Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Februari 2018

15 Pesantren di Madura Akan Berlaga pada LSN Jatim IV

Bangkalan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah - Panitia Liga Santri Nusantara (LSN) 2016 Regional Jatim IV menyelesaikan semua tahapan persiapan liga. Mereka kemudian melangsungkan liga sepakbola antarpesantren ini sejak Ahad, (28/8). Sebanyak 15 pesantren di Madura ini akan bertanding selama sepekan ke depan.

Menurut Koordinator LSN 2016 Regional Jatim IV Ra Sani, pesantren yang berpartisipasi dalam liga ini sejatinya meliputi empat kabupaten di Madura. Namun, hingga batas akhir pendaftaran hanya 15 pesantren di Bangkalan yang bisa berpartisipasi.




15 Pesantren di Madura Akan Berlaga pada LSN Jatim IV (Sumber Gambar : Nu Online)
15 Pesantren di Madura Akan Berlaga pada LSN Jatim IV (Sumber Gambar : Nu Online)

15 Pesantren di Madura Akan Berlaga pada LSN Jatim IV

�LSN 2016 bukan semata-mata adu keterampilan antara pemain yang terlibat, namun lebih dari itu adalah merupakan media untuk menanamkan rasa persaudaraan, silaturahmi, kebersamaan, kejujuran, dan sportifitas,� jelas Ra Sani yang juga Ketua GP Ansor Bangkalan.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sementara Wakil Bupati Bangkalan H Mondir Rofii membuka secara resmi gelaran acara hasil kerja sama Kemenpora dan PBNU ini. Ia berharap dari proses kompetisi ini lahir bibit-bibit sepakbola dari kalangan pesantren.

�Selain melahirkan bibit pesepakbola usia dini, dari gelaran kompetisi ini juga dapat ditanamkan nilai-nilai kejujuran dan sportifitas,� kata Ra Mondir.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Upacara pembukaan LSN Jatim IV berlangsung di alun-alun utara Bangkalan yang ditandai dengan tendangan kehormatan oleh Koordinator Regional. Wakil Bupati, Dandim 0329 Bangkalan, Waka Polrest Bangkalan, PCNU Bangkalan, dan Koordinator Regional ini melakukan penandatanganan komitmen pembinaan sepakbola kalangan pesantren di atas bola masing-masing. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ubudiyah, Pondok Pesantren, Hadits Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 09 Februari 2018

GP Ansor Boyolali Siap Adakan Akreditasi PAC

Boyolali, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Untuk meningkatkan mutu organisasi, Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, tengah mempersiapkan diri untuk melakukan akreditasi ke tingkatan Pimpinan Anak Cabang (PAC) hingga ranting.

Menurut Kasatkorcab Banser Boyolali, Abdullah, akreditasi ini merupakan program lanjutan dari tingkatan atas.




GP Ansor Boyolali Siap Adakan Akreditasi PAC (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Boyolali Siap Adakan Akreditasi PAC (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Boyolali Siap Adakan Akreditasi PAC

�Kalau di tahun 2016, akreditasi sebatas tingkatan PC, tahun 2017 ini sudah sampai tingkatan PAC,� jelas Abdullah saat dihubungi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jumat (6/1).

Lebih lanjut dipaparkan Abdullah, dari sekian PAC yang diakreditasi, nantinya akan dipilih 1 PAC terbaik untuk diajukan ke tingkatan Pimpinan Wilayah (PW) GP Ansor Jawa Tengah.

Adapun penilaian akreditasi meliputi beberapa aspek, yakni bidaing administrasi, kebanseran, Rijalul Ansor, ekonomi dan kaderisasi.?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

�Banyaknya jumlah anggota belum tentu menjadi penentu yang terbaik, sebab mesti ada kriteria pemerataan anggota dan rutinitas kegiatan,� paparnya.

Sementara itu, di bidang ekonomi, PAC yang akan diakreditasi memiliki usaha yang dapat mensejahterakan anggotanya. �Misal memiliki koperasi atau produksi lainnya,� jelas dia.?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dengan adanya program akreditasi ini, diharapkan para pengurus PAC juga dapat berbenah, untuk menghidupkan kepengurusan ranting-ranting yang ada di bawahnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ubudiyah, Aswaja, Sejarah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selasa, 30 Januari 2018

Mahasiswa yang Lulus Seleksi akan Diberangkatkan Setelah Lebaran

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Para calon mahasiswa Indonesia yang mengikuti program strata satu (S-1) pada International University of Africa, Sudan, dan telah lulus seleksi yang diadakan selasa (3/10) lalu akan diberangkatkan setelah lebaran Idul Fitri. Perkuliahan baru dimulai awal November 2006 nanti.

�Kami sangat bahagia dengan kerjasama ini. Kami berharap ini menjadi langkah yang baik untuk mempererat hubungan antara Kudutaan Sudan dengan ormas-ormas Islam di Indonesia,� kata Sekretaris Dua Bidang Kerjasama Kebudayaan dan Informasi Kedutaan Besar Sudan El Rayh A. El Mahdi kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah di kantor Kedubes Sudan, Jakarta, Kamis (5/10).

Dikatakan El Rayh, program pertukaran mahasiswa itu diharapkan dapat menghasilkan perkembangan yang baik dalam kerangka hubungan antara bangsa-bangsa Islam.




Mahasiswa yang Lulus Seleksi akan Diberangkatkan Setelah Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa yang Lulus Seleksi akan Diberangkatkan Setelah Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa yang Lulus Seleksi akan Diberangkatkan Setelah Lebaran

5 dari 30 mahasiswa yang dikirim ke Sudan merupakan perwakilan dari organisasi Nahdlatul Ulama (NU), yakni Muhibbul Jamil (jember), Abdussalam (Cirebon), Karimullah (Jakarta Timur), Aang Mudhi Gozali (Tasik Malaya) yang kesemuanya memilih fakultas syariah, dan Ulfiyatul Abidah (Jakarta Barat) pada fakultas tarbiyah.

�5 Kader NU ini sedianya dipersiapkan untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari para syekh di sana, terutama ilmu-ilmu yang tidak dipelajari di sini. Diharapkan tidak hanya sampai S-1 tapi sampai S-3 dengan hasil yang baik,� kata HM. Dawam Sukardi Koordinator Pelaksana Biro Urusan Beasiswa Timur Tengah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Selain bebas biaya kuliah para calon mahasiswa dari Indonesia mendapatkan fasilitas berupa asrama, makan-minum dan kebutuhan sehari-hari, buku-buku kuliah. Pada hari-hari liburan para mahasiswa yang memenuhi standar penilaian akan mendapatkan bonus uang saku.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Saat ini para calon mahasiswa sedang menyelesaikan persyaratan teknis seperti pemeriksaan kesehatan, pengurusan paspor dan visa serta penandatanganan perjanjian atau kontrak belajar.

�Ada persyaratan yang sangat baik dan harus ditandatangani oleh para mahasiswa dari Indonesia, yakni para mahasiswa tidak boleh tinggal bersama dalam satu asrama dengan rekan senegaranya. Ini penting agar mereka dapat mengenal banyak budaya dari negara-negara Islam yang lain. Kalau ingin berorganisasi ya di luar asrama,� kata Dawam. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Cerita, Ubudiyah, AlaNu Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 27 Januari 2018

Penjaga Cahaya Religiusitas di Ibukota Jakarta

Jakarta sebagai ibukota Indonesia identik dengan kehidupan metropolitan yang gemerlap dan hedonis. Tetapi cahaya pendidikan keagamaan masih bersinar di beberapa tempat, salah satunya di Pesantren Assidiqiyah Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Pesantren ini juga masih mempertahankan beberapa tradisi pengajian salaf, disamping pengajaran dari kurikulum resmi pemerintah.

Pada awalnya, Kiai Nur Iskandar sendiri agak ragu ketika pertama kali ingin mendirikan pesantren di lokasi tersebut. Awalnya, sebagai santri Pesantren Lirboyo, ia diminta oleh KH Mahrus Ali, pengasuh Lirboyo untuk mendirikan pesantren di Jakarta, tetapi ia belum berani memutuskan. Bahkan ketika ada seseorang yang berniat memberi tanah wakaf, ia pun masih ragu. Isyarat datang ketika berangkat haji ke Makkah, ia diminta oleh seorang asing untuk mengaji. Awalnya Kiai Nur menolak karena merasa masih muda padahal disitu ada beberapa kiai senior seperti KH As�ad Syamsul Arifin, KH Subakir, dan Kiai Muhtar Syafaat. Oleh beberapa kiai tersebut, permintaan orang asing tersebut dimaknai sebagai perintah untuk mendirikan pesantren.




Penjaga Cahaya Religiusitas di Ibukota Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Penjaga Cahaya Religiusitas di Ibukota Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Penjaga Cahaya Religiusitas di Ibukota Jakarta

Setibanyak di Jakarta, langsung saja, tanah wakaf tersebut di terima dan dibangun masjid. Tahun 1985 resmi dibuka pesantren. Dari satu-dua santri, akhirnya pesantrennya terus berkembang sehingga tanah di sekitar masjid tersebut dibeli untuk perluasan pesantren. Bukan hanya di Kebun Jeruk saja, bahkan kini Assidiqiyah sudah memiliki cabang di delapan lokasi di seluruh Indonesia seperti di Batu Ceper, Puncak Cianjur, Palembang, Lampung, dan lainnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Muhammad Riza Azizi, pengasuh pesantren Assidiqiyah di kawasan Puncak Cianjur yang ditemui di Assidiqiyah Kebun Jeruk menjelaskan, beberapa tradisi pesantren salaf masih dipertahankan seperti ngaji sorogan. Beberapa kitab kuning juga masih diajarkan seperti Jurumiyah, Imriti, Tafsir Jalalain, Taklimul Mutaallin, dan beberapa lainnya.

Para santri memiliki jadual yang sangat padat. Dari papan pengumuman yang dipasang di salah satu area pesantren, pada jam 03.30 santri sudah harus bangun untuk shalat tahajjud dan istighotsah. Setelah shalat Subuh, jadual pelajaran bahasa Arab atau Inggris sudah menunggu dalam bentuk small group atau pelajaran di kelas. Sekolah formal berlangsung sampai 12.30 dan pada pukul 16.00-17.30 santri harus mengikuti Madrasah Diniyah. Malam hari, mereka masih harus belajar Al-Qur�an, Tafsir Jalalain, dan belajar mandiri. Baru pukul 22.00 mereka bisa istirahat.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Di Assidiqiyah Kebon Jeruk, jumlah santri sekitar 800 yang belajar di tingkat SMP, Aliyah dan Ma�had Ali. Selain adanya kajian agama yang lengkap, menurut Riza Azizi, biaya yang murah juga menjadi faktor wali santri mengirimkan anaknya ke pesantren ini. Dalam satu bulan, orang tua hanya perlu membayar 900 ribu yang sudah meliputi biaya makan tiga kali, sekolah dan fasilitas asrama dengan ranjang tidur. Untuk ukuran Jakarta, biaya tersebut cukup murah, apalagi jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah swasta yang bayarannya saja bisa diatas satu juta.

Jika digabungkan dengan cabang-cabangnya, jumlah total santri lebih dari 3.000. Kebijakan kurikulum masing-masing pesantren ada yang terstandarisasi dari pusat seperti pembelajaran Qur�an dengan metode Yambu�a sedangkan hal lainnya, masing-masing cabang diizinkan melakukan inovasi karena masing-masing kondisinya berbeda, baik kemampuan masyarakat maupun tenaga pengajarnya.

Sementara itu, para santri berasal dari jaringan alumni dan ketokohan pengaruh pesantren, khususnya Kiai Nur Iskandar yang sudah berkiprah di dunia dakwah lebih dari 30 tahun. Beberapa alumni juga menjadi dai populer seperti Ustadz Solmet, Ustadz Fikri Haikal, Ustadz Anwar Pandeglang dan lainnya. Mereka turut mempromosikan pesantren Assidiqiyah ke masyarakat. Keberadaan para alumni yang menjadi dai tersebut menunjukkan apa yang diajarkan di pesantren ini bisa diteruskan ke masyarakat melalui para alumni. Juga mengharumkan nama pesantren atas keberhasilannya dalam mendidik mereka.

Mengingat biaya operasional yang mahal, pesantren memiliki sejumlah unit usaha seperti SQ Mart dengan motto �Dari santri, oleh santri, untuk santri.� Keuntungan dari unit usaha ini kembali ke kas pesantren untuk kebutuhan sehari-hari.

Program Ma�had Ali merupakan program tiga tahun yang setara dengan D3. Pesantren mendorong mereka untuk melanjutkan ke S1 karena juga sudah ada STAI di Karawang. Para mahasantri bisa mengkonversi kuliahnya dan tinggal menambah satu tahun untuk menambah kekurangan mata kuliah dan menulis skripsi.

Untuk pelajar SMP-Aliyah, mereka juga memiliki beberapa kegiatan seperti drumband, tata bonga, hadrah dan marawis.

Ditengah persaingan ketat berbagai lembaga pendidikan, pesantren Assidiqiyah terus mampu menjaga eksistensinya, menjaga cahaya religiusitas di ibukota Jakarta. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ubudiyah, Nahdlatul, Pahlawan Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Pages

Archive

Diberdayakan oleh Blogger.