Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Februari 2018

Kiai Said: Kokohkan Islam Moderat untuk Perdamaian

Jambi, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siroj, menegaskan pentingnya menguatkan nilai-nilai Islam moderat di Indonesia. Pesan ini ditegaskan Kiai Said pada agenda pengajian Haul 3 Kiai Jambi (Syaikh Majid al-Jambi, Kiai Ibrahim Majid, dan Kiai Qadir Ibrahim) di Pesantren Asad di Jambi, Rabu (29/11/2017).

Hadir dalam agenda ini, Pengasuh Pesantren Asad KH Najmi Qadir, Ketua Umum Pagar Nusa M. Nabil Haroen, Wasekjen PBNU H Suwadi D. Pranoto, Bendahara Pagar Nusa, Indrawan Husairi, Ketua NU Care-LAZISNU Syamsul Huda, Gubernur Jambi Zumi Zola, serta sesepuh NU dan pesantren di Jambi.




Kiai Said: Kokohkan Islam Moderat untuk Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Kokohkan Islam Moderat untuk Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Kokohkan Islam Moderat untuk Perdamaian

Dalam ceramahnya, Kiai Said menegaskan pentingnya menyebarkan nilai-nilai Islam Nusantara di ranah internasional dan media sosial. "Islam Nusantara bukan aliran, bukan agama baru, tapi khashaish, mumayyizaat, tipologi. Ini yang harus dipahami secara mendalam," jelas Kiai Said.

Dalam pandangan Kiai Said, penting untuk merawat budaya sebagai pondasi dakwah keislaman. "Islam Nusantara itu Islam yang dibangun dari sendi-sendi budaya. Budaya negeri ini, bukan budaya Arab, tapi budaya Nusantara," terang Pengasuh Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jakarta.

"Saya di Arab tiga belas tahun, pulang membawa empat anak. Tapi yang saya bawa pulang itu ilmu, bukan simbol-simbol budaya. Demikian pula Prof Quraish Shihab, Prof Aqil Munawar, dan Kiai Mustofa Bisri. Semuanya bawa ilmu, tidak ada yang mengimpor budaya Arab ke negeri ini," ungkapnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kiai Said berpesan agar warga muslim negeri ini mencintai tanah air. "Mari kita cintai negeri ini. Mari kita kuatkan Islam dan nasionalisme kita. Nabi Muhammad diperintahkan oleh Allah untuk mengusir orang-orang yang bikin gaduh, bikin rusuh di Madinah," jelasnya.

Lebih lanjut, Kiai Said mendorong pemimpin daerah tegas terhadap pelaku kerusahan, kelompok teroris. "Untuk sekarang, para pemimpin daerah, silakan usir para pengusik dan perusuh bangsa. Usir ideologinya, kalau orangnya silakan masuk NU, silakan masuk Muhammadiyah, masuk Persis, dan ormas Islam moderat lainnya," tegas Kiai Said.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

KH Najmi, pengasuh pesantren Asad Jambi, mengungkapkan pentingnya meneladani kiai-kiai untuk masa depan santri. "Syekh Majid al-Jambi, Kiai Ibrahim Majid, dan Kiai Qadir Ibrahim, merupakan teladan bagi pengembangan keilmuan dan akhlak santri," ungkapnya.

Pesantren Asad Jambi, didirikan oleh Kiai Majid al-Jambi, yang diteruskan oleh Kiai Ibrahim Majid dan Kiai Qadir Ibrahim. Kiai Majid al-Jambi, merupakan penasihat keagamaan Sultan Thaha, Kasultanan Jambi. Pada masa kolonial, Kiai Majid pernah diutus Sultan Jambi ke Kasultanan Ottoman di Turki, untuk melawan pasukan kolonial di Hindia Belanda.

Pada kesempatan ini, Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen, mengkonsolidasi pasukan inti Pagar Nusa di Jambi. "Kalau kita mau keras, itu harus punya keris, seperti pernyataan Kiai Wahab Chasbullah. Pasukan inti Pagar Nusa untuk mengabdi dan mengawal kiai, mengkampanyekan Islam Nusantara," jelas Nabil.

Dalam kesempatan ini, Direktur NU Care-LAZISNU, Syamsul Huda juga menyerahkan bantuan untuk perbaikan infrastrukur pesantren Asad Jambi. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahlussunnah, IMNU Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selasa, 30 Januari 2018

Menakar Kualitas Takwa Pasca Ramadhan

Oleh Nasrulloh Afandi

Pasca Ramadhan hanya ada dua pilihan; beruntung atau buntung (dalam ketakwaan). Faktanya bermacam-macam kondisi ketakwaan orang-orang beriman selepas mengarungi �lautan mutiara� bernama bulan Ramadhan.




Menakar Kualitas Takwa Pasca Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menakar Kualitas Takwa Pasca Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menakar Kualitas Takwa Pasca Ramadhan

Esensi Ramadhan adalah momentum spesial �karantina suci� satu bulan penuh, menggembleng jiwa-jiwa yang beriman untuk menjadi lebih unggul, dan prestasi puncaknya yaitu menggapai �honoris causa� suci dari Allah swt berupa; takwa.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Identiknya suatu karantina, berkualitas atau buruknya hasil tergantung pada kemauan dan keseriusan pribadi peserta. Pasca karantina bernama Ramadhan, tentu berbeda-beda hasilnya, dari masing-masing �peserta�, ada yang mendapatkan hasil maksimal, ada yang sederhana.



Untuk Apa Takwa Setelah Ramadhan?


Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Ramadhan bukan momentum kesalehan musiman, kemudian �tidak perlu� saleh di bulan-bulan lainnya, dan hanya akan (kembali) beramal saleh pada Ramadhan tahun berikutnya.

Syekh Doktor Ali Jum�ah, mufti besar Mesir beropini: "Orang yang telah berada pada posisi benar-benar takwa, ia otomatis mendapatkan banyak keuntungan, bukan hanya dalam konteks beragama (ukhrawi) tetapi juga mendapatkan banyak kemudahan dan kesuksesan dalam hal duniawi."

Hal terpenting untuk diperhatikan dan dievaluasi adalah, apa yang dihasilkan setelah proses �karantina� selama satu bulan Ramadhan itu selesai? Bukan hanya dominan berlebihan gegap gempita, dalam aktivitas fisik saat �karantina� belaka, tanpa penghayatan mendalam, agar karantina (Ramadhan) yang dibayar mahal dengan �ongkos� haus dan dahaga selama sebulan itu, tidak sia-sia.

Idul Fitri adalah awal kembali suci, setelah segala noda, dosa, dan sifat-sifat tak terpuji dibersihkan dalam ruang karantina bernama Bulan Ramadhan. Oleh karenanya, sudah semestinya manusia menjaga kesucian tersebut setelah Ramadhan usai, ditandai dengan hari Raya Idul fitri, sampai dengan datangnya Ramadhan berikutnya.

Diharapkan setelah Ramadhan, takwa itu kemudian melekat pada kepribadian orang-orang beriman, yang secara estafet akan melahirkan hal-hal positif dan unsur-unsur kemanfaatan dalam kehidupan si muttaqin (orang bertakwa). Dan di konteks inilah titik temu puncak dari ibadah puasa Ramadhan dengan ibadah-ibadah lain seperti haji, zakat dan berbagai ibadah lainnya.

Ramadhan ladang mutiara bagi yang memfungsikan momentum itu sebaik-baiknya. Namun Ia bukan apa-apa bagi orang yang salah jalan dalam menelusurinya.

Sungguh kerugian besar Jika Pasca Karantina tidak menghasilkan hal-hal positif yang terkait dengan ketakwaan setelah Ramadhan berlalu. Kerugian tersebut bukan hanya karena dibayar dengan jerih payah haus-dahaga satu bulan penuh. Tetapi yang lebih harus ditangis-sesali adalah lewatnya peluang �Tambang mutiara� setahun sekali yang bernama bulan Ramadhan itu.

Ibarat kendaraan mewah, pasca Ramadhan, manusia adalah habis melakukan perbaikan total, atau �turun mesin�, sudah semestinya harus dijaga, agar jangan kembali rusak hanya dalam hitungan detik, setelah keluar dari �bengkel spesialis� bernama Ramadhan.

Dalam konteks menjaga kesucian Ramadhan setelah Idul Fitri. Waktu saya masih remaja, nasihat orang tua saya, dengan bahasa sederhana: �Janganlah panas setahun, sirna hanya diguyur hujan sesaat� . Maksudnya, janganlah kesucian pribadi muslim yang sudah dibersihkan, susah payah (selama bulan Ramadhan) itu kembali dikotori dengan kemaksiatan dalam sekejap, setelah Ramadhan berlalu.

Qaidah Fiqih pun berujar: �al-umuru bi maqashidiha� (status suatu amal perbuatan itu terganggun ikhlas dan tidaknya niat). Jadi, bila kemarin-kemarin saat menjalankan ibadah puasa Ramadhan tanpa menyertakan (niat) baik untuk meningkatkan religiusitas selepas Ramadhan, untuk apa jerih payah berpuasa?

Melacak Kontrol Takwa

Dalam tinjauan Maqashid Syariah, bukan hanya ibadah puasa Ramadhan, namun semua amal ibadah adalah tangga untuk menggapai posisi tertinggi dalam beragama; bernama takwa.

Selain Ramadhan yang hanya setahun sekali. Jika diselami, sebenarnya setiap orang beriman, estafet diberi �pengingat� dipandu untuk selalu ikhlas dalam beribadah, harus berniat murni hanya untuk mengharap ridha Allah swt, sehari semalam dalam salat lima kali. Yaitu di rakaat awal, sebelum membaca al-Fatihah, ketika membaca doa iftitah: �Inna shalat� wa nusuk� wa mahy�y� wa mam�t� lill�hi rabil a�lamin.� Artinya: �Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (QS Al-An�am: 162)

Di konteks ini, juga ada momentum mingguan. Hari raya Islam setiap minggu, yaitu setiap hari Jumat, orang-orang beriman dianjurkan melakukan introspeksi diri (muhasabah nafs) atas amal-perbuatannya selama satu minggu, banyak mana antara amal buruk dan amal baiknnya dalam seminggu itu? Untuk kemudian meningkatkan ketaatan beribadah, menggapai takwa.

Karena itulah, Sang khatib Jumat pun disyaratkan dalam berkutbah untuk berpesan kepada para jamaahnya; untuk selalu bertakwa kepada Allah swt. Bahkan tidak syah khutbahnya jika meninggalkan pesan untuk bertakwa.

Inilah dua momentum introspeksi diri, harian dan mingguan, untuk menjaga kontinuitas dan kualitas ketakwaan, namun sering terabaikan oleh Muslim yang taat sekalipun.

Mengapa Takwa Menghilang Pasca Ramadhan?

Takwa adalah �bahan pokok� untuk menciptakan peradaban Islami manusia. Karena dengan takwa otomatis menjadikan pribadi manusia terhormat. Mencampakkan hal-hal yang kurang patut menurut agama dan bertentangan dengan norma sosial berbangsa. Dengan kata lain, menjauhkan diri dari fenomena-fenomena jahiliyah (egois, rakus kekuasaan, sombong, gila hormat, haus menumpuk harta dan sejenisnya)

Dalam tinjauan maqashid syariah, jika selepas Ramadhan, tidak tertanamnya ketakwaan pada kepribadian manusia, dan kembali bermaksiat, berarti Ia tidak mendapatkan target utama kewajiban beribadah puasa(Takwa) Itu.

Kemana dan dimanakah hasil puasa Ramadhan yang bernama takwa itu �lari� atau �bersembunyi�? Jika mulai komunitas �akar bumi� sampai �atap langit� pasca Ramadhan, kerusakan akhlak kian kembali menjadi-jadi, korup (Para pemegang jabatan) dan pergaulan bebas (generasi muda) adalah fenomena yang paling mencolok di pentas publik. Bukankah mereka beragama (Islam) dan fisiknya pun berpuasa setiap Ramadhan?

Merespon fenomena itu, publik Muslim religius tidak perlu heran. Sungguh banyak orang yang berpuasa Ramadhan, tetapi mereka masih belum termasuk golongan orang bertakwa. Karena landasan ibadah cuman �fisik� atau �kulit� belaka. Jadi wajar saja ketika Ramadhan usai, tidak �Saleh� atau tidak �Takwa� lagi.

Dalam tinjauan Ilmu Balaghoh, gegap gempita �seremonial� ibadah Ramadhan di ruang publik Indonesia ini (masih) sebatas pendahuluan (muqaddimah) dan belum menghasilkan kesimpulan (natijah), yaitu kondisi takwa. Perlu adanya introspeksi dari masing-masing individu yang melaksanakan puasa dan berbagai ibadah di bulan Ramadhan, untuk bisa menggapai natijah (hasil ibadah) yaitu takwa.

Jika Nabi saw bersabda: �Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga.�(HR Turmudzi). Fakta pun berbicara, berapa banyak selepas Ramadhan yang (kembali) korupsi? Berapa banyak wanita saat Ramadhan mendadak berbusana Islami�Pun dengan harga sangat mahal�tetapi (kembali) berpakaian mini selepas Idul Fitri? Dan berbagai fenomena lainnya yang (kembali) menabrak rambu-rambu Ilahi setelah Idul Fitri?

Waspadalah! Itulah fenomena skandal berpuasa tetapi masih belum berkualitas (takwanya) pasca Idul Fitri.



Penulis adalah Kandidat Doktor Maqashid Syariah, Universitas al-Qurawiyin Maroko. Wakil Ketua Yayasan Pesantren Asy-Syafi�iyyah, Kedungwungu, Krangkeng, Indramayu. ?



Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahlussunnah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 26 Januari 2018

PBNU Dukung Penghentian Kurikulum 2013

Mataram, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendukung kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menghentikan Kurikulum 2013 karena dinilai sangat memberatkan peserta didik.

"Saya sendiri saja mengaku bahwa pelaksanaan kurikulum 2013 sangat kacau dan memberatkan anak didik. Untuk itu, saya sangat setuju kalau itu dihentikan," tegas Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj di Mataram, Sabtu.




PBNU Dukung Penghentian Kurikulum 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Dukung Penghentian Kurikulum 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Dukung Penghentian Kurikulum 2013

Said Aqil berharap pemerintah segera melakukan perbaikan, demi kebaikan dunia pendidikan Indonesia.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Rasyid Baswedan memutuskan untuk menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 di seluruh Indonesia untuk disempurnakan.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Proses penyempurnaan Kurikulum 2013 tidak berhenti, akan diperbaiki dan dikembangkan, serta dilaksanakan di sekolah-sekolah percontohan yang selama ini telah menggunakan Kurikulum 2013 selama tiga semester terakhir," kata Anies Baswedan di Jakarta, kemarin. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Berita, Ahlussunnah, Kyai Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 25 Januari 2018

Kesadaran Bercocok Tanam ala Pelajar NU Purworejo

Purworejo, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Terinspirasi lagu Iwan Fals, Sofyan Rizali Zain mengajak rekan-rekannya untuk memanfaatkan pekarangan rumah kontrakan yang juga merupakan kantor Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Lahan pekarangan samping rumah hijau yang berada di jalan sibak nomer 18 Pangen Jurutengah Purworejo itu tak lagi penuh dengan sampah. Pekarangan tersebut kini bersih bahkan hijau karena telah ditanami tanaman cabe rawit setan dengan menggunakan kantong plastik (polybag) dan adapula yang langsung ditanam ditanah.




Kesadaran Bercocok Tanam ala Pelajar NU Purworejo (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesadaran Bercocok Tanam ala Pelajar NU Purworejo (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesadaran Bercocok Tanam ala Pelajar NU Purworejo

Sofyan yang juga merupakan Ketua PC IPNU Kabupaten Purworejo mengatakan, sedikitnya ada 12 anak yang tinggal dikantornya. Mayoritas adalah mahasiswa di beberapa perguruan tinggi di Purworejo.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

�Disela-sela kesibukan kuliah dan beraktifitas di organisasi saya mengajak mereka untuk mengolah lingkungan sekitar dengan belajar menanam cabe. Kedepan rencananya akan ditambah beberapa jenis sayur-sayuran yang lain seperti terong dan tomat,� terang fans berat Iwan Fals tersebut Rabu pekan lalu.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sofyan menambahkan, ide mengolah pekarangan tersebut sebenarnya datang dengan tiba-tiba yaitu saat mendengarkan lagu Iwan Fals yang berjudul �Tanam-tanam Siram-siram� dan �Pohon Kehidupan�. Setelah mendengarkan lagu tersebut kemudian ia tergugah dan mulai mengajak teman-temannya untuk berdiskusi tentang pemanfaatan lahan dilingkungan.

�Dari diskusi itulah kemudian tercetus ide untuk menanam cabe sebagai percobaan. Apalagi informasi dari berbagai media bahwa dunia saat ini mulai mengalami krisis biji-bijian. Jadi mau tidak mau, walaupun sedikit pekarangan harus tetap diolah,� ucapnya.

Setelah semua sepakat, kemudian ia meminta salah satu rekan yang kebetulan juga memiliki pengalaman menanam cabe dan berhasil di daerahnya. Karena selain untuk mengisi waktu luang penghuni kontrakan, Sofyan berharap pekarangan hijau garapannya menjadi laboratorium bercocok tanam bagi rekan-rekannya.

�Kita niati untuk belajar, siapa tahu setelah kuliah selesai, pengalaman menanam cabe dengan teknik yang benar menjadi pelajaran mereka untuk ditekuni di daerahnya masing-masing,� tandasnya.

Lebih lanjut Sofyan mengatakan, kegiatan menghijaukan pekarangan ini akan terus dikampanyekan kepada kader-kader, saudara dan teman-temannya. Ia membayangkan jika setiap pekarangan rumah ditanami sayur-sayuran paling tidak akan terjadi penghematan yang luar biasa.

�Terus terang saya prihatin dengan perilaku pola hidup masyarakat yang cukup boros. Kalau bisa menanam, ngapain harus beli. Seandainya mereka mau menanam tiga polybag cabe, kenaikan harga cabe yang terjadi beberapa waktu yang lalu tidak akan meresahkan masyarakat,� tandasnya.

Sementara itu, Asrul Hadi (25) warga Hardimulyo Kecamatan Kaligesing, seorang petani cabe yang menjadi tutor penanaman cabe tersebut mengatakan, langkah yang ditempuh oleh mahasiswa yang berupaya menghijaukan pekarangannya tersebut sangat positif.

�Meski mereka belum berpikir tentang hasil secara ekonomi, karena lahannya yang terbatas namun seandainya ditekuni saya yakin akan menjadi penghasilan sampingan bagi mereka.�katanya.

Asrul mengaku untuk sementara kendala yang dihadapi adalah sempitnya lahan. Selain itu, mencari tanah yang subur untuk mengisi polybag juga agak sulit karene kebetulan berada di wlayah perkotaan.

�Berbeda dengan menanam di desa yang bisa minta kepada tetangga. Kalau disini semuanya harus membeli, sehingga kos produksinya menjadi tinggi,�ucapnya. (Lukman Hakim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Aswaja, Internasional, Ahlussunnah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Pages

Archive

Diberdayakan oleh Blogger.