Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Kader IPPNU Korban Bom Kampung Melayu Masih Dirawat di RS

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Teror bom di Terminal Kampung Melayu, Jakarta timur, Rabu malam (24/5) lalu menyebabkan tiga anggota polisi meninggal dunia dan 6 polisi luka-luka. Selain itu juga terdapat 5 warga sipil menjadi korban luka, salah satunya Susi Afitriyani yang merupakan aktivis Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Brebes.

Korban yang akrab disapa Pipit adalah warga Desa Karangsembung, Kecamatan Songgom, Brebes, Jawa Tengah. Pipit merupakan mahasiswi yang tengah menimba ilmu di Universitas Azzahra Jakarta. Hingga kini ia masih menjalani perawatan intensif di RS Budhi Asih Kramatjati, Kota Jakarta Timur.




Kader IPPNU Korban Bom Kampung Melayu Masih Dirawat di RS (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader IPPNU Korban Bom Kampung Melayu Masih Dirawat di RS (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader IPPNU Korban Bom Kampung Melayu Masih Dirawat di RS

Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Puti Hasni beserta rombongannya membesuk Susi Afitriyani di rumah sakit itu, Sabtu (27/5). Puti didampingi Bendahara Umum Ainun Nikmah melihat secara langsung kondisi korban.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Korban merupakan kader IPPNU asal Brebes yang pernah menjabat sebagai ketua komisariat MTs, ketua ranting , dan sempat menjadi pengurus Pimpinan Cabang IPPNU Brebes," jelas Ainun saat ditemui usai menjenguk korban.

Menurut Ain, sapaan akrab Bendahara Umum PP IPPNU itu, Pipit mengalami patah tulang di lengan bagian kiri karena hempasan ledakan. Korban mendapat jahitan di punggung karena luka serpihan dan luka-luka di kaki. "Korban terkena ledakan pertama.? Lalu berlari ke polisi untuk minta pertolongan sebelum adanya ledakan kedua," tutur Ain

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selain itu Puti juga menyampaikan bela sungkawa dan memberikan semangat untuk Pipit dan keluarganya.

"Saya mengutuk keras peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di Kampung Melayu beberapa hari yang lalu. Apa pun motifnya, teror tidak sesuai dengan ajaran agama mana pun," kata Puti usai menjenguk Pipit.

�IPPNU mendesak polisi dan aparat hukum mengusut tuntas sampai ke akar-akarnya. Menyampaikan duka cita mendalam kepada para korban," ujarnya

Puti juga mengajak semua elemen masyarakat turut waspada sedini mungkin terhadap potensi terorisme di lingkungan masing-masing. Ia juga meminta pemerintah semakin aktif menggencarkan pendekatan lembut dalam menangkal radikalisme dan ekstremisme dengan melibatkan tokoh-tokoh masyarakat.

Mengenai hal tersebut, Puti menginstruksikan kepada seluruh jajaran pengurus dan kader IPPNU di mana pun berada agar selalu mendakwahkan Islam Rahmatan lil aalamiin, mengajak semua masyarakat untuk selalu merawat kebinekaan, dan menghormati setiap perbedaan, serta berkampanye perdamaian tanpa lelah. (Anty Husnawati/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nahdlatul, Sejarah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 22 Februari 2018

Habib Luthfi: Warga Tarekat Harus Jadi Teladan dalam Menjaga Keutuhan NKRI

Pekalongan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Rais Aam Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlith Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya meminta kepada warga pengamal ajaran tarekat untuk menjadi teladan di tengah masyarakat dalam menjaga kerukunan dan keutuhan bangsaa Indonesia dengan mencontoh perilaku para ulama terdahulu yang ikut serta mendirikan Negara Kesatuan Republik Indinesia (NKRI).




Habib Luthfi: Warga Tarekat Harus Jadi Teladan dalam Menjaga Keutuhan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi: Warga Tarekat Harus Jadi Teladan dalam Menjaga Keutuhan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi: Warga Tarekat Harus Jadi Teladan dalam Menjaga Keutuhan NKRI

Keterlibatan para ulama yang turut berupaya keras mendirikan NKRI yang di dalamnya mengandung berbagai keragaman mulai dari suku, bangsa, bahasa dan agama merupakan perwujudan rasa syukur mereka kepada Allah SWT.

�Dengan menyepakati NKRI para ulama kita telah membuang jauh-jauh rasa dengki, iri dan sifat-sifat tidak terpuji lainnya. Atas perilaku mulia mereka itu kemerdekaan Indonesia bisa terwujud, � ujar Habib Luthfi saat Khotbah Iftitah (pidato pembukaan) Muktamar ke-12 JATMAN yang berlangsung di pendopo Kabupaten Pekalongan, Senin (15/1).

Dengan demikian lanjutnya, warga tarekat yang dalam kehidupan sehari-harinya mendapatkan bimbingan dari para mursyid dan pimpinan Jatman hendaknya selalu terpanggil jiwaraganya untuk mempertahankan NKRI sebagai wujud syukurnya kedapada Allah SWT.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dia berharap warga tarekat yang memiliki potensi besar dalam membangun sebuah gerakan bakal dilirik oleh kekuatan-kekuatan politik yang saat ini tengah berkompetisi untuk memobilisasi dukungan suara di pentas demokrasi.

Namun, dia menambahkan kepada semuanya diingatkan gerakan tarekat di bawah Jatman bukan gerakan politik, karena Jatman bukan lembaga politik dan wahana untuk berpolitik. Politik Jatman adalah politik kebangsaan yang tak lain menjaga keutuhan NKRI.

Menurutnya, dalam meneladani perilaku mulia ulama terdahulu, warga tarekat tidak menghadapi kesulitan, karena setiap saat sudah terlatih bagaimana menyikapi berbagai perbedaan. Munculnya perbedaan cara mengamalkan ajaran tarekat oleh para mursyid kepada muridnya tidak sampai memunculkan gejolak.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

�Karena warga tarekat di Indonesia yang terhimpun dalam Jatman meyakini ajaran-ajaran tarekat yang ada memiliki hubungan atau kesinambungan yang jelas. Jika dilacak sumbernya, sama-sama dari ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW,� tutur Habib Luthfi.

Kegiatan Muktamar XII Jatman yang berlangsung hingga Kamis Mendatang membahas berbagai persoalan organisasi dan ekonomi keummatan yang terbagai dalam 7 komisi, antara lain Komisi Majelis Ifta� , Komisi Organisasi, Komisi Program, Komisi Rekomendasi, Komisi Ekonomi , Komisi Muslimat dan Komisi Mahasiswa Ahlith Thariqah An Nahdliyyah (MATAN). (Abdul Muiz/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sejarah, Daerah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 09 Februari 2018

GP Ansor Boyolali Siap Adakan Akreditasi PAC

Boyolali, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Untuk meningkatkan mutu organisasi, Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, tengah mempersiapkan diri untuk melakukan akreditasi ke tingkatan Pimpinan Anak Cabang (PAC) hingga ranting.

Menurut Kasatkorcab Banser Boyolali, Abdullah, akreditasi ini merupakan program lanjutan dari tingkatan atas.




GP Ansor Boyolali Siap Adakan Akreditasi PAC (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Boyolali Siap Adakan Akreditasi PAC (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Boyolali Siap Adakan Akreditasi PAC

�Kalau di tahun 2016, akreditasi sebatas tingkatan PC, tahun 2017 ini sudah sampai tingkatan PAC,� jelas Abdullah saat dihubungi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jumat (6/1).

Lebih lanjut dipaparkan Abdullah, dari sekian PAC yang diakreditasi, nantinya akan dipilih 1 PAC terbaik untuk diajukan ke tingkatan Pimpinan Wilayah (PW) GP Ansor Jawa Tengah.

Adapun penilaian akreditasi meliputi beberapa aspek, yakni bidaing administrasi, kebanseran, Rijalul Ansor, ekonomi dan kaderisasi.?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

�Banyaknya jumlah anggota belum tentu menjadi penentu yang terbaik, sebab mesti ada kriteria pemerataan anggota dan rutinitas kegiatan,� paparnya.

Sementara itu, di bidang ekonomi, PAC yang akan diakreditasi memiliki usaha yang dapat mensejahterakan anggotanya. �Misal memiliki koperasi atau produksi lainnya,� jelas dia.?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dengan adanya program akreditasi ini, diharapkan para pengurus PAC juga dapat berbenah, untuk menghidupkan kepengurusan ranting-ranting yang ada di bawahnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ubudiyah, Aswaja, Sejarah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 03 Februari 2018

PCNU Sukoharjo Lantik Lembaga, Lajnah dan Banom

Sukoharjo, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Sukoharjo,, Jawa Tengah, melantik pengurus inti lembaga, lajnah dan badan otonom di Lingkungan NU Sukoharjo. Acara digelar sekaligus untuk dengaan harlah NU ke-85 dan haul KH. Abdurrahman wahid, di gedung Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), Sukoharjo, akhir pekan lalu.

Ketua PC NU Sukoharjo, H. Muhammad Nagib Sutarno dalam sambutannya menjelaskan, amanat konfrensi cabang (Konfercab) dan Musyawarah Kerja (Musker) PC NU Sukoharjo tahun 2010, seluruh lembaga, lajnah dan banom di lingkungan NU Sukoharjo segera melakukan reorganisasi.




PCNU Sukoharjo Lantik Lembaga, Lajnah dan Banom (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Sukoharjo Lantik Lembaga, Lajnah dan Banom (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Sukoharjo Lantik Lembaga, Lajnah dan Banom

�Pengurus inti lembaga, lajnah dan Banom nantinya segera melakukan musyawarah dan koordinasi, untuk melengkapi kepengurusan dan menyusun program kerja. Keberhasilan PCNU ada juga di pundak lembaga dan banomnya. Maka kita harus aktif bekerja. Komunikasinya diperbaikin, jaringanya diperluas,� ujar Sutarno.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Lembaga, Lajnah dan Banom yang dilantik itu antara lain LDNU, Maarif NU, RMI, LPNU, LPPNU, LKKNU, Lakpesdam, LPBHNU, Lesbumi, LWNU, LAZIZNU, LTMI, LPKNU, LFNU, PERGUNU, dan Jamiatul Qurro wal Hufadz.

Sementara itu, Bupati Sukoharjo H. Wardoyo Widjaya mendrong agar NU menguatkan nilai-nilai kemoderatatan sampai warga. Dalam kesempatan itu, dia menyatakan siap bantu NU Sukoharjo, baik secara materi maupun moral.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kelompok musik hadrah dari MWC NU Kartasura, ikut memeriahkan acara ini. Selain tampil dipanggung, mereka juga mengiringi kehadiran penceramah KH Mahyan dari Purwodadi, Jawa Tengah. Ribuan warga Nahdliyin Sukoharjo tumplek blek mendengarkan siraman rohani dari Kiyai nyentrik itu. Sekitar puluk 23.30, acara baru selesai. (ccp)Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sejarah, Santri, RMI NU Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Minggu, 28 Januari 2018

STAINU Jakarta Gelar Wisuda III

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menggelar Wisuda III. Kali ini acara wisuda digelar di Gedung Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur.

�Wisuda bukan berarti proses belajar itu berhenti, ini langkah awal dalam mempertanggungjawabkan keilmuan kita sebagai seorang sarjana di masyarakat,� ujar Ketua STAINU Jakarta, HM Mujib Qulyubi, MH dalam sambutannya di Gedung Sasono Langen Budoyo, TMII, Jakarta, Rabu (7/5).

Sebuah lembaga pendidikan, kata Mujib menyitir Pakar Pendidikan NU, Prof Dr KH M Tolhah Hasan, mengalami tiga transformasi, yang pertama adalah tahap bertahan, kedua yaitu tahap berkembang, dan yang ketiga ialah tahap bersaing. STAINU Jakarta, lanjut Mujib, telah melalui ketiga tahap tersebut dengan baik.




STAINU Jakarta Gelar Wisuda III (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Jakarta Gelar Wisuda III (Sumber Gambar : Nu Online)

STAINU Jakarta Gelar Wisuda III

Sementara itu, H Abdul Wahid Hasyim, Wakil Koordinator Kopertais Wilayah I DKI Jakarta menuturkan bahwa STAINU Jakarta telah berkontribusi nyata untuk masyarakat dalam mencetak lulusan-lulusannya. �Oleh karena itu, STAINU Jakarta harus terus membangun sumber daya yang berkualitas, produktif, dan berdaya saing,� ujarnya.

Untuk dapat melakukan itu, lanjut Hasyim, STAINU Jakarta juga harus senantiasa meningkatkan kualitas Dosen-dosennya, sebab merekalah pencetak lulusan berkualitas. �Untuk wisudawan dan wisudawati, masyarakat menunggu kiprah kalian, selamat bekerja,� pungkas Hasyim.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sementara itu, Menteri Perumahan Rakyat RI H Djan Faridz dalam kertas sambutan yang dibawakan oleh asistennya Dr Muhammad Dimyati mengingatkan, dalam tahap bersaing ini, STAINU Jakarta dapat menerapkan strategi yang disebut Diamond In Diamond Out (DIDO) yaitu masuknya emas, keluarnya harus berlian. �Artinya, STAINU Jakarta harus membangun dan memperkuat,� ungkapnya.

Pada wisuda kali ini, STAINU Jakarta telah meluluskan sebanyak 222 wisudawan dan wisudawati. Wisuda kali ini juga dihadiri oleh Sekjen PBNU H Marsudi Suhud, Pengasuh Pondok Pesantren Asshidiqiyah Dr KH Nur Muhammas Iskandar SQ, Anggota DPR RI yang juga Dosen STAINU Jakarta, H Djazilul Fawaid, serta orasi ilmiah oleh Direktur Kelembagaan dan Kerjasama Kemendikbud RI Prof Ir H Hermawan Kresno Dipojono, Ph.D. (Fathoni/Mahbib)

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sejarah, IMNU, Lomba Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Pages

Archive

Diberdayakan oleh Blogger.