menaruh simpati dan mencuriganya sebagai keturunan bangsawan.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketika R. Qosim merasa mempunyai bekal ilmu yang cukup untuk mengembangkan agama Islam, dengan jiwa kemandiriannya, mencari daerah yang kondusif sebagai tempat berdakwah.

Atas saran Kiai Kasan Besari, R. Qosim berjuang di wilayah timur Ponorogo, yaitu Ngrowo, tepatnya di daerah "Tawangsari". Untuk memperlancar tujuan berdakwah, ia mendirikan masjid dan pondok. Selain diajari ilmu agama, murid-muridnya diajari ilmu kanuragan atau pencak silat yang berguna untuk melawan kaum penjajah (VOC).

Seiring dengan berkembangnya Tawangsari sebagai pusat keagamaan, R. Qosim berganti nama menjadi "Abu Manshur".

Melihat potensi dari R.Qosim, Kiai Kasan Besari menjodohkannya dengan putri dari muridnya yang sudah tersohor dari Sewulan Madiun, yakni Kiai Bagus Harun Basyariyah (putra R. Nolojoyo, keturunan P. Sutowijoyo/Panembahan Senopati (Senopati Mataram Islam).

Kiai Bagus Harun bersedia mengangkat R. Qosim sebagai menantunya, menikahkannya putri dengan R.A Fatimah (bergelar Nyai Lidah Item). Jadi antara R. Qosim dan RA. Fatimah, keduanya masih satu garis keturunan Panembahan Senopati.

Bersama istrinya, R. Qosim meneruskan perjuangan menyebarkan agama Islam di Tawangsari. Untuk memperkuat kedudukan dalam berdakwah dan berjuang melawan penjajah khususnya wilayah timur, ia mendapatkan layang kekancingan piagam:

1. Layang kekancingan dari Sunan Paku Buwono II pada tahun 1746 M

2. Layang kekancingan dari Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1750 M, dan dipinjami pusaka keraton yaitu "Kiai Banteng Wulung" karena setelah perjanjian Giyanti Tawangsari masuk kedalam kekuasaan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat

Bukti Sejarah

1. Adanya "layang kekancingan" untuk desa Tawangsari dari Sri Sultan Hamengkubuwono I seperti, desa-desa perdikan lain, seperti Tegalsari, Banjarsari, Sewulan dan daerah lainnya

2. Disebutkannya kata "Merdiko" 2 (dua) kali, yang bermakna "penguasa" dan "pemerintahan sendiri yang merdeka"

3. Adanya bangunan masjid yang berarsitektur masjid di lingkungan kraton

4. Terdapatanya tulisan di Nisan "Bendoro Raden Ayu Tulungagung Kang Sapisan" di kompleks pemakaman keluarga Kanjeng Kiai Abu Manshur. Ia adalah Ray. Sulastri, merujuk sejarah Babad Tulungagung yang menyebutkan bahwa daerah perdikan Tawangsari pernah dikunjungi raja.

Jasa-jasa KH Abu Manshur

1. Membangun Alun-alun sebagai pusat kota Tulungagung

2. Membantu mempertahankan wilayah dari pemberontak dan penjajah

3. Membentuk masyarakat berpikiran kreatif, membekalinya dengan ilmu agama dan ilmu kanuragan. Sehingga Tawangsari menjadi daerah yang aman tenteram dan agamis.

Selain memperingati jasa KH Abu Manshur, kegiatan yang diprakarsai R. Ngt. H. Siti Fatimah dengan menggandeng Muslimat NU Ranting Tawangsari, PKK, dan Kerukunan Warga setempat, tersebut sebagai perayaan Tahun Baru 1437 H.

Grebek Suro diselenggarakan dua hari. Pada hari pertama dimeriahkan pawai kebudayaan, KRA Asmaradhana dan kirab santri-santri Zumrotussalamah dari pendopo Tanah Kamardikan Tawangsari. Kegiatan sebagai menyambut tahun baru 1 Muharram 1437 H tersebut diikuti 600 lebih partisipan.

Menurut R.Ngt. H. Siti Fatimah kegiatan tersebut adalah meneruskan perjuangan para leluhur, terutama KH Abu IManshur dalam menegakkan agama Islam sesuai konteksnya. �Artinya, Islam menerima kebudayaan sebagai instrumen pelengkap dalam berdakwah, tidak malah sebaliknya," tutur keturunan KH Abu Manshur tersebut. (Sabda Palon/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Humor Islam, Tokoh Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalai Lama: Jangan Tuding Muslim Teroris, Semua Agama Punya Orang Jahat

Washington DC, Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama, menyebut pembantaian di klub malam gay di Orlando, Florida, AS yang menewaskan 50 orang adalah �tragedi sangat serius�.

Dalai Lama juga mengatakan, adalah salah besar jika menilai semua Muslim sebagai teroris potensial. Semua agama ada beberapa pengikutnya yang jahat dan pengacau.




Dalai Lama: Jangan Tuding Muslim Teroris, Semua Agama Punya Orang Jahat (Sumber Gambar : Nu Online)
Dalai Lama: Jangan Tuding Muslim Teroris, Semua Agama Punya Orang Jahat (Sumber Gambar : Nu Online)

Dalai Lama: Jangan Tuding Muslim Teroris, Semua Agama Punya Orang Jahat

Pemimpin spiritual Tiber itu seperti hendak menyindir kandidat Presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump, yang terkesan anti imigran dan Islam.

Dalam laporannya pada Selasa (14/6), Reuters menyebutkan, Dalai Lama dimintai pandangannya tentang kasus Orlando dan larangan Trump untuk imigran Muslim masuk AS.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut Dalai Lama, Trump mempunyai hak mengeluarkan pendapat. Namun, ia mengatakan, pandangan kandidat Presiden AS itu harus dipersoalkan.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalai Lama mengatakan, jika dia mempunyai kesempatan, dia akan meminta penjelasan Trump �Apa alasannya? Lebih terinci.�

Pasca serangan di Orlando, Florida, Trump kembali mengemukakan gagasan kontroversialnya yakni membangun tembok pembatas, melarang imigran dan Muslim masuk ke AS.

Dalam setiap komunitas agama, kata Dalai Lama, termasuk agama Buddha, �ada beberapa orang jahat.�

�Namun, Anda tidak bisa menggeneralisasi,� katanya.

"Beberapa individu Muslim melakukan aksi teror, tetapi kita tidak bisa mengatakan semua Muslim itu teroris. Saya pastikan itu adalah pandangan yang salah.�

Lima puluh orang, termasuk pria penyerang, tewas dalam insiden penembakan di klub malam Orlando, pada Minggu (12/6/2016) dini hari.

Penembakan massal itu terburuk dalam sejarah AS. (Kompas/Masdar)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Makam, Tokoh Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rabu, 24 Januari 2018

Pemkab Padang Pariaman Apresiasi Kiprah Pesantren Nurul Yaqin

Padang Pariaman, Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman memberikan apresiasi kepada Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Pakandangan, Kecamatan Enam Lingkungan, Kabupaten Padang Pariaman yang sudah menghasilkan ratusan alumni yang bergelar tuanku. Para alumni tersebut sudah berbuat di tengah masyarakat sebagai ulama dalam mensyiarkan agama Islam.

Wakil Bupati Padang Pariaman Suhatri Bur mengungkapkan hal itu pada Silaturahim Akbar Keluarga Besar Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Pakandangan dalam rangka 90 Tahun Syekh H. Ali Imran Hasan Mengabdi untuk Bangsa dan Negara, Sabtu (9/7/2016) di pesantren tersebut.




Pemkab Padang Pariaman Apresiasi Kiprah Pesantren Nurul Yaqin (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemkab Padang Pariaman Apresiasi Kiprah Pesantren Nurul Yaqin (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemkab Padang Pariaman Apresiasi Kiprah Pesantren Nurul Yaqin

Menurut Suhatri Bur yang juga mantan Bendahara Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Padang Pariaman ini, Nurul Yaqin tetap menjadi perhatian Bupati Padang Pariaman Ali Mukhni. Ketika ada kegiatan yang berkaitan dengan pesantren, maka Nurul Yaqin selalu diprioritaskan dalam kegiatan tersebut. "Ini terbukti, jika program pembangunan yang diarahkan untuk pesantren, maka Bupati Ali Mukhni pasti mendahulukan Nurul Yaqin. Hal itu tentu atas pertimbangan kiprah Nurul Yaqin di Kabupaten Padang Pariaman yang tidak diragukan lagi perannya," kata Suhatri Bur menambahkan.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Silaturahim diakhiri dengan testimoni para alumni yang hadir tentang Buya Syekh H. Ali Imran Hasan. Testimoni tersebut mulai dari pengajaran, cara belajar, kesan, kenangan selama mendampingi Buya atau selama menuntut ilmu di Nurul Yaqin. Testimoni tersebut mampu mengungkapkan sosok Buya Syekh H. Ali Imran Hasan dari berbagai aspek kehidupan. Selama ini masih banyak di kalangan alumni Nurul Yaqin sendiri yang tidak mengetahui berbagai pengalaman Buya Syekh H. Ali Imran Hasan. Termasuk dari ilmu-ilmu yang khusus diberikan dalam pengajaran di pesantren.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Acara bertemakan, �Dengan momentum silaturahim akbar mari perkuat ukhuwah islamiyah� ini juga dihadiri Pendiri/Pimpinan Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Buya Syekh H. Ali Imran Hasan, Ketua Yayasan Idarussalam Tuanku Sutan, Ketua MUI Padang Pariaman Dr. Zainal Tuanku Mudo, Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Almuhdil Karim Tuanku Bagindo, dan alumni Nurul Yaqin lainnya. (Armaidi Tanjung/ Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pahlawan, Anti Hoax, Tokoh Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Pages

Archive

Diberdayakan oleh Blogger.