Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Maret 2018

Ketua UKP PPI: Pangkal dari Intoleransi adalah Kemiskinan

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ketua Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) menegaskan, sumber dari sikap tidak toleran adalah kemiskinan. Baginya, bukan hanya kemiskinan dalam hal materi, tetapi juga miskin dalam segala hal seperti miskin pemahaman agama, pengetahuan, dan miskin mental.

�Pangkal dari intoleransi adalah poverty (kemiskinan). Bukan hanya poverty material, tetapi semua aspek seperti pemahaman agama, pengetahuan, dan lainnya,� kata Yudi Latif saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional dengan tema Challenges to Religious Pluralism and Tolerance di Ruang Teater Gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Jakarta, Rabu (14/6).

Lebih lanjut, penulis buku Negara Paripurna itu menyebutkan Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan tingkat keberagaman yang tinggi. Mulai dari ras, etnik, budaya, dan hirarki sosial.?




Ketua UKP PPI: Pangkal dari Intoleransi adalah Kemiskinan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua UKP PPI: Pangkal dari Intoleransi adalah Kemiskinan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua UKP PPI: Pangkal dari Intoleransi adalah Kemiskinan

�Lalu bagaimana kita me-manage ini?,� tanya Yudi untuk merangsang peserta.

Ia menjelaskan, harus ada kesepakatan bersama untuk mengelola keberagaman yang ada. Dalam hal ini, Indonesia memiliki Pancasila sebagai pemersatu.

Lebih jauh, Yudi menerangkan, ketuhanan dalam sila pertama dalam Pancasila bukan lah berbentuk kata benda, melainkan kata sifat. Bung Karno menekankan, sila pertama ini sebagai ketuhanan yang beradab.?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

�Kedua, Bung Karno mengatakan bahwa nasionality kita adalah humanity, bukan nasionality yang tertutup,� ungkapnya.

Adapun sila ketiga, ungkap Yudi, warga Negara Indonesia sadar bahwa mereka berbeda, tetapi mereka mencari persamaan yang ada. �Katau sodara berasal dari satu udara. Selama kita menghirup udara yang sama, maka kita saudara,� tuturnya.

Sila keempat, imbuh Yudi, bermakna bahwa setiap warga Negara Indonesia memiliki hak yang sama dalam bermusyawarah. Mereka tidak dipertanyakan siapa, dari mana, apa agama mereka. Tetapi dalam bermusyawarah perwakilan yang dilihat adalah apa arugumen mereka.

�Dan terakhir adalah keadilan sosial,� lanjutnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Yudi mengatakan, inti dari dari kelima sila tersebut adalah semangat gotong royong sebagaimana yang dituturkan Bung Karno.?

�Gotong royong ini kalau dalam masyarakat Sunda silih asih (saling mengasihi), silih asuh (saling membimbing), dan silih asah (saling mengingatkan). Kalau Jawa ada istilah wewayu hayuning bawana (memperindah keindahan dunia). Kalau di Islam, rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam). Kalau di Kristen ada ajaran kasih dan lainnya,� pungkasnya. (Muchlishon Rochmat/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Aswaja, Bahtsul Masail, Sholawat Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 16 Februari 2018

Supardi Siap Majukan GP Ansor Sulut

Kotamobagu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Jelang Konferensi wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Utara yang akan digelar Rabu (23/12) mendatang, beberapa kandidat mulai mencalonkan diri sebagai Ketua PW Ansor. Salah satunya Supardi Bado, kader Ansor yang diusung melalui rapat Pimpinan Cabang Kotamobagu. ?




Supardi Siap Majukan GP Ansor Sulut (Sumber Gambar : Nu Online)
Supardi Siap Majukan GP Ansor Sulut (Sumber Gambar : Nu Online)

Supardi Siap Majukan GP Ansor Sulut

Menurut Supardi Bado, sikapnya untuk maju tergerak karena keinginannya untuk menjadikan Ansor sebagai barisan terdepan mengawal kerukunan antarumat beragama yang selama ini terjaga di daerah Sulawesi Utara.

?

�Dengan dukungan dari beberapa cabang menjadi modal utama. Karena Sahabat-sahabat mendorong saya untuk maju adalah bentuk kepercayaan, maka insyaallah saya siap,� kata mantan Ketua Bidang Advokasi Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Manado periode 2003-2005. ?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pemimpin Redaksi Media Totabuan ini berjanji akan melanjutkan apa yang sudah dilakukan Benny Rhamdani. Berkat kepemimpinannya, GP Ansor Sulawesi Utara eksis dan maju.

Kesiapan untuk mendukung Supardi Bado bertarung sebagai calon ketua dalam Konferwil Sulawesi Utara pun ditunjukkan pengurus PC Ansor Kotamobagu, Hamri Mokoagow.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

�Sahabat Supardi Bado sangat layak memimpin GP Ansor Sulut kedepan. Kami siap mengawal, dan agenda PC Ansor Kotamobagu untuk memenangkan beliau, akan kami maksimalkan,� ujar Hamri. (Udi Masloman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sholawat, Ulama, Sunnah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 05 Februari 2018

Alex Komang: NU harus Jadi Pelaku Film

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Lesbumi lahir tanggal 28 Maret tahun 1962, saat pergumulan ideologi bersaing keras antara sosialime realis dan humanisme universal. Di sisi lain, budaya-budaya asing yang disebarkan film Amerika melalui AMPAI (semacam Twenty One sekarang) juga dipasarkan secara bebas.

Menurut Wakil Ketua Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Alex Komang, keadaan demikian persis dengan sekarang, �Persoalan yang dihadapi sekarang, mirip ketika Lesbumi lahir,� ujarnya.




Alex Komang: NU harus Jadi Pelaku Film (Sumber Gambar : Nu Online)
Alex Komang: NU harus Jadi Pelaku Film (Sumber Gambar : Nu Online)

Alex Komang: NU harus Jadi Pelaku Film

Hal itu diungkapkan Alex saat menyampaikan sambutan pada Musyawarah Film Nasional yang diselenggerakan Lesbumi, Kamis (12/4) di gedung PBNU, Jakarta, dengan tema Posisi Indonesia dalam Film Nasional.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Film-film bagus buatan dalam negeri malah tidak mendapatkan tempat di masyarakat. �Film Sang Penari itu bagus. Tapi penontonnya tidak sampai seratus ribu orang. Balik modal saja sudah untung. Ketika diurut-urut, ternyata masalahnya kita tidak punya outlet. Film bagus tidak sampai kepada penontonnya,� paparnya.

�Kita tidak mau melepaskan sajak dari fungsi sosial dan komunikatifnya,� tegas Alex yang juga artis kondang ini, mengutip perkataan Asrul Sani dalam Surat-Surat Kepercayaan Asrul Sani.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut Alex, hal tersebut karena bioskop-bioskop yang ada, hanya sekira 500 layar di seluruh Indonesia. Dan terkonsentrasi di beberapa kota besar. Tentu saja tidak cukup untuk penduduk 230 juta jiwa. Selain itu, karena bioskop itu milik perusahaan-perusahaan asing, mereka memilki kewanangan untuk memutar film sesuai kepentingan mereka.

Lebih lanjut, menurut Alex, NU harus menjadi pelaku perfilaman Indonesia, karena selama ini hanya jadi obyek pasarnya. Padahal film merupakan media yang paling efektif untuk membangun karakter bangsa, sehingga masyarakat bisa menentukan apa yang baik mereka tonton.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Habib, Sholawat Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 01 Februari 2018

Pribumisasi Islam Ala Gus Dur

Oleh M. Husnaini*

Judul Buku: Islamku, Islam Anda dan Islam Kita

Agama Masyarakat Negara Demokrasi




Pribumisasi Islam Ala Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Pribumisasi Islam Ala Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Pribumisasi Islam Ala Gus Dur

Penulis: KH. Abdurrahman Wahid

Penerbit: The Wahid Institute

Tebal: xxxvi + 412 halaman

Cetakan: I, 2006


Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Persoalan yang paling rumit di dalam keberagamaan adalah masalah penafisiran. Kesalahan pada ranah ini akan berakibat fatal karena dapat mendestruksi keseluruhan nilai yang terkandung di dalam agama yang luhur ini. Terorisme dan bunuh diri di antaranya dilatari oleh kesalahan dalam menafsirkan agama tersebut, di samping sebab-sebab lain, seperti globalisasi, kepentingan politik dan ekonomi. Di sinilah, membedah pemikiran Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid ) menjadi sangat urgen untuk mengantarkan kita kepada pemahaman agama (baca: Islam) secara komprehensif.

�Islamku, Islam Anda, dan Islam Kita� adalah sebuah potret pemikiran Gus Dur tentang Islam dalam kaitannya dengan isu-isu mutakhir, seperti nasionalisme, demokrasi pluralisme, Hak Asasi Manusia (HAM), kapitalisme, sosialisme dan globalisasi.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sebagai seorang cendekiawan, Gus Dur merupakan tokoh Muslim yang penuh talenta. Pembahasannya tentang Islam selalu mampu menerobos wilayah-wilayah yang sering tidak terpikirkan oleh para ulama pada umumnya. Dalam konteks ini, Gus Dur ternyata mampu menghadirkan Islam mulai dari masa awal kehadirannya hingga saat ini, dari nuansa tekstual hingga kontekstual, dari aspek struktural hingga kultural.

Seperti pernyataan Dr. M. Syafi�i Anwar, dalam kata pengantarnya, dalam buku ini, benang merah yang sangat penting dari pemikiran Gus Dur adalah penolakannya terhadap formalisasi, ideologisasi, dan syariatisasi Islam. Sebaliknya, Gus Dur melihat kejayaan Islam justru terletak pada kemampuannya untuk berkembang secara kultural. Oleh karena itu, Gus Dur lebih memberikan apresiasi kepada upaya kulturalisasi dibanding upaya ideologisasi. Pemahaman seperti inilah yang menggugah Gus Dur untuk melantangkan pentingnya pribumisasi Islam, terutama dalam konteks keindonesiaan.

Dalam upaya ini, menurut Gus Dur, penafsiran terhadap Islam tidak murni pemahaman atas teks-teks suci belaka, tetapi juga pemahaman terhadap konteks lokalitas keberagaman dan kekinian. Dalam aras ini, varian-varian kebudayaan harus didukung oleh pendekatan tekstual sebagaimana terdapat dalam dasar-dasar fikih dan kaidah-kaidah fikih. Dengan demikian, Islam harus ditafsir sebagai proses partisispatif dan dinamis.

Pendekatan tersebut merupakan salah satu karakter terpenting dari mayoritas Muslim, khususnya kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Dalam Muktamar NU tahun 1935, para ulama telah melahirkan sebuah pandangan keagamaan yang merupakan cikal bakal bagi keindonesiaan, yaitu wajib hukumnya mempertahankan Indonesia yang�pada saat itu�dipimpin oleh orang-orang non-Muslim (Hindia Belanda). Salah satu alasannya, agar ajaran Islam dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari oleh warga negara secara bebas. Selain itu, Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU, terakhir di Surabaya, juga mengeluarkan maklumat bahwa Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bersifat final.

Dalam kaitan ini, Gus Dur sampai pada kesimpulan bahwa wacana negara Islam dan wacana politik Islam yang sejenis merupakan pemahaman yang kurang tepat (hal. 81-84), karena pada dasarnya, Islam hadir bukan untuk membentuk sebuah institusi negara, melainkan untuk mendorong terwujudnya nilai-nilai universal. Atas dasar itulah, NU memandang bahwa solidaritas kemanusiaan menempati urutan teratas baru disusul kemudian solidaritas kebangsaan dan ke-Islam-an.

Dalam buku ini, Gus Dur memberikan tiga kerangka keber-Islam-an yang patut kita apresiasi bersama secara serius dan mendalam, terutama dalam menciptakan Islam yang damai. Pertama, Islamku, yaitu keber-Islam-an yang berlandaskan pada pengalaman pribadi perseorangan. Sebagai sebuah pengalaman, pandangan ke-Islam-an seseorang tidak boleh dipaksakan (harus disamakan) kepada orang lain. Jika itu terjadi, maka akan mengakibatkan munculnya dislokasi pada orang lain yang pada akhirnya dapat �membunuh� keindahan dari pandangannya sendiri.

Kedua, Islam Anda, yaitu keber-Islam-an yang berlandaskan pada keyakinan. Dalam hal ini harus diakui bahwa setiap komunitas mempunyai keyakinan tersendiri terhadap beberapa hal tertentu. Pandangan kalangan NU bisa jadi berbeda dengan pandangan kalangan Muhammadiyah. Demikian pula sebaliknya. Namun perbedaan tersebut jangan sampai dijadikan alasan untuk saling menebar kekerasan di antara satu kelompok terhadap kelompok yang lain. Dengan kata lain, keyakinan kelompok tertentu harus dihormati dan dihargai dengan sepenuh hati.

Ketiga, Islam Kita, yaitu keber-Islam-an yang bercita-cita untuk mengusung kepentingan bersama kaum Muslimin. Dalam buku setebal 412 halaman ini, Gus Dur menekankan pentingnya menerjemahkan konsep kebajikan umum sebagai jembatan untuk mengatasi problem Islamku dan Islam Anda.

Pada umumnya, diskursus ke-Islam-an hanya terhenti pada kedua model tersebut. Oleh karena itu, Gus Dur menawarkan solusi akan pentingnya merajut antara keber-Islam-an yang berbasis pada pengalaman dan keyakinan untuk membangun pemahaman keagamaan yang berorientasi pada perdamaian dan keadilan sosial.

Nah, buku ini dapat mengantarkan kita kepada pemahaman Islam yang berbasis perdamaian, apalagi di tengah ketegangan yang terjadi antara dunia Barat dan dunia Islam saat ini. Konflik intra-agama dan antar-agama, serta konflik yang berbasis kepentingan politik. Karena itu, harapan untuk mengakhiri kekerasan harus senantiasa digaungkan setiap saat. Sebagaimana Gus Dur telah (selalu) �menyenandungkan� keberagamaan yang penuh kedamaian, bukan kekerasan.

*) Penulis adalah Peminat buku, Alumnus Pondok Pesantren Al-Ishlah, Sendangagung Paciran, Lamongan, Jawa Timur, Kontributor Jaringan Islam Kultural.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sholawat, Daerah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Pages

Archive

Diberdayakan oleh Blogger.