Tampilkan postingan dengan label kita ini sama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kita ini sama. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Februari 2019

Menjaga Tradisi Bagian Dari Tugas Banser || Banser Boyolali

Salah Satu Tugas Ansor Dan Banser Adalah Menjaga Tradisi (Menjaga Tradisi Bagian Dari Tugas Banser)



Karanggede. Tradisi merupakan suatu bentuk kegiatan yang dilakukan terus menerus oleh masyarakat, sehingga menjadi suatu kebiasaan dan pada akhirnya menjadi bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat.

 Tradisi membentuk suatu nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang menjadi pedoman bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari serta menjadi suatu kekayaan budaya bagi suatu daerah yang harus dilestarikan dan dipertahankan keberadaannya. Sampai saat ini, masih banyak desa-desa di Jawa yang melakukan tradisi seperti itu.

Desa tersebut adalah Desa Pinggir Kec Karanggede Kab. Boyolali Salah satu tradisi yang masih dilakukan adalah tradisi selametan kematian Yang Selalu Di lakukan Oleh Sahabat-Sahabat Ansor Dan Banser Ranting Pinggir yang Selalu Mengikuti Acara Peringatan Malam Kematian Dari malam Pertama Sampai Malam 7 hari Di rumah Warga Desa pinggir tanpa Ada Undangan Khusus kali Ini Sahabat-Sahabat Ranting Pinggir Melaksanakan Peringatan Malam ke 5 Kematian Mbah Mursinah (78) Ibu dari Bapak Seri dan Bpk Sabar Salah satu Warga Dsn Pakisan Rt 05/Rw 01 Desa Pinggir.

Karna Mereka Meyakini Bahwa Tradisi Tersebut Adalah Bagian Dari Syiar Yang terdapat nilai-nilai Islam di dalam pelaksanaanya seperti membaca do�a-do�a, Ayat-ayat Al-Qur�an, sholawat, dan berdzikir yang dikenal dengan tahlilan .


Tradisi selametan setelah kematian tersebut sampai sekarang masih banyak dilakukan masyarakat di Desa Pinggir Kecamatan Karanggede Kab. Boyolali, karena didorong oleh suatu sistem keyakinan dan kepercayaan yang kuat terhadap sistem nilai dan adat istiadat yang sudah berjalan turun temurun.

bahwa keberadaan tradisi selametan kematian di Desa Pinggir tersimpan nilai positif dalam pelaksanaannya. Masyarakat di Desa Pinggir memiliki sudut pandang yang berbeda-beda dalam menilai tradisi tersebut.

Seperti halnya ada masyarakat yang memiliki keinginan atau termotivasi untuk menghadiri dan mengikuti kegiatan tersebut dan ada juga yang menilai bahwa kegiatan semacam itu tidak perlu dilakukan karena tidak ada hadist yang mendasarinya. Tradisi semacam ini perlu diambil nilai positif yang terkandung oleh masyarakat itu sendiri. Seperti halnya tradisi tersebut untuk silaturrahmi atau sekedar menyambung ikatan saudara dengan masyarakat satu dengan yang lain yang menimbulkan rasa satu kepentingan dan kebersamaan sehingga muncul hubungan sosial Yang Erat. (HR)

Kamis, 20 Desember 2018

Ketum PP GP Ansor: Gus Dur Pejuang Kemanusiaan, Penjunjung Keberagaman



foto gus yaqut cholil qoumas pada saat di madinah



Ansorbanserboyolali.blogspot.com  Ketua Umum PP GP Ansor (Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor) Yaqut Cholil Qoumas  mengenang sosok almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai pejuang kemanusiaan yang menjunjung tinggi keberagaman.

�Gus Dur selalu berada di garis depan membela kemanusiaan dan keberagaman. Bagi Gus Dur, tak ada artinya beragama jika seseorang kehilangan kemanusiaannya. Sebab sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat bagi kemanusiaan. Pembelaan Gus Dur terhadap manusia bukan berarti melupakan Tuhan,� kata pria yang akrab disapa dengan Gus Yaqut ini, dalam rangka memperingati Haul Ke-9 Gus Dur, Kamis (20/12/2018).

Gus Yaqut menegaskan, pemahaman Gus Dur yang sangat mendalam tentang agama Islam itulah yang membuat dirinya juga akan selalu berada di garis terdepan membela kemanusiaan. Karena itu, sebagai pimpinan pemuda GP Ansor, Gus Yaqut mengaku selalu meneladani dan menerapkan pandangan Gus Dur dalam kehidupan sehari-harinya.

Ucapan dan tindakan Gus Dur, lanjut dia, selalu menjadi inspirasi dalam berjuang menampilkan Islam rahmatan lil'alamin.

Dia mengatakan, Gus Dur selalu mengingatkan dan meyakinkan bahwa manifestasi pembelaan terhadap Tuhan yang paling luhur adalah menebar kasih sayang kepada semua makhluk-Nya. �Karena Tuhan dan para penghuni langit hanya akan merahmati mereka-mereka yang berkasih sayang terhadap semua penduduk bumi,� kata Gus Yaqut.

Selain itu, sambungnya, Gus Dur juga selalu memberikan contoh baik bertoleransi sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

�Kita bisa mengenang jejak-jejak perjuangan Nabi Muhammad SAW. Kita tahu ada Piagam Madinah, piagam yang sangat unik menurut saya. Kenapa Nabi pada waktu itu tidak menyebut Piagam Islam, tapi Piagam Madinah, karena tentu salah satunya Nabi tahu bahwa penduduk Madinah memiliki agama yang beragam. Beliau memberikan contoh bagaimana bertoleransi dengan sesama pemeluk agama,� katanya.

Dalam konteks Indonesia, lanjut Gus Yaqut, Gus Dur adalah tokoh besar yang tak pernah lelah mengkampanyekan tentang pluralitas, tentang keberagaman.

�Semoga bangsa Indonesia dapat mengambil teladan baik dari Rasulullah SAW atau teladan yang telah diberikan almarhum Gus Dur. Untuk itu, saya mengimbau jangan pernah pernah lelah mencintai Indonesia yang beragam ini,� tutur ketum PP GP Ansor ini.



Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Pages

Archive

Diberdayakan oleh Blogger.