Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Maret 2018

PMII ITS Bantu Pelajar NU Masuk Perguruan Tinggi Favorit

Surabaya, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berusaha membantu pelajar NU yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yang difavoritkan banyak siswa dan fakultas kedokteran.




PMII ITS Bantu Pelajar NU Masuk Perguruan Tinggi Favorit (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII ITS Bantu Pelajar NU Masuk Perguruan Tinggi Favorit (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII ITS Bantu Pelajar NU Masuk Perguruan Tinggi Favorit

Salah satu upaya PMII ITS untuk itu, mereka bekerjasama dengan PCNU Surabaya dan Lembaga Amil Zakat dan Infaq Al-Maun (LAZIM) mengadakan Try Out? Super Camp SBMPTN 2014; ahlinya masuk? ITS dan Fakultas Kedokteran.

Menurut salah seorang pengurus PMII ITS, Asnuter, kegiatan ini sudah 4 tahun berjalan dan hanya bisa diikuti kelas XII prodi IPA di seluruh pulau Jawa, khususnya, warga NU. �Kegiatan ini bermaksud untuk membekali para siswa kelas XII yang akan mengikuti tes SBMPTN tujuan masuk? ITS dan Kedokteran,� katanya Ahad (27/4)

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pada try out tahun ini, kata dia, diadakan di kampus ITS Surabaya (27/4), diikuti ratusan siswa. Dari seluruh peserta, hanya 35 terpilih yang akan diasramakan dan dibekali secara full time dan terpadu.

Asnuter menambahkan, peserta kemudian dibina selama 40 hari. Mereka akan dibimbing langsung anggota PK PMII ITS yang sedang kuliah S2. �Disamping dibina secara materi, peserta juga dibina secara rohani,� katanya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Para peserta, tambah dia, akan diajak shalat berjamaah, shalat hajat, shalat dluha, dan pengajian kitab kuning. �Tidak heran kegiatan ini terus meningkat peminatnya, karena tiap tahun peserta yang ikut hampir 100% lulus SBMPTN,� ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, kegiatan ini termasuk proses kaderisasi warga NU agar mampu bersaing di kampus favorit dan fakultas kedokteran. Sehingga warga NU semakin mantap dan siap bersaing dikancah akademik dan dunia kedokteran. (Cakkan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nasional, Aswaja, Daerah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 02 Maret 2018

Ketua UKP PPI: Pangkal dari Intoleransi adalah Kemiskinan

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ketua Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) menegaskan, sumber dari sikap tidak toleran adalah kemiskinan. Baginya, bukan hanya kemiskinan dalam hal materi, tetapi juga miskin dalam segala hal seperti miskin pemahaman agama, pengetahuan, dan miskin mental.

�Pangkal dari intoleransi adalah poverty (kemiskinan). Bukan hanya poverty material, tetapi semua aspek seperti pemahaman agama, pengetahuan, dan lainnya,� kata Yudi Latif saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional dengan tema Challenges to Religious Pluralism and Tolerance di Ruang Teater Gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Jakarta, Rabu (14/6).

Lebih lanjut, penulis buku Negara Paripurna itu menyebutkan Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan tingkat keberagaman yang tinggi. Mulai dari ras, etnik, budaya, dan hirarki sosial.?




Ketua UKP PPI: Pangkal dari Intoleransi adalah Kemiskinan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua UKP PPI: Pangkal dari Intoleransi adalah Kemiskinan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua UKP PPI: Pangkal dari Intoleransi adalah Kemiskinan

�Lalu bagaimana kita me-manage ini?,� tanya Yudi untuk merangsang peserta.

Ia menjelaskan, harus ada kesepakatan bersama untuk mengelola keberagaman yang ada. Dalam hal ini, Indonesia memiliki Pancasila sebagai pemersatu.

Lebih jauh, Yudi menerangkan, ketuhanan dalam sila pertama dalam Pancasila bukan lah berbentuk kata benda, melainkan kata sifat. Bung Karno menekankan, sila pertama ini sebagai ketuhanan yang beradab.?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

�Kedua, Bung Karno mengatakan bahwa nasionality kita adalah humanity, bukan nasionality yang tertutup,� ungkapnya.

Adapun sila ketiga, ungkap Yudi, warga Negara Indonesia sadar bahwa mereka berbeda, tetapi mereka mencari persamaan yang ada. �Katau sodara berasal dari satu udara. Selama kita menghirup udara yang sama, maka kita saudara,� tuturnya.

Sila keempat, imbuh Yudi, bermakna bahwa setiap warga Negara Indonesia memiliki hak yang sama dalam bermusyawarah. Mereka tidak dipertanyakan siapa, dari mana, apa agama mereka. Tetapi dalam bermusyawarah perwakilan yang dilihat adalah apa arugumen mereka.

�Dan terakhir adalah keadilan sosial,� lanjutnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Yudi mengatakan, inti dari dari kelima sila tersebut adalah semangat gotong royong sebagaimana yang dituturkan Bung Karno.?

�Gotong royong ini kalau dalam masyarakat Sunda silih asih (saling mengasihi), silih asuh (saling membimbing), dan silih asah (saling mengingatkan). Kalau Jawa ada istilah wewayu hayuning bawana (memperindah keindahan dunia). Kalau di Islam, rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam). Kalau di Kristen ada ajaran kasih dan lainnya,� pungkasnya. (Muchlishon Rochmat/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Aswaja, Bahtsul Masail, Sholawat Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 10 Februari 2018

Ella Giri Komala Kembali Pimpin Muslimat NU Jabar

Subang, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Mewakili jama�ah dan jamiyah Muslimat NU di daerahnya, Hj Iis ? Salamah selaku Ketua Pengurus Cabang Muslimat NU Kabupaten Subang mengucapkan selamat atas terpilihnya kembali Hj Ella Giri Komala, sebagai ketua baru Pengurus Wilayah (PW) Muslimat NU Jawa Barat.




Ella Giri Komala Kembali Pimpin Muslimat NU Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ella Giri Komala Kembali Pimpin Muslimat NU Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ella Giri Komala Kembali Pimpin Muslimat NU Jabar

Ella terpilih menjadi Ketua PW Muslimat NU Jawa Barat masa khidmat 2015-2020 dalam Konferensi Wilayah Jawa Barat yang digelar di Karangsetra Lembang, Bandung pada tanggal 13-14 Juni yang lalu.

"Selamat kepada Ibu Hj Dra Ela Giri Komala, MPd yang terpilih kembali menjadi Ketua Muslimat Jawa Barat, semoga ke depan muslimat tetap eksis dan terus maju, selalu dicintai dan dibutuhkan ummat," katanya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut Iis, acara Konferwil Muslimat NU Jawa Barat berjalan lancar dan Ella yang sudah dua periode menjadi Ketua Muslimat Jabar ini terpilih kembali secara aklamasi. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Aswaja, Daerah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 09 Februari 2018

GP Ansor Boyolali Siap Adakan Akreditasi PAC

Boyolali, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Untuk meningkatkan mutu organisasi, Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, tengah mempersiapkan diri untuk melakukan akreditasi ke tingkatan Pimpinan Anak Cabang (PAC) hingga ranting.

Menurut Kasatkorcab Banser Boyolali, Abdullah, akreditasi ini merupakan program lanjutan dari tingkatan atas.




GP Ansor Boyolali Siap Adakan Akreditasi PAC (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Boyolali Siap Adakan Akreditasi PAC (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Boyolali Siap Adakan Akreditasi PAC

�Kalau di tahun 2016, akreditasi sebatas tingkatan PC, tahun 2017 ini sudah sampai tingkatan PAC,� jelas Abdullah saat dihubungi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jumat (6/1).

Lebih lanjut dipaparkan Abdullah, dari sekian PAC yang diakreditasi, nantinya akan dipilih 1 PAC terbaik untuk diajukan ke tingkatan Pimpinan Wilayah (PW) GP Ansor Jawa Tengah.

Adapun penilaian akreditasi meliputi beberapa aspek, yakni bidaing administrasi, kebanseran, Rijalul Ansor, ekonomi dan kaderisasi.?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

�Banyaknya jumlah anggota belum tentu menjadi penentu yang terbaik, sebab mesti ada kriteria pemerataan anggota dan rutinitas kegiatan,� paparnya.

Sementara itu, di bidang ekonomi, PAC yang akan diakreditasi memiliki usaha yang dapat mensejahterakan anggotanya. �Misal memiliki koperasi atau produksi lainnya,� jelas dia.?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dengan adanya program akreditasi ini, diharapkan para pengurus PAC juga dapat berbenah, untuk menghidupkan kepengurusan ranting-ranting yang ada di bawahnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ubudiyah, Aswaja, Sejarah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 01 Februari 2018

Eksistensi Guru NU Kuat, Negara Wajib Hadir

Mojokerto, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Katib Syuriyah PBNU KH M. Mujib Qulyubi mengatakan momentum Peringatan Hari Santri Nasional perlu direspon secara nyata, tidak sekadar heroisme sesaat.




Eksistensi Guru NU Kuat, Negara Wajib Hadir (Sumber Gambar : Nu Online)
Eksistensi Guru NU Kuat, Negara Wajib Hadir (Sumber Gambar : Nu Online)

Eksistensi Guru NU Kuat, Negara Wajib Hadir

Oleh dunia pendidikan, dalam hal ini Pergunu, perlu adanya peningkatan perhatian terhadap guru Agama dan Guru NU, yang selama ini belum tersentuh secara nyata.?

Negara wajib hadir untuk memperkuat eksistensi guru-guru tersebut. Perhatian terhadap guru-guru diniyah, guru TPA, dan TPQ, kiranya menjadi poin penting yang perlu diperhatikan Pemerintah.

Hal tersebut diungkapkannya saat mengisi diskusi pada Forum Silaturahim Kongres Pergunu II di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Kamis (27/10) pagi.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari sisi Pergunu sendiri, Kiai Mujib mendorong agar guru-guru NU menguatkan kembali semangat berjihad melalui bidang pendidikan, yakni sebagai pengajar. Bahwa saat ini pemerintah menggulirkan sertifikasi guru, yang disatu sisi memperkuat kesejahteraan guru dan sisi lain mendorong profesionalisme, namun pada faktanya banyak yang hanya untuk mengejar kesejahteraan tanpa upaya peningkatan profesionalisme.

�Oleh karena itu, saya lebih cenderung mendorong agar jiwa atau semangat yang dikembangkan dari pesantren perlu juga dipegang oleh para guru NU. Jiwa pesantren yang apa adanya lillahi taala, para guru akan mendidik para siswa dengan sekuat tenaga. Ketulusan dari hati juga terasa, dan daya didik dan keihlasan. Itu yang harus dikembangkan,� terang Mujib.?

Kiai Mujib meneruskan, para dosen perguruan tinggi NU sebenarnya termasuk dalam Pergunu. Namun kehadiran para dosen di komunitas Pergunu tampak masih malu-malu. Hal ini perlu dirumuskan lagi agar para dosen yang merupakan kader NU dapat bersentuhan aktif dalam wadah Pergunu.

Selain itu, Kiai Mujib mengungkapkan adanya anggapan ironis terhadap guru-guru agama SMA, karena banyaknya mahasiswa yang diduga dipengaruhi ajaran golongan radikal saat di SMA.?

Ia mematahkan anggapan tersebut dengan menyebutkan hasil survey oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang dirilis Februari 2016, yang menyebutkan bahwa radikalisme di perguruan tinggi salah satunya karena dari kegiatan Rohis (Kerohanian Islam) SMA. Para pembina Rohis belum tentu guru agama yang terjangkit radikalisme dari dirinya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ditemui Pimpinan Pusat Muhammadiyah seusai acara Forum Silaturahim, Kiai Mujib mendorong agar masyarakat NU mengupayakan penyebaran ajaran aswaja dan ke-NU-an melalui kegiatan ? seperti Rohis, tanpa harus berlabel NU.

Terkait dengan perkembangan Pergunu dewasa ini, Kiai Mujib menilai secara umum sudah cukup bagus dengan kelembagaan yang terbentuk. Namun secara organisatoris dan sitem manajemen organisai masih perlu ditingkatkan. Ia mendorong agar Pergunu tidak hanya menjadi event organizer.?

�Peran NU bagi Indonesia tidak terbantahkan. Namun itu jangan menjadi alasan Pergunu untuk mengandalkan program-program dari Kementerian yang ada. Pergunu jangan bergantung pada Pemerintah. Ini yang perlu di-rescedule agenda-agenda Pergunu. Sebagai banom NU, Pergunu harus ikut induknya (PBNU), jadi tidak usah blusukan (mencari proyek) ke Kementerian,� pungkas Kiai Mujib. (Kendi Setiawan/Fathoni)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Aswaja, Jadwal Kajian, Pahlawan Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 25 Januari 2018

Kesadaran Bercocok Tanam ala Pelajar NU Purworejo

Purworejo, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Terinspirasi lagu Iwan Fals, Sofyan Rizali Zain mengajak rekan-rekannya untuk memanfaatkan pekarangan rumah kontrakan yang juga merupakan kantor Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Lahan pekarangan samping rumah hijau yang berada di jalan sibak nomer 18 Pangen Jurutengah Purworejo itu tak lagi penuh dengan sampah. Pekarangan tersebut kini bersih bahkan hijau karena telah ditanami tanaman cabe rawit setan dengan menggunakan kantong plastik (polybag) dan adapula yang langsung ditanam ditanah.




Kesadaran Bercocok Tanam ala Pelajar NU Purworejo (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesadaran Bercocok Tanam ala Pelajar NU Purworejo (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesadaran Bercocok Tanam ala Pelajar NU Purworejo

Sofyan yang juga merupakan Ketua PC IPNU Kabupaten Purworejo mengatakan, sedikitnya ada 12 anak yang tinggal dikantornya. Mayoritas adalah mahasiswa di beberapa perguruan tinggi di Purworejo.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

�Disela-sela kesibukan kuliah dan beraktifitas di organisasi saya mengajak mereka untuk mengolah lingkungan sekitar dengan belajar menanam cabe. Kedepan rencananya akan ditambah beberapa jenis sayur-sayuran yang lain seperti terong dan tomat,� terang fans berat Iwan Fals tersebut Rabu pekan lalu.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sofyan menambahkan, ide mengolah pekarangan tersebut sebenarnya datang dengan tiba-tiba yaitu saat mendengarkan lagu Iwan Fals yang berjudul �Tanam-tanam Siram-siram� dan �Pohon Kehidupan�. Setelah mendengarkan lagu tersebut kemudian ia tergugah dan mulai mengajak teman-temannya untuk berdiskusi tentang pemanfaatan lahan dilingkungan.

�Dari diskusi itulah kemudian tercetus ide untuk menanam cabe sebagai percobaan. Apalagi informasi dari berbagai media bahwa dunia saat ini mulai mengalami krisis biji-bijian. Jadi mau tidak mau, walaupun sedikit pekarangan harus tetap diolah,� ucapnya.

Setelah semua sepakat, kemudian ia meminta salah satu rekan yang kebetulan juga memiliki pengalaman menanam cabe dan berhasil di daerahnya. Karena selain untuk mengisi waktu luang penghuni kontrakan, Sofyan berharap pekarangan hijau garapannya menjadi laboratorium bercocok tanam bagi rekan-rekannya.

�Kita niati untuk belajar, siapa tahu setelah kuliah selesai, pengalaman menanam cabe dengan teknik yang benar menjadi pelajaran mereka untuk ditekuni di daerahnya masing-masing,� tandasnya.

Lebih lanjut Sofyan mengatakan, kegiatan menghijaukan pekarangan ini akan terus dikampanyekan kepada kader-kader, saudara dan teman-temannya. Ia membayangkan jika setiap pekarangan rumah ditanami sayur-sayuran paling tidak akan terjadi penghematan yang luar biasa.

�Terus terang saya prihatin dengan perilaku pola hidup masyarakat yang cukup boros. Kalau bisa menanam, ngapain harus beli. Seandainya mereka mau menanam tiga polybag cabe, kenaikan harga cabe yang terjadi beberapa waktu yang lalu tidak akan meresahkan masyarakat,� tandasnya.

Sementara itu, Asrul Hadi (25) warga Hardimulyo Kecamatan Kaligesing, seorang petani cabe yang menjadi tutor penanaman cabe tersebut mengatakan, langkah yang ditempuh oleh mahasiswa yang berupaya menghijaukan pekarangannya tersebut sangat positif.

�Meski mereka belum berpikir tentang hasil secara ekonomi, karena lahannya yang terbatas namun seandainya ditekuni saya yakin akan menjadi penghasilan sampingan bagi mereka.�katanya.

Asrul mengaku untuk sementara kendala yang dihadapi adalah sempitnya lahan. Selain itu, mencari tanah yang subur untuk mengisi polybag juga agak sulit karene kebetulan berada di wlayah perkotaan.

�Berbeda dengan menanam di desa yang bisa minta kepada tetangga. Kalau disini semuanya harus membeli, sehingga kos produksinya menjadi tinggi,�ucapnya. (Lukman Hakim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Aswaja, Internasional, Ahlussunnah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Pages

Archive

Diberdayakan oleh Blogger.