Tampilkan postingan dengan label nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nusantara. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Desember 2018

Tokoh Kh. Tubagus Falak: Penggerak Jihad Melawan Penjajah dan Perintis NU di Bogor

KH. Tubagus Falak: Penggerak Jihad Melawan Penjajah dan Perintis NU di Bogor



 KH. Tubagus Muhammad Falak bin KH Tubagus Abbas adalah seorang kiai kharismatik yang dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan pesantren dan kemudian dikenal luas oleh kalangan masyarakat sebagai pemimpin rohani dalam gerakan sufi sebagai mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah yang mengambil ijazah langsung dari Syekh Abdul Karim Banten.

Beliau adalah tokoh agama yang dikenal pula karena keahliannya dalam ilmu kasyaf yang memiliki kedalaman ilmu agama dan memiliki keluhuran budi pekerti yang secara langsung dirasakan oleh masyarakat luas.

KH Tubagus Muhammad Falak dilahirkan pada tahun 1842 di Sabi, Pandeglang Banten. Sejak kecil beliau mendapatkan pendidikan agama Islam dari orang tuanya. Ayahnya KH. Tubagus Abbas adalah kiai pemimpin pesantren yang hidup dari hasil bertani dan sangat aktif dalam melakukan kegiatan dakwah dan syiar Islam di daerah Pandeglang dan sekitarnya bersama isterinya yaitu Ratu Quraisyn.

Secara garis kuturunan, KH Tubagus Muhammad Falak tidak saja berasal dari keturunan kiai pesantren, tetapi juga keturunan dari keluarga kesultanan Banten melalui ayah beliau, KH Tubagus Abbas. Silsilah keturunan beliau sarnpai kepada salah seorang dari sembilan wali yang memiliki putera bernama Sultan Maulana Hasanuddin Banten yaitu Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati. Kebangsawanan beliau diperkuat pula oleh garis keturunannya dari sang ibu yaitu Ratu Quraisyn yang masih merupakan keturunan Sultan Banten.

Dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga pesantren di Sabi, Pandeglang Banten menjadi awal yang sangat berpengaruh dalam perjalanan hidup beliau. Suasana keagamaan serta bimbingan agama Islam yang diberikan oleh orangtuanya semasa kecil sangat mempengaruhi pembentukan karakter dan semangat KH. Tubagus Muhammad Falak untuk menuntut ilmu pengetahuan agama Islam serta mengamalkan ilmu tersebut demi kepentingan masyarakat luas.

Setelah selesai mempelajari beberapa kitab dalam bidang bahasa, fiqh dan terutama aqidah dari orangtuanya hingga usia 15 tahun, KH. Tubagus Muhammad Falak yang sejak kecil mempelajari Al-Quran dan tergolong cerdas dalam menyerap pengetahuan Islam serta pintar dalam menguasai ilmu beladiri ini pernah memperdalam pengetahuan agamanya di Cirebon dan beberapa ulama banten diantaranya Syekh Abdul Halim Kadu Peusing atas anjuran KH. Tubagus Abbas.

Di usia 15 tahun tepatnya pada tahun 1857, MH. Tubagus Muhammad Falak diberangkatkan oleh orangtuanya ke Mekah untuk menunaikan lbadah haji dan menuntut berbagai bidang ilmu pengetahuan agama di sana. Selama mukim di Mekkah beliau bertempat tinggal bersama salah seorang gurunya yang merupakan ulama besar lndonesia bernama Syekh Abdul Karim Banten sesuai dengan anjuran salah seorang gurunya selama di Banten yaitu Syekh Sohib Kadu Pinang.
Mula-mula KH. Tubagus Muhammad Falak belajar ilmu tafsir Quran dan fiqh kepada Syekh Nawawi Al-Bantany dan Syekh Mansur Al-Madany yang keduanya berasal dari Indonesia. Dalam bidang ilmu Hadist beliau belajar kepada Sayyid Amin Qutbi dan dalam ilmu tasawwuf beliau belajar kepada Sayyid Abdullah Jawawi. Sedangkan dalam ilmu falak beliau belajar kepada seorang ahli ilmu falak bernama Sayyid Affandi Turki.

Khusus dalam ilmu fiqh, beliau belajar kepada Sayyid Ahmad Habasy, dan Sayyid Umar Baarum. Setelah dewasa KH. Tubagus Muhammad Falak memperdalam ilmu hikmat dan ilmu tarekat kepada Syekh Umar Bajened, ulama dari Mekkah dan Syekh Abdul Karim dan Syekh Ahmad Jaha yang keduanya berasal dari Banten.

Di bidang fiqh beliau belajar pula kepada Syekh Abu Zahid dan Syekh Nawawi Al-Falimbany. Di samping nama-nama di atas, selama di Mekkah beliau juga menuntut ilmu di bawah bimbingan ulama-ulama besar lainnya antara lain: Syekh Ali Jabrah Mina, Syekh Abdul Fatah Al-Yamany. Syekh Abdul Rauf Al-Yamany. dan Sayyid Yahya Al-Yamany. Bahkan selama di Indonesia, baik sebelum pergi maupun pada saat kembali dari Mekkah, KH. Tubagus Muhammad Falak berguru dan memperdalam ilmu pengetahuan kepada beberapa ulama besar banten diantaranya Syekh Salman, Syekh Soleh Sonding. dan Syekh Sofyan.

Selama berada di Timur tengah, KH.Tubagas Muhammad Falak berkunjung ke Baghdad Irak dan sempat berguru kepada ulama Mekkah yang sedang berada di Baghdad yaitu Syekh Zaini Dahlan. Di sana beliau pernah berziarah ke makam Syekh Abdul Qodir Jailani. Sedangkan selama berada di Madinah beliau berziarah ke makam Nabi Besar Muhammad SAW. Selama mukim pertama di Mekkah dan Madinah, KH.Tubagus Muhammad Falak seangkatan dengan Syekh Kholil Bangkalan yang pada periode yang sama tepatnya sekitar tahun 1860-an menuntut ilmu di Mekkah.
Setelah periode mukim pertama di Mekkah selama kurang lebih 21 tahun lamanya, KH. Tubagus Muhammad Falak kembali ke Nusantara pada tahun 1878.

Dalam konteks pergerakan kebangsaan melawan penguasa kolonial, dalam salah satu keterangan disebutkan bahwa KH Tubagus Muhammad falak menjadi salah satu kiai Banten yang turut aktif dalam pemberontakan petani banten 1888 yang dimotori oleh para kiai tarekat, diantaranya Syekh Abdul Karim, KH. Asnawi Caringin, KH. Tubagus Wasid dan KH.Tubagus lsmail. Akibat aktifitas politik tersebut beliau menjadi salah seorang yang menjadi sasaran untuk ditangkap oleh Belanda. Periode tersebut bertepatan dengan periode kepulangan beliau dari timur tengah ke Nusantara.

Pada tahun 1892, KH. Tubagus Muhammad Falak kembali ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan kembali memperdalam ilmu di sana hingga menjelang awaI abad ke-20 dan mengalami masa kebersamaan dalam kurun waktu yang sama dengan KH. Hasyim Asy�ari dan KH. Ahmad Dahlan, kedua tokoh agama pendiri dua organisasi besar di Nusantara yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Selama berada di Mekkah dan Madinah pada periode pertama dan kedua, beliau sangat dikenal oleh para ulama baik seangkatan maupun angkatan yang lebih muda khususnya yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara yang sedang menuntut dan memperdalam ilmu di sana.

Kemudian pada awal abad 20 setelah kepulangannya dari Timur Tengah, KH. Tubagus Muhammad Falak memulai aktivitas pendirian pesantren setelah melalui masa perintisan yang cukup panjang baik setelah melalui aktivitas dakwah dan syiar Islam sejak dari Pandeglang hingga ke pelosok-pelosok di daerah bogor dan sekitarnya maupun setelah merintis pengajian di daerah Pagentongan.

Pendirian Pesantren Al-Falak di Pagentongan Bogor oleh KH. Tubagus Muhammad Falak merupakan perwujudan akhlak yang ditunjukan oleh beliau sebagai seorang ulama yang telah mengalami perjalanan intelektual dan spiritual yang panjang di Timur Tengah untuk memberikan pendidikan dan pengajaran kepada masyarakat serta mernberikan penerangan-penerangan bagi umat dalam hal keislaman. begitu banyak kalangan yang datang kepada beliau untuk menjadikan dirinya sebagai guru yang dipandang memiliki kedalaman dan keluasan ilmu pengetahuan agama Islam.

Dan begitu banyak pula para santri yang telah mendapatkan bimbingan beliau menjadi kiai, tokoh agama yang merupakan pendiri dan pemimpin pondok pesantren dan majelis ta`lim serta guru-guru agama Islam yang tersebar di berbagai pelosok di Indonesia dan mancanegara. bahkan banyak pula para santri beliau yang telah menjadi birokrat dan politisi di Indonesia.

Khusus dalam konteks pergerakan, aktifitas KH. Tubagus Muhammad Falak dalam gerakan kebangsaan semakin terlihat mantap ketika beliau semakin banyak berinteraksi dengan para tokoh pergerakan nasional dari berbagai kalangan diantaranya H.O.S Cokroaminoto, Ir. Soekarno, dan berbagai tokoh pergerakan nasional lainnya. kemudian pada masa sebelum dan masa revolusi fisik 1945-1949, KH. Tubagus Muhammad Falak telah tercatat sebagai salah searang ulama besar Indonesia yang menjadi tokoh Spiritual dalam bidang kerohanian di laskar Hizbullah yang pelatihannya berpusat di daerah Cibarusa dan pemimpin spiritual di Bogor yang senantiasa membangkitkan semangat Jihad fii Sabilillah melawan penjajah untuk membela dan mempertahankan republik Indonesia. Pada masa-masa kritis beliau banyak didatangi oleh banyak masyarakat dari kalangan sipil dan militer untuk meminta keberkahan atas karomah yang diyakini di miliki oleh beliau.

Pada tahun 1953, KH Tubagus Muhammad Falak mendirikan Nahdlatul Ulama di Bogor dan pada saat pembentukan dihadiri langsung oleh KH Wahid Hasyim. Adapun salah seorang cucunya yakni KH Soleh Tohor Falak pernah menjadi salah Ketua Tanfidziyah NU Bogor

Adapun gelar falak yang selama hidupnya melekat pada beliau rnerupakan gelar yang diberikan oleh gurunya yang bernama Sayyid Affandi Turki oleh karena kecerdasan dan keahlian beliau dalam menguasai ilmu hisab dan ilmu falak yang diajarkan oleh gurunya tersebut. Beliau yang dikenal di Mekkah dengan sebutan Sayyid Syekh Muhammad Falak ini selama hidupnya memiliki hubungan interaksi yang amat luas dan memiliki kedekatan dengan ulama-ulama besar di dalam dan luar Nusantara yang sebagian besar pernah berkunjung kepada beliau di Pagentongan antara lain: Syekh Abdul Halim Palembang, Syekh Abdul Manan Palembang, Syekh Abdul Qodir Mandailing, Syeikh Ahmad Ambon, Syekh Daud Malaysia, Tuan Guru Zainuddin Lombok, Guru Zaini Ghoni Martapura, Habib Soleh Tanggul Jawa Timur, Habib Umar Alatas, Habib Idrus Pekalongan, Habib Ali Al-Habsy Kwitang, Habib Abu Bakar Kwitang dan para habaib dan kiai dari berbagai daerah lainnya di Nusantara.

Ayahandanya KH. Tubagus Abas dikenal sebagai seorang ulama besar di Banten. Ia sebagai pendiri dan pemimpin pondok pesantren Sabi, hampir separuh usianya dihabiskan untuk mendidik santri-santrinya. Dari beliaulah pertama kali KH. Falak mendapat pendidikan dalam bidang baca tulis Al Qur�an, Sufi dan terutama pemantapan Aqidah Islam, bahkan karena cintanya kepada ilmu, di usianya yang masih muda, KH Falak sempat mengembara selama 15 tahun untuk menggali dan menuntut ilmu ke beberapa ulama besar yang ada di daerah Banten dan Cirebon.

Selama di Mekah KH. Falak tinggal bersama Syekh Abdul Karim, dari Syeh Abdul Karim hingga akhirnya mendapatkan kedalaman ilmu tarekat dan tasawuf, bahkan oleh Syekh Abdul Karim yang dikenal sebagai seorang Wali Agung dan ulama besar dari tanah Banten yang menetap di Mekah itu. KH. Falak dibai�at hingga mendapat kepercayaan sebagai mursyid (guru besar) Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.

Pada tahun 1878. KH Falak kembali ketanah air. Selama beberapa pekan K.H. Falak tinggal di tempat kelahirannya Pandeglang Banten dan mendapat kepercayaan untuk memimpin pesantren Sabi yang ditinggalkan oleh ayahnya.

Tetapi seperti pada umumnya perjalanan seorang mubalighin, aktivitas da�wah dan tablignya untuk menyebarkan dan menyiarkan Islam tidak akan terhenti sampai disana demikian juga dengan apa yang dilakukan oleh KH Falak, sebagai wujud untuk mengembangkan dan mengamalkan ilmunya, sejak tahun itu juga beliau mulai melancarkan aktivitas tablig dan da�wah secara estafet. Dimulai dari daerah Pandeglang, Banten hingga sampai ke Pagentongan Bogor dan bermukim disana hingga wafatnya.

KH Tubagus Muhammad Falak wafat pada waktu subuh pukul 04.15 hari Rabu tanggal 19 Juli 1972 atau tanggal 8 Djumadil Akhir 1392 H di usianya yang ke, 130 tahun di Pagentongan, Bogor.

Oleh Alm. Akhsan Ustadhi
Ketua PCNU Kabupaten Bogor

Minggu, 11 Maret 2018

Nabi Sulaiman dan Burung Malas Berkicau

Nabi Sulaiman dikenal sebagai raja besar pada masanya. Putra Nabi Dawud itu mendapatkan anugrah dari Allah dengan pengetahuan yang berlimpah, di antaranya bisa memahami dan bercakap dengan binatang, termasuk dengan burung.

Al-Qur�an mengisahkan tentang seekor burung hud-hud yang memberikan laporan kepada Raja Sulaiman tentang seorang penguasa yang menyekutukan Allah SWT, Ratu Bilqis (keterangan lengkap dalam surat An-Naml).

Kisah di atas sebagai pembuka cerita burung lain pada masa Nabi Sulaiman. Dikisahkan dalam Hikaya Shufiyah karangan Muhammad Abu al Yusr Abidin, ada seekor burung yang memiliki kicauan merdu dan tampilan indah telah dibeli oleh seorang lelaki dengan harga seribu dinar. Setelah dibeli, burung itu pun ditempatkan dalam sebuah sangkar.




Nabi Sulaiman dan Burung Malas Berkicau (Sumber Gambar : Nu Online)
Nabi Sulaiman dan Burung Malas Berkicau (Sumber Gambar : Nu Online)

Nabi Sulaiman dan Burung Malas Berkicau

Suatu ketika, datanglah seekor burung lain yang bersuara kencang dan heboh, sementara si burung dalam sangkar hanya terdiam dan membisu.

Melihat kejadian itu, lelaki pemilik burung dalam sangkar itu jengkel. Ia kemudian melaporkannya kepada Nabi Sulaiman.

�Ok, baiklah, segera bawa ia kesini?� pinta Nabi Sulaiman.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Burung tersebut kemudian dihadapkan kepada Raja Sulaiman.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

�Bagi pemilikmu ada hak yang harus engkau penuhi. Dia membelimu dengan harga fantastis. Akan tetapi, kenapa engkau diam membisu saja tanpa berkicau?� tanya Raja Sulaiman meminta penjelasan si burung.



�Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku hanya berteriak karena sedih dan rindu dengan kawan-kawanku dan meminta untuk membebaskan dari sangkar dan penjara. Lantas datanglah burung sejenis denganku dan memerintahkanku agar bersabar. Dan dia memahamkan kepadaku satu hal, bahwa meminta paksa keluar (?) hanya akan menambah deritaku. Sementara lelaki itu mengurungku demi suaraku, maka aku pun diam membisu,� terang si burung.Akhirnya, dengan kebijaksanaannya, Nabi Sulaiman melepaskan si burung dan mengganti harga beli pemiliknya dengan sepadan.

Kisah di atas memberikan pelajaran akan betapa pentingnya menjaga harmonisasi makhluk hidup. Keberadaan mereka tidak lain kecuali ayat-ayat Tuhan. Mereka memiliki hak hidup dan berkawan dengan sejenisnya. Tidak diperkenankan, karena materi dan kesenangan pribadi melupakan harmonisasi alam. Disadari atau tidak, keserakahan manusia telah menimbulkan banyak kepunahan bagi hewan � hewan dan makhluk hidup. Firman Allah,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? : 44)

�Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memujiNya, tetapi engkau tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun ( QS AL Isra� : 44). (Ali Makhrus)

Tulisan di atas ditukil dari Muhammad Abu al Yusr Abidin, Hikaya Shufiyah, cet 7 (Damaskus: Dar Al Basyair, 2001 M /1421 H), hal 45.





Penulis adalah mahasiswa SPs Universitar Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nusantara Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rabu, 07 Maret 2018

Ibadah Haji Dua Kali yang Sia-sia

Dalam kitab Irsy�dul Ib�d dikisahkan, suatu hari seorang laki-laki menjamu Sufyan ats-Tauri dan kawan-kawannya. Lantas ia berkata kepada istrinya, "Berikanlah hidangan padaku hidangan yang kamu bawa dari haji yang kedua, bukan haji yang pertama."

Orang yang cermat akan segera tahu, pesan apa di balik lelaki itu berkata demikian. Si lelaki di satu sisi sedang memerintahkan sang istri menyuguhkan hidangan, tapi di sisi lain sekaligus memamerkan ke orang-orang di sekitarnya bahwa ia telah berhaji dua kali.

Dalam ilmu balaghah, laki-laki ini memang sedang melontarkan kalam insya (thalabi), yakni berupa perintah kepada istrinya, namun di saat bersamaan terkandung maksud terselubung mengungkapkan kalam khabar (informasi) tentang prestasi ibadah kepada para tamunya. Secara tersurat memerintah, tapi secara tersirat memamerkan sebuah kebanggaan.




Ibadah Haji Dua Kali yang Sia-sia (Sumber Gambar : Nu Online)
Ibadah Haji Dua Kali yang Sia-sia (Sumber Gambar : Nu Online)

Ibadah Haji Dua Kali yang Sia-sia

Lalu, apa respon Sufyan at-Tsauri terhadap lelaki yang pamer itu?

"Sungguh kasihan orang ini. Dengan perkataannya itu dia telah menghapus pahala dua hajinya. Semoga Allah menyelamatkan kita dari riya," kata ulama alim dan zuhud yang wafat pada 778 M ini.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pernah suatu kali Rasulullah menerima pertanyaan dari seorang laki-laki yang datang kepada beliau, "Apa itu keselamatan pada hari esok (hari Kiamat)?"

"Ketika kamu tidak menipu Allah," jawab Rasulullah.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Bagaimana kita menipu Allah?"

"Yaitu ketika kamu menunaikan perintah Allah dan rasul-Nya namun kamu bertujuan untuk selain ridha Allah. Berhati-hatilah dari riya karena sesungguhnya ia termasuk kategori syirik kepada Allah," balas Nabi lagi.

Demikian disampaikan dalam hadits riwayat Adz-Dzahabi. Hadits ini melanjutkan sabda Nabi bahwa kelak di hari Kiamat orang-orang riya dipanggil di hadapan orang banyak dengan empat nama: "wahai orang kafir", "wahai orang durhaka (f�jir)", "wahai orang cedera (gh�dir)", dan "wahai orang merugi (kh�sir)".

Perbuatan orang riya tersebut, jelas Nabi, sesat dan pahalanya pun musnah, sehingga ia tak memiliki bagian apa-apa di hari Kiamat. Selanjutnya diseru kepadanya, "Ambillah pahala dari orang-orang yang menjadi tujuan amalmu, wahai penipu diri sendiri."

Dalam kitab Irsy�dul �Ib�d pula diceritakan bahwa seorang imam ditanya tentang siapa orang yang disebut ikhlas. Ia jawab, "Orang yang merahasiakan kebaikannya sebagaimana menyimpan kejahatannya."

Wallahu alam. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Daerah, AlaNu, Nusantara Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 23 Februari 2018

Selfie dan Kemabruran Ibadah Haji

Oleh Ach. Mudzakki M

Setiap orang yang melaksanakan ibadah haji tentu berharap agar hajinya mabrur, karena haji yang mabrur memiliki pahala yang besar. Menunaikan ibadah haji merupakan kesempatan istimewa bagi umat muslim, terutama bagi mereka yang berada di negara yang jauh dari Mekkah. Ongkos dan biaya yang mahal menjadikan ibadah haji identik dengan kemewahannya tersendiri.




Selfie dan Kemabruran Ibadah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Selfie dan Kemabruran Ibadah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Selfie dan Kemabruran Ibadah Haji

Mari sejenak menyimak sebuah kisah menarik berkaitan dengan haji pada masa Nabi Muhammad SAW. Ada orang miskin yang ingin menunaikan ibadah haji, ia rupanya telah mengumpulkan semua biaya ibadah haji itu selama 20 tahun. Namun, ketika dalam perjalanan mulia menuju Mekkah, ia menyaksikan banyak kaum muslimin yang sedang dilanda kemiskinan di mana-mana. Tidak tega melihat saudara-saudaranya yang seiman sedang membutuhkan bantuan, ia pun kemudian mengurungkan niatnya untuk ziarah ke Mekkah. Selanjutnya ia bagi-bagikan semua hartanya kepada mereka. Persoalan itu kemudian sampai ke telinga Nabi dan Nabi pun haru mendengarnya. Selanjutnya nabi bersabda "hajimu sah dan kamu berhak masuk surga".

Dari kisah di atas menunjukkan bahwa rukun Islam kelima itu bukan hanya ibadah yang kaitannya dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga ibadah yang menuntut terwujudnya keshalehan sosial (hablum minannas). Sehingga dari perpaduan entitas tersebut mewujudkan kehidupan manusia yang baik (insan kamil).

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Konsepsi Haji



Menunaikan ibadah haji merupakan bentuk ritual tahunan yang dilakukan kaum muslimin. Dilakukan dalam kondisi mampu untuk berkunjung dan melaksanakan kegiatan ibadah di tempat-tempat Arab Saudi yang dikenal dengan musim haji (bulan Dzulhijah).

Secara epistimologi haji bermakna menyengaja, menuju dan mengunjungi. Sedang menurut ishthilah fiqhiyah adalah menuju ke baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan ibadah. Menurut Ali Shariati dalam bukunya yang berjudul Haji bahwa ibadah tersebut merupakan kepulangan manusia kepada Allah SWT yang muthlaq, yang tidak memiliki keterbatasan dan yang tidak dipadankan oleh sesuatu apapun. Kepulangan yang merupakan gerakan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai, dan fakta-fakta.

Sedangkan pengertian haji mabrur, mengutip pendapat Jalaludin As Suyuti dan Muhyiddin Syarf An-Nawawi cukup kiranya untuk mendefinisikannya. Menurutnya, haji mabrur adalah haji yang diterima dan dibalas dengan pahala yang sangat besar yakni surga, yang mana, di dalamnya tidak tercampur kemaksiatan, dan unsur-unsur riya�. Sebagaimana merujuk pada pendapat Al Qurthubi bahwa haji mabrur adalah haji yang dipenuhi seluruh ketentuanya dan dijalankan dengan sesempurna mungkin oleh pelakunya sebagaimana yang dituntut darinya.

Pergeseran Ekspresi Ibadah Haji



Namun, kesempatan mewah ini seringkali membuat orang yang mampu menunaikan ibadah haji acap kali digunakan sebagai ajang pamer. Entah caranya dengan selfie atau live video yang kemudian mengunggahnya ke media sosial. Alangkah ruginya kita melakukan amal ibadah haji dengan bersusah payah, mengerahkan banyak pengorbanan fisik dan materi, namun kemabrurannya hilang karena kesalahan motivasi atau niat, seperti riya� (pamer), �ujub (membanggakan diri sendiri), takabbur (sombong), dan sebagainya.

Menurut pakar sosiologi, selfie diartikan sebagai aksi narsistik untuk mengabadikan gambar diri sendiri melalui sebuah ponsel atau kamera digital. Fenomena ini memberikan peluang bagi pelaku untuk tetap eksis dan mendokumentasikannya. Dan adanya fenomena ini juga dapat mengakibatkan banyak hujatan karena mempunyai tendensi negatif dan melanggar norma.

Seakan, praktek selfie menjadi rukun ibadah haji yang baru. praktek yang seakan tidak komplit ketika tidak menjalankanya. Ratusan bahkan ribuan jamaah haji yang terkena virus selfie. Akibatnya, praktek tersebut hanya akan mengganggu ibadah jamaah lain dan menodai nilai-nilai dari ibadah tersebut. Pada musim haji 2015 lalu, terjadi musibah yang mengakibatkan robohnya crane di masjidil haram, dan banyak dari jamaah haji yang mendokumentasikan musibah itu dengan ber-selfie dan menjadikanya latar padan akun media sosial.

Sebenarnya pendapat yang berkaitan dengan mendokumentasikan peristiwa langka dan peristiwa mewah telah lama disuarakan. Pendapat pertama dari Assim Al Hakim dari Arab Saudi adalah pendapat yang cukup tegas dan keras melarang karena hal-hal seperti itu dapat meciptakan sifat riya� dan pamer yang merusak tujuan haji. Kemudian pendapat kedua dari seorang Profesor Hukum Syariah dari Riyadh Arab Saudi adalah diperbolehkan dalam mendokumentasikan momentum haji dengan catatan tidak untuk pamer, diperbolehkan juga ketika telah menyelesaikan ritual syarat dan rukun haji, dan diperbolehkan ketika tidak mengganggu ibadah orang lain.



Penulis tinggal di Pondok Pesantren Nailul Ula Center Plosokuning, Minomartani, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta
Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nahdlatul, Nusantara, Pendidikan Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rabu, 21 Februari 2018

Sumbang Solusi Bangsa melalui Munas dan Konbes

Dalam struktur organisasi NU, forum permusyawaratan tertinggi disebut dengan muktamar yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali. Forum lain yang sangat penting adalah musyawarah nasional dan konferensi besar (munas dan konbes) yang diselenggarakan minimal selama dua kali dalam satu periode kepengurusan. Dua forum ini biasanya mendapat perhatian publik karena biasanya terdapat keputusan atau rekomendasi penting yang menyangkut sikap NU terhadap sebuah persoalan bangsa atau pandangan NU dalam sebuah permasalahan keagamaan.

Keputusan penting dalam muktamar adalah penyampaian laporan pertanggungjawaban pengurus setelah lima tahun bekerja dan pemilihan mandataris baru, yaitu rais aam dan ketua umum yang akan memimpin NU lima tahun selanjutnya. Nahkoda baru, selalu memiliki gaya tersendiri dalam mengendalikan NU terkait bagaimana menjalankan visi, misi, dan program yang telah ditetapkan sehingga selalu menarik perhatian pihak luar yang memiliki kepentingan dengan NU.

Acara munas berisikan pembahasan masalah-masalah kebangsaan yang dilihat dari perspektif keagaman atau persoalan-persoalan keagamaan kekinian yang belum terpecahkan yang terbagi dalam tiga forum bahtsul masail waqi�iyah (membahas kasus-kasus aktual), maudluiyah (membahas isu-isu tematik), dan qanuniyah (membahas masalah yang berkaitan dengan perundang-undangan). Pada forum itu, para kiai dan alim ulama yang tidak masuk dalam struktur kepengurusan Nahdlatul Ulama turut diundang untuk mendiskusikan berbagai persoalan tersebut. Semantara itu konferensi besar membahas persoalan internal organisasi, seperti evaluasi program dan penyusunan program baru.




Sumbang Solusi Bangsa melalui Munas dan Konbes (Sumber Gambar : Nu Online)
Sumbang Solusi Bangsa melalui Munas dan Konbes (Sumber Gambar : Nu Online)

Sumbang Solusi Bangsa melalui Munas dan Konbes

Forum munas dan konbes telah berkontribusi menyelesaikan sejumlah persoalan bangsa seperti penerimaan NU atas asas Pancasila, masalah KB, bunga bank, atau hukum tidak membayar pajak karena maraknya kasus penggelapan dana pajak. Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesaia dengan pengikut yang mengakar sampai ke desa-desa, apa yang diputuskan oleh NU memiliki dampak yang signifikan dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara karena menjadi panduan para pengikut NU dalam bersikap.

Nusa Tenggara Barat (NTB) sudah dua kali menjadi tempat munas dan konbes, pertama pada tahun 1997 dan dua puluh tahun kemudian, 2017 ini, pulau seribu masjid ini terpilih kembali menjadi tempat penyelenggaraan acara. Terdapat dua isu pokok yang mengemuka, yaitu soal radikalisme dan kesenjangan ekonomi. Era kebebasan setelah berakhirnya rezim Orde Baru membuat ideologi transnasional tumbuh dan berkembang cepat di Indonesia. Setelah dua puluh tahun, eksistensi mereka semakin mengakar, sekalipun masih dalam taraf kecil. Upaya pemerintah untuk menghambat perkembangan mereka layak diapresiasi karena kalau terlambat, akan menimbulkan permasalahan terhadap harmoni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Forum ini berusaha mencari solusi agar ajaran-ajaran radikal dan transnasional ini tidak berkembang di Indonesia.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Persoalan kesenjangan ekonomi juga menjadi perhatian dari para ulama NU ketika ada sekelompok kecil orang yang menguasai aset negeri ini sangat besar, dan komposisinya dari tahun ke tahun semakin membesar sementara di sisi lain, banyak warga negara yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya. Dalam pertemuan kali ini, isu yang dibahas adalah rencana redistribusi lahan guna meningkatkan kesejahteraan para petani. Isu kesenjangan kepemilikan tanah merupakan permasalahan paling krusial mengingat ada konglomerat yang menguasai lahan lebih dari satu juta hektar sementara rata-rata petani hanya memiliki lahan 0.3 hektar. Redistribusi juga tidak dimaknai sebatas pembagian lahan saja, tetapi banyak aspek yang terkait. Upaya redistribusi diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan para petani. Tetapi yang harus diingat adalah bahwa redistribusi bukanlah hal yang gampang karena banyak sekali pihak yang berkepentingan. Jangan sampai timbul moral hazard terkait dengan niat baik mensejahterakan para petani ini.

Media sosial, selain menghubungkan orang-orang yang sebelumnya terpisah dan sebagai sarana ekpresi diri, juga menimbulkan persoalan ketika menjadi ruang untuk menyebarluaskan ujaran kebencian dan hoaks. Sejumlah peristiwa telah memberi pelajaran bahwa jika dampak negatif tersebut tidak dikelola, akan menimbulkan persoalan dalam harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara. Isu SARA bisa dengan mudah �digoreng� untuk kepentingan politik kelompok tertentu. Keputusan munas dan konbes ini diharapkan mampu memberi panduan bagaimana berperilaku yang baik di media sosial dan bagaimana negara mengatur ujaran kebencian ini.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

RUU KUHP yang sudah dibahas setiap periode DPR sejak tahun 1960an, tetapi hingga kini belum kelar padahal keberadaannya sangat penting untuk mengatur masyarakat. KUHP yang dibuat era kolonial itu tentunya sudah tidak sesuai dengan konteks masyarakat kini. PBNU akan memberikan masukan pada isu-isu tertentu yang sangat penting. NU memiliki ahli-ahli yang sangat menguasai masalah fiqih dan hukum nasional. Dengan demikian, KUHP versi kolonial tersebut bisa disesuaikan dengan konteks kekinian dan kondisi sosial di mana masyarakat Indonesia sebagian besar adalah Muslim.

Total terdapat 18 isu yang dibahas yang merupakan turunan dari tema besar soal radikalisme dan kesenjangan ekonomi ini. Sejumlah isu merupakan isu berat yang tidak selalu populer dalam wacana publik sebagaimana isu-isu politik sesaat yang kemudian hilang dalam seminggu-dua minggu ditelan isu baru lainnya, tetapi keberadannya sangat penting untuk memajukan bangsa ini.

Jokowi dalam sambutan pada pembukaan acara menyatakan menunggu rekomendasi dari pertemuan para alim ulama NU ini. Hal tersebut tentu harus kita apresiasi bahwa niat baik NU ini mendapat sambutan dari pemerintah dan menunjukkan kesadaran bahwa persoalan-persoalan bangsa tidak dapat diselesaikan sendiri oleh pemerintah. Peran ormas Islam dan kelompok masyarakat lainnya sangat penting dalam mendukung perjalanan bangsa ini menuju situasi yang lebih baik. (Ahmad Mukafi Niam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syariah, Nusantara, Pendidikan Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 08 Februari 2018

Warga Desa Ini Tradisikan Gerbat di Tahun Baru Hijriah

Sumenep, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Gerakan batin (gerbat) menjadi tradisi turun temurun dalam memperingati tahun baru Islam di Desa Campor Timur, Kecamatan Ambunten, Kabupaten Sumenep. Hal itu masih mengemuka pada Ahad (2/10) malam.




Warga Desa Ini Tradisikan Gerbat di Tahun Baru Hijriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Desa Ini Tradisikan Gerbat di Tahun Baru Hijriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Desa Ini Tradisikan Gerbat di Tahun Baru Hijriah

Pengurus Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Sumenep, Ahmad Daniyal, terlibat aktif dalam acara tersebut. Dia menegaskan, gerbat diwarnai dengan parnyoonan (doa bersama) demi kebaikan masyarakat desa setempat dan umat Islam secara umum.

"Setelah bertawassul dan berpanyoonan, kami membaca Alquran. Kami mengaji Surat Yaasin sebanhak 41 kali. Sudah itu dilanjutkan pembacaan tahlil bersama kemudian doa," terang Dadang, panggilan akrab Ahmad Daniyal.

Menurut mantan Ketua Umum PMII Komisariat Guluk-Guluk tersebut, kebiasaan ini sudah berjalan tahunan silam di masyarakat dengan mengundang sanak saudara terutama dari silsilah Bani Patimangon yang jaraknya tidak terlalu jauh.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Hidangan tawai menjadi ciri khas dalam acara peringatan tahun baru hijriyah 1438 H. Ini sebagai wujud betapa tahun baru ini mesti dilecuti kesederhanaan dan kematangan dalam menjalani hisup," tukasnya. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nusantara, Pemurnian Aqidah, Bahtsul Masail Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Berkorban Tak Sekadar Berkurban

Oleh A Mustofa Bisri

Akhirnya setelah sekian lama mendambakan dan tak kunjung mempunyai anak, permohonan Nabi Ibrahim agar dianugerahi anak dikabulkan oleh Tuhannya. Allah menganugerahi seorang anak yang sabar. Ketika di anak sudah cukup dewasa untuk membantu ayahnya bekerja, tiba-tiba sang ayah memberitahukan bahwa ada isyarat Tuhan untuk menyembelih si anak. �Bagaimana pendapatmu?� kata sang ayah. Dengan tenang, si anak menjawab, �Ayahku, laksanakan saja apa yang diperintahkan kepada ayah. Insyaallah ayah akan mendapatkan anakmu ini tabah.�




Berkorban Tak Sekadar Berkurban (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkorban Tak Sekadar Berkurban (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkorban Tak Sekadar Berkurban

Ketika bapak-bapak itu bertekad bulat berserah diri sepenuhnya untuk melaksanakan perintah Allah dan Nabi Ibrahim telah merebahkan anak kesayangannya itu di atas pelipisnya, ketika itu pula keduanya membuktikan kepatuhan dan kebaktian mereka. Dan, Allah pun mengganti si anak dengan kurban sembelihan berupa kambing yang besar.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Meskipun ritual kurban (dengan �u�) konon sudah dilakukan sejak putra-putra Nabi Adam, Habil dan Qabil, peristiwa yang dituturkan dalam kitab suci Al Qur�an itulah yang menjadi dasar persyaratan kurban setiap Idul Adha (Hari Raya Kurban).

Nabi Ibrahim rela mengorbankan putranya dan putranya ikhlas dijadikan kurban demi Tuhan mereka. Bagi Nabi Ibrahim dan putranya, Tuhan adalah nomor satu. Allah adalah segalanya. Siapa pun dan apa pun tidak ada artinya dihadapan-Nya. Demi dan untuk-Nya, apa pun ikhlas mereka korbankan; sampai pun anak atau nyawa sendiri.?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Inti Berkurban

Jadi inti makna kurban di Hari Raya Kurban memang berkorban. Namun, lihatlah, bahkan untuk sekedar mengorbankan hewan, banyak orang mampu yang masih �menawar-nawar� atau menitipkan kepentingan sendiri sebagai �kompensasi�

Apakah mereka ini mengira bahwa kurban (daging ternak) itu benar yang �dituntut� Tuhan sebagai bukti kecintaan dan kebaktian? Tidak. Sama sekali bukan daging-daging dan darah-darah hewan itu yang mencapai Allah, melainkan ketakwaan. Pengorbanan. �Tidaklah darah dan daging hewan kurban itu sampai kepada Allah sebagai ketakwaanmu yang sampai kepada-Nya� (Al Qur�an22;37).

Pengorbanan tidak hanya menyembelih kurban. Pengorbanan adalah atau mestinya merupakan pantulan dari kecintaan dan kebaktian itu. Dari pengorbanan, bisa diukur seberapa dalam kecintaan dan seberapa agung kebaktian seseorang.

Kita bisa saja mengaku cinta atau mengabdi kepada pujaan kita. Kita bisa saja menyatakan hal yang mulia demi Tuhan, demi tanah air, demi rakyat, demi siapa atau apa pun yang kita cintai. Namun tanpa kesediaan kita berkorban untuknya, pernyataan itu tidak ada artinya.?

Bahkan ,jika kita menawar-nawar di dalam pengorbanan kita, kata �demi�-�demi� itu hanyalah omong kosong belaka. Dalam pengorbanan, tak ada perhitungan untuk rugi atau tuntutan kompensasi apapun. Dalam pengorbanan hanya ada ketulusan.

Hamba yang sungguh mencintai dan mengabdi kepada Allah seperti Nabi Ibrahim dan putranya, akan siap dan rela berkorban apa pun, yang paling berharga, atau yang remeh, termasuk ego dan kepentingan sendiri-bagi dan demi Tuhannya. Demi melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, hamba yang sungguh mencintai dan mengabdi Tuhannya siap dan rela mengalahkan egonya dan mengesampingkan kepentingan sendiri.

Apabila Tuhan, misalnya melarang perbuatan merusak, hamba yang sungguh mencintai dan mengabdi Tuhannya akan menghindari perbuatan perusak meski bertentangan dengan kehendaknya. Dia misalnya, tak akan melakukan perbuatan korupsi, tidak melakukan tindakan teror, tidak berurusan dengan narkoba, dan tindakan merusak lainnya, meski dirinya merasa berkepentingan untuk melakukan hal itu.?

Pemimpin berkorban

Warga negara yang sungguh mencintai dan mengabdi tanah arinya akan dengan sendirinya siap dan rela berkorban apa saja bagi dan demi tanah airnya, meski tidak pernah menyatakannya. Sebaliknya, mereka yang sering menyatakan cinta tanah air, tetapi tidak sudi mengorbankan sedikit waktu dan pikiran untuk kepentingan tanah airnya, jelas mereka pembohong besar.

Pemimpn yang selalu menyatakan diri sebagai abdi rakyat, tetapi tidak pernah rela berkorban meski sekedar waktu dan perhatian untuk rakyat, bahkan lebih sering mengorbankan rakyat, cepat atau lambat pasti akan ketahuan palsunya dan rakyat akan mencampakkannya.

Akhirnya, Idul Adha atau Hari Raya Kurban juga sering disebut Lebaran Haji. Pada Saat itu memang kaum Muslimin yang mampu sedang melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci.

Satu satunya ibadah dan rukun Islam yang di negeri ini ditangani secara �serius� oleh pemerintah. Ibadah ini pun memerlukan pengorbanan yang tidak kecil. Masih di Tanah air, jemaah calon haji sudah harus mengorbankan waktu, harta, tenaga, pikiran sering kali juga ? perasaan.

Dalam ritual haji, kaum Muslimin diingatkan dengan peragaan diri tentang kehambaan, kesetaraan, dan kefanaan manusia; bahkan tentang hari kemudian. Dengan demikian, jika itu semua dihayati, akan atau semestinya dapat menguban sikap dan perilaku mereka. Konon salah satu tanda haji mabrur, yang pahalanya tiada lain: surga, ialah merubahan sikap perilaku.?

Yang sebelum haji malas beribadah, misalnya, sesudahnya menjadi rajin. Sebelumnya sangat, sesudahnya santun. Sebelumnya korup, sesudahnya jujur. Demikian seterusnya. Bukan yang sebelum dan sesudah haji tetap saja sikap perilakunya atau malahan lebih buruk lagi.

Wallahualam. Selamat Hari Raya Kurban, Selamat Lebaran Haji

* Wakil Rais Aam PBNU

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syariah, Nusantara, Pondok Pesantren Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 05 Februari 2018

TNC Gandeng LAZISNU untuk Kelestarian Alam di Berau

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Lembaga Amil Zakat Infak dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama dan The Nature Conservancy menyepakati kerja sama untuk pemeliharaan alam di daerah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Kesapakatan ditandatangani kedua belah pihak di kantor Pengurus Pusat LAZISNU, gedung PBNU, Jakarta, Rabu (22/10).

Menurut Director of External Affar TNC Sapto Handoyo Sakti, Kalimantan Timur merupakan salah satu daerah yang memiliki keanekaragaman hayati di Indonesia. Tapi sayangnya tingkat kesadaran masyarakat untuk memilihara sangat kurang.




TNC Gandeng LAZISNU untuk Kelestarian Alam di Berau (Sumber Gambar : Nu Online)
TNC Gandeng LAZISNU untuk Kelestarian Alam di Berau (Sumber Gambar : Nu Online)

TNC Gandeng LAZISNU untuk Kelestarian Alam di Berau

Menurut dia, alam itu relatif statis, yang dinamis itu manusia. Kebanyakan yang membuat alam rusak itu ya manusia sendiri. Supaya tidak terjadi perusakan, manusia-manusia di sekitar itu harus diberi pemahaman memelihara alam.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tetapi, sambung dia, motif merusak alam biasanya bersumber dari kebutuhan ekonomi. Nelayan di Ajengan misalnya, menangkapl ikan dengan cara dibom. Ia dapat untung banyak seketika, tapi akan mengalami kerugian jangka panjang karena terumbu karangnya rusak. Ikan akan semakin langka dan jelajah penangkapan harus semakin ke tengah.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Di sisi lain, hasil tangkapan ikan dengan cara semacam itu tidak baik untuk kesehatan karena mengandung racun. �Motif merusak ekonomi sehingga upaya menanggulanginya dengan ekonomi pula,� simpulnya. ?

Menggandeng NU melalui LAZISNU, sambung dia, karena mayoritas penduduk di sana warga NU. TNC akan mengajak kiai-kiai NU untuk memberikan pemahaman keagamaan yang menganjurkan untuk menyahabati alam.

Kedua, melalui LAZISNU, akan dilakukan pemberdayaan dan pelatihan supaya mereka mendapatkan penghasilan dengan cara tidak merusak alam. �Sudah saatnya kami memelihara alam tidak hanya dengan pendekatan sains, tapi juga agama,� katanya.

Ia menambahkan, setiap agama pada dasarnya mengajurkan umatnya untuk memlihara alam dengan baik.

Direktur Eksekutif PP LAZISNU Amir Ma�ruf sudah melakukan pemberdayaan manusia di beberapa daerah. Melalui kerja sama ini, ia menyambut gembira, selain bisa memberdayakan warga NU, di sisi lain memilki nilai plus yaitu memelihara alam.

LAZISNU, kata Amir, juga melakukan hal yang sama di daerah Kepulauan Seribu. Bagi penduduk yang punya kecenderungan menjaga alam seperti menanam mangrove, LAZISNU membantu mereka dengan menyediakan keramba ikan. Di samping menjaga lingkungan dia juga bisa menghasilkan ekonomi untuk menghidupi keluarganya.

Hadir pada kesempatan itu, Ketua PP LAZISNU KH Masyhuri Malik dan Ketua PBNU H Arvin Hakim Toha. Sementara TNC, Sapto ditemani Strategic Alliance Associate Director TNC Dino V. Prayoga. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nusantara, Olahraga Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Minggu, 28 Januari 2018

Dilantik, Ranting-ranting GP Ansor Kukar Perkuat Aswaja di Desa

Kutai Kartanegara, Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Kutai Kartanegara melantik Pimpinan Ranting GP Ansor se-Kecamatan Tenggarong dan Kecamatan Sebulu di sekretariat PC GP Ansor Kab Kutai Kartanegara pada Sabtu (23/1).




Dilantik, Ranting-ranting GP Ansor Kukar Perkuat Aswaja di Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, Ranting-ranting GP Ansor Kukar Perkuat Aswaja di Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, Ranting-ranting GP Ansor Kukar Perkuat Aswaja di Desa

Pelantikan tersebut dirangkai dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Haul Habib Muhammad bin Ali bin Hasan bin Thoha bin Yahya (Noto Igomo), Haul KH Abdurahman Wahid (Gus Dur)

Pada kesempatan itu turut hadir Ketua PCNU Kutai Kartanegara Chairul Anwar, Rais Syuriyah KH Hormansyah, Lembaga Dakwa Nahdlatul Ulama Muhamad Fajri Al Faroby, Ketua Pengurus Ansor Wilayah Kaltim beserta jajaran serta Ketua Cabang GP Ansor Hadi Purnomo.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dalam kesempatan tersebut Chairul mengingatkan bahwa tugas Ansor adalah memperjuangkan dan melaksanakan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah, melaksanakan roda organisasi sebaik-baiknya berdasar Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga, serta berkhidmah kepada alim ulama.

�Ansor harus disiplin menjaga etika dan akhlakul karimah tidak melakukan tindakan yg memalukan organisasi serta menjaga keutuhan NKRI dari rongrongan radikalisme dan ekstremisme juga menjaga dan mencermati munculnya ajaran baru yang menyesatkan,� katanya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Chairul juga meminta GP Ansor untuk memperkuat ajaran Ahlusunah Waljamaah di setiap ranting di masing-masing kecamatan.

Ketua pengurus ansor wilayah Kaltim dalam sambutannya menyampaikan perlunya Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta organisasi-organisasi keagamaan seperti NU, Muhammadiyah untuk membina masyarakat di daerah-daerah terpencil agar tidak terjerumus ikut ajaran sesat.

�Pengikut yang sudah banyak bertobat, perlu ada pembinaan dari pemerintah dan tokoh-tokoh agama agar tidak kembali ke ajaran tersebut. Ansor harus turun ke daerah-daerah membantu ulama sesuai tugasnya berkhidmah kepada alim ulama dalam menjaga NKRI dari ancaman radikalisme,� ujarnya pada kegiatan yang ditutup taushiyah Ustadz Abu Ali. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nusantara Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Pages

Archive

Diberdayakan oleh Blogger.