Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

4000 Kader Banjiri Perayaan Harlah Ke-66 Fatayat Wonosobo

Wonosobo, Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ribuan anggota Fatayat NU Wonosobo menghadiri resepsi harlah ke-66 Fatayat NU yang dihelat di Gedung Sasana Adipura Wonosobo, Jawa Tengah. Peserta yang hadir dari berbagai penjuru daerah Wonosobo itu membludak hingga membuat gedung dengan aula terbesar di kota dingin tersebut tidak muat menampung mereka. Sebagian hadirin terpaksa mengambil tempat di area teras luar gedung untuk mengikuti jalannya acara.

Menurut keterangan pihak panitia, resepsi harlah Fatayat kali ini dihadiri lebih dari 4000 orang. Meski majelis tempat acara sudah dibuat model duduk lesehan, tapi tetap tak dapat menampung tingginya antusiasme anggota Fatayat yang hadir.




4000 Kader Banjiri Perayaan Harlah Ke-66 Fatayat Wonosobo (Sumber Gambar : Nu Online)
4000 Kader Banjiri Perayaan Harlah Ke-66 Fatayat Wonosobo (Sumber Gambar : Nu Online)

4000 Kader Banjiri Perayaan Harlah Ke-66 Fatayat Wonosobo

Dalam puncak harlah Fatayat NU pada Kamis (5/5) tersebut dimeriahkan pula dengan sesi acara Fatayat Bershalawat dan menghadirkan Cita Helmy, seorang pembawa acara "Keluarga Sakinah" TV9 Nusantra dari Surabaya. Selain itu, terdapat juga hiburan dari grup Al-Kiswah Surabaya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam kesempatan tersebut, dibagikan beberapa piala dan hadiah untuk para pemenang dalam kompetisi atau festival berbagai cabang perlombaan yang diadakan PC Fatayat NU Wonosobo beberapa waktu lalu.

Festival yang diadakan pada Ahad (1/5) di kompleks Masjid Al-Mansur Kauman Wonosobo tersebut di antaranya memperlombakan baca kitab kuning, pembacaan al-Barzanji, rebana hadrah, pembacaan tahlil, dan pidato. (M. Haromain/Mahbib)

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah IMNU Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 19 Februari 2018

Meriah, Gebyar Muharram Qiraati Jepara

Jepara, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Gebyar Muharram ke-10 yang diselenggarakan Koordinator Cabang (Korcab) Qiraati kabupaten Jepara yang berlangsung di alun-alun Jepara, Sabtu (25/10) pagi berlangsung meriah. Kegiatan dalam rangka memperingati tahun baru 1436 H itu diikuti ribuan peserta dari Koordinator Kecamatan (Korcam) Qiraati dari 14 kecamatan yang ada di Jepara.




Meriah, Gebyar Muharram Qiraati Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)
Meriah, Gebyar Muharram Qiraati Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)

Meriah, Gebyar Muharram Qiraati Jepara

Dalam kegiatan tersebut diisi dengan hiburan balasik El-Kautsar, dongeng Kak Bimo dan kesenian Wahyu Budoyo Mudo (WBM) dari Magelang serta pembagian bingkisan.

Koordinator Qiraati Cabang Jepara, H Zainal Marlis menyebutkan kegiatan menunjukkan umat Islam mempunyai tahun baru yang layak diperingati. �Tahun baru Hijriyah adalah tahun baru kita yang wajib kita rayakan,� katanya kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah di sela-sela kegiatan.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sebagai bentuk merayakannya pihaknya mendatangkan guru bersama santri TPQ se-kabupaten Jepara yang pagi itu tumplek-blek memadati alun-alun Jepara.

Lewat momen tersebut Qiraati Jepara juga mengenalkan sejak dini tahun baru hijriyah kepada murid. Sehingga anak-anak semakin mafhum tahun baru agama yang dianutnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Di hari sebelumnya, Jumat (24/10) juga digelar Tahtiman Al-Quran bil-ghaib, tahtiman Al-Qur�an bin-nadlor 3000 guru serta pengajian umum bersama KH Marzuki Mustamar dari Malang, Jawa Timur. (Syaiful Mustaqim/Anam) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Doa, Makam, IMNU Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 09 Februari 2018

Resmikan Gedung Baru, Pelajar NU Tegalwaru Layani Bimbel Gratis

Purwakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Sekitar 100 orang terdiri dari pelajar, santri, dan mahasiswa menghadiri peresmian gedung baru milik PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta di Pesantren Nurul Huda, Ahad (3/4) malam. Mereka secara resmi membuka bimbingan gratis buat para pelajar setempat.

Gedung baru tersebut diresmikan oleh Ketua MWC NU Tegalwaru serta disaksikan oleh beberapa pimpinan pesantren danpara mantan ketua IPNU-IPPNU dari tahun 2008 hingga sekarang.




Resmikan Gedung Baru, Pelajar NU Tegalwaru Layani Bimbel Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Resmikan Gedung Baru, Pelajar NU Tegalwaru Layani Bimbel Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

Resmikan Gedung Baru, Pelajar NU Tegalwaru Layani Bimbel Gratis

Peresmian gedung baru yang bersamaaan dengan pagelaran Konferensi Anak Cabang (Konferancab) IPNU-IPPNU Tegalwaru ini rencananya selain digunakan untuk sekretarian, akan difungsikan juga sebagai tempat Bimbingan Belajar (Bimbel) gratis bagi para pelajar.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

�Banyak yang kurang minat untuk mengikuti kursus, khususnya bahasa asing, mengingat biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit juga, sehingga kami berinisiatif untuk mengadakan kegiatan bimbel gratis.Nantinya diisi oleh para kader IPNU IPPNU yang telah lulus S1 bahasa Arab, Inggris dan komputer,� lanjut Ketua IPNU Tegalwaru Ahmad Saepudin.

Selain itu, rencanya gedung baru tersebut akan digunakan juga sebagai pusat informasi di antaranya beasiswa dan lowongan kerja. �Sekarang juga banyak sekali info? beasiswa kuliah dan lowongan kerja yang sebagian syaratnya harus mampu bahasa asing dan komputer, sehingga menjadi penting sekali para pelajar sekarang harus mampu menguasainya,� sambungnya.

Ahmad berharap gedung baru ini bisa memudahkan kader untuk sarana mendapatkan informasi, tempat silaturrahim dan kegiatan. �Dari bimbel ini lahir kader yang mahir bahasa asing dan komputer, sehingga mampu bersaing di era MEA dan bisa go internasional,� harapnya. (M Zidni Nafi�/Alhafiz K)

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Cerita, Warta, IMNU Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 02 Februari 2018

Kiai Said: Kokohkan Islam Moderat untuk Perdamaian

Jambi, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siroj, menegaskan pentingnya menguatkan nilai-nilai Islam moderat di Indonesia. Pesan ini ditegaskan Kiai Said pada agenda pengajian Haul 3 Kiai Jambi (Syaikh Majid al-Jambi, Kiai Ibrahim Majid, dan Kiai Qadir Ibrahim) di Pesantren Asad di Jambi, Rabu (29/11/2017).

Hadir dalam agenda ini, Pengasuh Pesantren Asad KH Najmi Qadir, Ketua Umum Pagar Nusa M. Nabil Haroen, Wasekjen PBNU H Suwadi D. Pranoto, Bendahara Pagar Nusa, Indrawan Husairi, Ketua NU Care-LAZISNU Syamsul Huda, Gubernur Jambi Zumi Zola, serta sesepuh NU dan pesantren di Jambi.




Kiai Said: Kokohkan Islam Moderat untuk Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Kokohkan Islam Moderat untuk Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Kokohkan Islam Moderat untuk Perdamaian

Dalam ceramahnya, Kiai Said menegaskan pentingnya menyebarkan nilai-nilai Islam Nusantara di ranah internasional dan media sosial. "Islam Nusantara bukan aliran, bukan agama baru, tapi khashaish, mumayyizaat, tipologi. Ini yang harus dipahami secara mendalam," jelas Kiai Said.

Dalam pandangan Kiai Said, penting untuk merawat budaya sebagai pondasi dakwah keislaman. "Islam Nusantara itu Islam yang dibangun dari sendi-sendi budaya. Budaya negeri ini, bukan budaya Arab, tapi budaya Nusantara," terang Pengasuh Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jakarta.

"Saya di Arab tiga belas tahun, pulang membawa empat anak. Tapi yang saya bawa pulang itu ilmu, bukan simbol-simbol budaya. Demikian pula Prof Quraish Shihab, Prof Aqil Munawar, dan Kiai Mustofa Bisri. Semuanya bawa ilmu, tidak ada yang mengimpor budaya Arab ke negeri ini," ungkapnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kiai Said berpesan agar warga muslim negeri ini mencintai tanah air. "Mari kita cintai negeri ini. Mari kita kuatkan Islam dan nasionalisme kita. Nabi Muhammad diperintahkan oleh Allah untuk mengusir orang-orang yang bikin gaduh, bikin rusuh di Madinah," jelasnya.

Lebih lanjut, Kiai Said mendorong pemimpin daerah tegas terhadap pelaku kerusahan, kelompok teroris. "Untuk sekarang, para pemimpin daerah, silakan usir para pengusik dan perusuh bangsa. Usir ideologinya, kalau orangnya silakan masuk NU, silakan masuk Muhammadiyah, masuk Persis, dan ormas Islam moderat lainnya," tegas Kiai Said.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

KH Najmi, pengasuh pesantren Asad Jambi, mengungkapkan pentingnya meneladani kiai-kiai untuk masa depan santri. "Syekh Majid al-Jambi, Kiai Ibrahim Majid, dan Kiai Qadir Ibrahim, merupakan teladan bagi pengembangan keilmuan dan akhlak santri," ungkapnya.

Pesantren Asad Jambi, didirikan oleh Kiai Majid al-Jambi, yang diteruskan oleh Kiai Ibrahim Majid dan Kiai Qadir Ibrahim. Kiai Majid al-Jambi, merupakan penasihat keagamaan Sultan Thaha, Kasultanan Jambi. Pada masa kolonial, Kiai Majid pernah diutus Sultan Jambi ke Kasultanan Ottoman di Turki, untuk melawan pasukan kolonial di Hindia Belanda.

Pada kesempatan ini, Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen, mengkonsolidasi pasukan inti Pagar Nusa di Jambi. "Kalau kita mau keras, itu harus punya keris, seperti pernyataan Kiai Wahab Chasbullah. Pasukan inti Pagar Nusa untuk mengabdi dan mengawal kiai, mengkampanyekan Islam Nusantara," jelas Nabil.

Dalam kesempatan ini, Direktur NU Care-LAZISNU, Syamsul Huda juga menyerahkan bantuan untuk perbaikan infrastrukur pesantren Asad Jambi. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahlussunnah, IMNU Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selasa, 30 Januari 2018

Kiai Said: Dengan Budaya, Islam Kuat

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jauh sebelum Islam datang, masyarakat Nusantara telah memiliki kekayaan budaya dan tradisi. Oleh karena itu, Wali Songo menggunakan strategi lain dalam berdakwah. Pendekatan yang dilakukan adalah berperadaban dengan tradisi yang sudah ada. Sehingga Islam yg dibawa Wali Songo bisa menyatu dengan budaya.

Hal tersebut dikatakan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat didaulat berpidato pada acara �Sholawat dan Tahlil untuk Bangsa� yang digelar bersamaan peluncuran Majelis �Pecinta Sholawat Nusantara� (Pesona) di Graha Gus Dur DPP PKB, Jalan Raden Saleh, Jakarta, Selasa (23/6/2015) malam.

�Lalu bagaimana Wali Songo berdakwah, yakni berangsur-angsur (al-Tadrij). Islam disebarkan tanpa menyakiti siapapun. Tidak pernah mengancam, apalagi mengintimidasi. Jadi, sweeping itu nomor terakhir,� ujar Kiai Said.




Kiai Said: Dengan Budaya, Islam Kuat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Dengan Budaya, Islam Kuat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Dengan Budaya, Islam Kuat

Bahkan, lanjut Kiai Said, Wali Songo tetap menjaga hubungan baik dengan tetua adat. Para wali dalam dakwahnya memperkecil perintah yang membebani, meminimalisir kewajiban (taqlilut-takaalif).

Menurut Kiai Said, para pendakwah masa kini menggunakan Islam Nusantara dalam rangka mempertahankan tradisi yang sudah ada. �Kenapa pakai Islam Nusantara? Karena kita ingin mempertahankan Islam Aswaja dan budaya yang sudah kita warisi dari nenek moyang kita,� tegasnya.

Islam Nusantara, lanjut dia, merupakan Islam yang sudah menyatu dengan budaya, yang sudah melebur dengan tradisi. �Dengan Islam, budaya menjadi ramah. Dengan budaya, Islam menjadi kuat,� tandas Kiai Said.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Doktor jebolan Universitas Ummul Quro Mekah ini mengingatkan, waktu itu Hadratusy Syaikh Muhammad Hasyim Asy�ari tak henti-hentinya mengingatkan kepada putranya, Kiai Abdul Wahid Hasyim, agar tidak mempertentangkan antara Islam dan kebangsaan. �Kedua hal penting itu jangan dipertentangkan,� ujarnya menirukan Mbah Hasyim.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kiai Said menyatakan keteguhan ormas yang dipimpinnya, yakni NU, dalam mengajarkan akidah Islam yang bertumpu pada tradisi lokal. Karena itu, Ia menegaskan bahwa pada Muktamar ke-33 NU yang akan dihelat di Jombang 1-5 Agustus mendatang mengusung tema yang menitikberatkan pada nilai-nilai Islam Nusantara.

�Karena itu, pada Muktamar NU yang akan datang, untuk pertama kalinya dilaksanakan di Jombang, mempunyai tema Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia,� tuturnya disambut aplaus ribuan warga Nahdliyin yang hadir.

Tema tersebut, tambah Kiai Said, menjadi bukti komitmen NU sebagai organisasi keagamaan yang menjadi pilar peradaban Islam yang bertumpu pada kearifan lokal. Hanya saja, Kiai Said menyayangkan masih banyak masyarakat bahkan para kiai NU yang belum memahami betul yang dimaksud Islam Nusantara.

Selain Ketua Dewan Syura PKB KH Abdul Aziz Mansyur, Hadir dalam acara tersebut para ulama NU dan pengasuh pesantren, antara lain KH Kholil Asad Syamsul Arifin (Situbondo), KH Munif Zuhri (Girikusumo, Demak), Rais Syuriah PWNU Jawa Timur KH Miftahul Akhyar, KH Yusuf Chudlori (Magelang), dan Mustasyar PBNU Tuan Guru Haji Turmudzi Badruddin. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah IMNU, Pahlawan, AlaNu Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Minggu, 28 Januari 2018

Jelang Perdagangan Bebas, HIPSI Jatim Sinergikan Potensi Santri

Jombang, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Jawa Timur mengingatkan anggotanya akan tantangan ke depan khususnya menjeleng perdagangan bebas kelak. Banjirnya produk luar negeri dan tenaga kerja asing ke Tanah Air hanya dapat ditangani dengan penguatan jaringan pengusaha santri.




Jelang Perdagangan Bebas, HIPSI Jatim Sinergikan Potensi Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Perdagangan Bebas, HIPSI Jatim Sinergikan Potensi Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Perdagangan Bebas, HIPSI Jatim Sinergikan Potensi Santri

Demikian disampaikan Ketua HIPSI Jatim Sulayman yang akrab disapa Pak Leman dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) sekaligus silaturahim dan pelatihan Informasi dan Teknologi di Pondok Pesantren Al-Ilahiyah Ngoro Jombang, Jawa Timur, Sabtu (30/11).

Pak Leman yang juga pengusaha kertas bekas di Jombang ini mengingatkan tantangan berat itu dapat dilawan dengan mempererat tali silaturahmi dan kelengkapan struktur organisasi HIPSI di setiap kota dan kabupaten.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sejumlah kepengurusan di tingkat pusat dan wilayah harus juga diimbangi dengan kelengkapan kepengurusan di level kecamatan hingga desa. Karena, bila hal itu dapat dilakukan, maka ketersediaan barang dan jasa dari sejumlah pengusaha santri dapat disinergikan dan didistribusikan hingga level paling bawah, lanjutnya.

Senada dengan Leman, Ketua Umum HIPSI Muhammad Ghozali yang hadir pada kegiatan itu juga mengingatkan pentingnya sinergi sejumlah potensi ekonomi para santri yang sebenarnya berpotensi sangat besar.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

�Kita prihatin karena negeri ini hanya dikuasai orang kaya yang tidak berlatar belakang santri,� katanya saat memaparkan hasil survey sebuah majalah yang menampilkan sejumlah orang kaya di Tanah Air.

Tampilnya pengusaha kaya dari kalangan nonsantri dan bukan warga negara kita mengindikasikan bahwa pemilik negeri ini adalah ternyata orang lain, ungkapnya.

Dengan sejumlah fakta itu, ia mengajak para pengurus untuk terus bergerak mengisi kesempatan untuk bakti kepada bangsa dan masyarakat. Kalau saya mengibaratkan, kita adalah setetes air mata. Bila diakumulasikan, maka akan menjadi lautan samudera, terangnya.

Dengan visi menciptakan satu juta santri pengusaha di tahun 2022 kelak, HIPSI akan terus bergerak dalam upaya melengkapi kepengurusan di berbagai kawasan. Kita optimis akan lahir pengusaha besar nasional dari kalangan santri, imbuhnya.

Di HIPSI ada jabatan ketua, sekretaris, wakil sekretaris, bendahara, dan ketua bidang. Sedangkan kepengurusan dibedakan dengan tugas organisasi dan pengkaderan, pendidikan wirausaha dan pembinaan usaha pemula, usaha, koperasi dan UKM, bidang IT, publikasi dan media, industri kreatif dan seni, kerjasama luar.

Ada juga hubungan pesantren dan sosial kemasyarakatan, perdagangan dan perindustrian, pertanian serta peternakan, properti dan konstruksi, dan pemberdayaan wanita. ? Kami juga memiliki bidang koordinator kampus, serta penelitian dan pengembangan, lanjut Ghazali. (Syaifullah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pertandingan, IMNU Pimpinan Pusat Muhammadiyah

STAINU Jakarta Gelar Wisuda III

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menggelar Wisuda III. Kali ini acara wisuda digelar di Gedung Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur.

�Wisuda bukan berarti proses belajar itu berhenti, ini langkah awal dalam mempertanggungjawabkan keilmuan kita sebagai seorang sarjana di masyarakat,� ujar Ketua STAINU Jakarta, HM Mujib Qulyubi, MH dalam sambutannya di Gedung Sasono Langen Budoyo, TMII, Jakarta, Rabu (7/5).

Sebuah lembaga pendidikan, kata Mujib menyitir Pakar Pendidikan NU, Prof Dr KH M Tolhah Hasan, mengalami tiga transformasi, yang pertama adalah tahap bertahan, kedua yaitu tahap berkembang, dan yang ketiga ialah tahap bersaing. STAINU Jakarta, lanjut Mujib, telah melalui ketiga tahap tersebut dengan baik.




STAINU Jakarta Gelar Wisuda III (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Jakarta Gelar Wisuda III (Sumber Gambar : Nu Online)

STAINU Jakarta Gelar Wisuda III

Sementara itu, H Abdul Wahid Hasyim, Wakil Koordinator Kopertais Wilayah I DKI Jakarta menuturkan bahwa STAINU Jakarta telah berkontribusi nyata untuk masyarakat dalam mencetak lulusan-lulusannya. �Oleh karena itu, STAINU Jakarta harus terus membangun sumber daya yang berkualitas, produktif, dan berdaya saing,� ujarnya.

Untuk dapat melakukan itu, lanjut Hasyim, STAINU Jakarta juga harus senantiasa meningkatkan kualitas Dosen-dosennya, sebab merekalah pencetak lulusan berkualitas. �Untuk wisudawan dan wisudawati, masyarakat menunggu kiprah kalian, selamat bekerja,� pungkas Hasyim.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sementara itu, Menteri Perumahan Rakyat RI H Djan Faridz dalam kertas sambutan yang dibawakan oleh asistennya Dr Muhammad Dimyati mengingatkan, dalam tahap bersaing ini, STAINU Jakarta dapat menerapkan strategi yang disebut Diamond In Diamond Out (DIDO) yaitu masuknya emas, keluarnya harus berlian. �Artinya, STAINU Jakarta harus membangun dan memperkuat,� ungkapnya.

Pada wisuda kali ini, STAINU Jakarta telah meluluskan sebanyak 222 wisudawan dan wisudawati. Wisuda kali ini juga dihadiri oleh Sekjen PBNU H Marsudi Suhud, Pengasuh Pondok Pesantren Asshidiqiyah Dr KH Nur Muhammas Iskandar SQ, Anggota DPR RI yang juga Dosen STAINU Jakarta, H Djazilul Fawaid, serta orasi ilmiah oleh Direktur Kelembagaan dan Kerjasama Kemendikbud RI Prof Ir H Hermawan Kresno Dipojono, Ph.D. (Fathoni/Mahbib)

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sejarah, IMNU, Lomba Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Pages

Archive

Diberdayakan oleh Blogger.