Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Februari 2018

PBNU: Saatnya Dunia Bersatu Menyelamatkan Palestina

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kondisi memanas akibat penyegelan dan pelarangan aktivitas ibadah kepada umat Islam di kompleks Masjid Al-Aqsha memantik kecaman dan reaksi dari pelbagai pihak. Salah satunya dari Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini.




PBNU: Saatnya Dunia Bersatu Menyelamatkan Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Saatnya Dunia Bersatu Menyelamatkan Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Saatnya Dunia Bersatu Menyelamatkan Palestina

Helmy mengatakan bahwa konflik yang terjadi di Masjid Al-Aqsha sesungguhnya merupakan tragedi kemanusiaan yang sangat memilukan. Dalam tragedi itu hak ibadah yang sesungguhnya merupakan hal dasar setiap manusia, dikekang dan diintervensi. Inilah yang menurutnya sangat bertentangan dengan prinsip, hak, dan sekaligus rasa kemanusiaan.

Oleh karena yang terjadi merupakan tragedi kemanusiaan, tambah Helmy, maka tanggung jawab untuk mengatasi dan mencari solusi bagi tragedi tersebut merupakan tanggung jawab bersama.

Masalah Palestina, imbuhnya, harus diletakkan sebagai tragedi kemanusiaan, sehingga ini bukan semata-mata masalah yang harus ditanggung umat Islam semata. Maka sudah saatnya dunia bersatu menyelamatkan Palestina.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Seluruh komponen dan entitas dunia harus meletakkan masalah Palestina ini sebagai masalah dan tanggung jawab semua pihak," jelas Helmy, Rabu (26/7).

Terkait konflik yang terjadi di Palestina ini, pada Muktamar ke-33 NU di Jombang tahun 2015 komisi rekomendasi secara khusus merumuskan beberapa rekomendasi langkah kongkret yang harus dilakukan oleh pihak-pihak terkait, baik PBNU, Pemerintah, serta organisasi internasional seperti OKI dan PBB.?

Sebagaimana yang tertuang dalam rekomendasi tersebut, sikap PBNU dalam hal ini mendukung tegas kemerdekaan Palestina. (Fariz Alniezar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Makam, Kajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 19 Februari 2018

Geliat Seni Santri Nusantara

Selain fokus bertafaqquh fiddin (belajar ilmu-ilmu agama), santri juga tidak jarang yang memperdalam seni dan budaya sebagai bagian dari komitmen menyebarkan Islam melalui instrumen tersebut.

Sejak dahulu kala, kalangan santri sudah tidak asing dengan berbagai instrumen musik, seni suara, maupun film sebagal kanal dakwah Islam rahmatan lil alamin. Sebut saja Para Sineas andal di kalangan santri seperti Asrul Sani, Usmar Ismail, dan Djamaluddin Malik.

Kualitas film karya Sutradara Usmar Ismail tidak lapuk dimakan zaman. Terbukti dengan Film Tiga Dara karyanya yang diputar kembali tahun ini meskipun telah mencapai usia 60 tahun. Jika dirunut, seni di bidang lain juga tak kalah mengeliatnya sehingga membuat Majalah Risalah Nahdlatul Ulama sangat perlu mengangkat tema Seni Santri dalam edisi terbarunya, Edisi 65/Tahun X/1438 H/Oktober 2016.




Geliat Seni Santri Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Geliat Seni Santri Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Geliat Seni Santri Nusantara

Menurut Pemimpin Majalah Risalah, Musthafa Helmy dalam pengantar redaksinya, beredarnya kembali film Tiga Dara tentu mengembalikan ingatan masyarakat kepada H Usmar Ismail, sang sutradara sekaligus produser. Dia adalah mahaguru perfilman Indonesia yang juga dikenal sebagai tokoh Nahdlatul Ulama (NU).

Usmar Ismail, Asrul Sani, dan Djamaluddin Malik merupakan tiga serangkai seniman yang kebetulan semuanya berasal dari Sumatera Barat dan menonjol di zamannya. Usmar dan Asrul aktif dan di Lesbumi NU, sedangkan Djamaluddin aktif sebagai salah satu Ketua PBNU sejak NU menjadi partai politik kala itu.

Berbeda dengan film yang menjadi representasi seni di kalangan atas, Lesbumi di tingkat lokal dari seluruh daerah di Indonesia adalah seniman-seniman lokal yang cenderung tidak terkait dengan seni perfilman. Mereka adalah seniman santri di bidang lain.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Di Kabupaten Banyuwangi misalnya, ada Kiai Mahmud alias Bung Rewel yang memiliki Orkes Melayu Bintang Sembilan. Setiap manggung, orkes ini selalu membawakan nyanyian dan juga cerita sandiwara yang bercerita tentang sejarah dan perjuangan Islam di masa lalu. Begitu juga di Pasuruan dengan Orkes Al-Asyubban (Bangil), dan lain sebagainya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Lesbumi di derah juga dipenuhi dengan para seniman santri yang aktif dalam Ishari (Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia) yang hampir setiap mushalla dan masjid memiliki grup itu. Hadrah yang dikolaborasikan Samrah (seni rebana) mengkristal menjadi sebuah perpaduan musik indah.

Seniman santri yang mampu mengelaborasikan berbagai instrumen sehingga menjelma menjadi seni musik yang dapat dinikmati oleh semua kalangan sebut saja seperti Rhoma Irama, penyanyi dan pencipta lagi religi Opick, grup band Wali, Kiai Kanjeng, Ki Ageng Ganjur, dan lain sebagainya. Kesenian ini terus dijaga agar tetap menjadi instrumen dakwah efektif di tengah perubahan zaman.

Selain membahas geliat seni santri, Majalah setebal 66 halaman ini juga seperti biasa menyajikan bacaan dan informasi menarik terkait dengan ke-NU-an, fikrah, pengajian tafsir, tasawuf, sejarah, serta sebuah uraian menarik dari Ketua Lesbumi PBNU KH Agus Sunyoto yang menyoroti Sastra Lisan Santri di Era Global. Selamat membaca!

(Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kajian, Hadits, Pendidikan Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 12 Februari 2018

Gus Mus Ajukan Mbah Muchith dan Kiai Tholchah untuk Calon Rais Aam

Surabaya, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pejabat Rais Aam PBNU KH Mustofa Bisri atau Gus Mus mengajukan dua nama kiai sepuh untuk menjadi calon Rais Aam menggantikan KH Sahal Mahfudh yang meninggal setahun lalu. Mereka adalah KH Muchith Muzadi dan KH Tholchah Hasan.




Gus Mus Ajukan Mbah Muchith dan Kiai Tholchah untuk Calon Rais Aam (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Ajukan Mbah Muchith dan Kiai Tholchah untuk Calon Rais Aam (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Ajukan Mbah Muchith dan Kiai Tholchah untuk Calon Rais Aam

Hal itu disampaikan Gus Mus di sela bedah buku "Kiai Bisri Syansuri, Tegas Berfiqih, Lentur Bersikap" di Gedung PWNU Jatim di Surabaya, Ahad (1/2) kemarin. Menurut Gus Mus, dua tokoh senior NU itu layak dipilih pada Muktamar NU di Jombang pada 1-5 Agustus 2015 mendatang.

Gus Mus mengakui, saat ini sudah beredar dua nama calon rais aam yakni KH Hasyim Muzadi (Rais Syuriyah PBNU) dan dirinya sendiri. Namun, menurutnya, dua nama yang beredar di media massa itu masih belum pas memimpin NU.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Ada media yang menyebut saya dan Pak Hasyim itu bisa menjadi Rais Aam PBNU. Saya kira penulisnya tidak paham NU, karena saya dan Pak Hasyim disangka top, padahal saya dan Pak Hasyim itu tidak ada apa-apanya," ujar Gus Mus.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Lebih dari itu, Gus Mus mengingatkan bahwa rais aam bukan posisi yang layak diperebutkan. Dalam acara bedah buku tentang KH Bisri Syansuri itu, ia bercerita, dulu para peserta muktamar memilih Kiai Bisri sebagai Rais Aam, namun Kiai Bisri menolak dan menyerahkan kepemimpinan kepada KH Wahab Chasbullah yang lebih senior.

Waktu itu muktamirin mendukung Kiai Bisri karena Rais Aam Kiai Wahab sudah sepuh dan udzur akibat mata yang sulit untuk melihat. Namun, kata Gus Mus, Kiai Bisri Syansuri yang didukung para ulama justru mengambil mikrofon dan mengumumkan bahwa dirinya tidak akan mau menjadi Rais Aam Syuriyah PBNU selama KH Wahab Chasbullah masih hidup. �Janji itu dipenuhi hingga Kiai Wahab Chasbullah wafat," kata Gus Mus.

Dua orang yang dijagokan Gus Mus adalah tokoh senior NU yang aktif dalam organisasi semenjak masih muda. KH Muchit Muzadi (90 tahun) atau Mbah Muchit adalah salah seorang santri KH Hasyim Asy�ari di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Kakak kandung KH Hasyim Muzadi ini menjadi sekretaris pribadi Rais Aam PBNU KH Achmad Siddiq yang memimpin NU bersama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Sementara KH Tolchan Hasan (77 tahun) adalah menteri agama di era Presiden Gus Dur. Kiai Thochah pernah menjabat wakil Rais Aam pada periode kedua kepemimpinan Rais Aam KH Sahal Mahfudh. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah PonPes, Syariah, Kajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 03 Februari 2018

�Ibadah Haji Adalah Ibadah Anugerah"

Pringsewu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sebentar lagi musim ibadah haji datang. Para jamaah yang tahun ini berangkat menunaikan rukun Islam kelima itu sudah mempersiapkan diri, baik secara mental maupun fisik. Tidak terkecuali calon jamaah haji Kabupaten Pringsewu, Lampung, yang mendapat kesempatan berangkat tahun 2015 ini.

Beberapa dari mereka tampak sudah mulai mempersiapkan diri dan mengundang sanak saudara serta masyarakat sekitar untuk hadir mendoakan keberangkatan mereka pada acara walimatus safar lil hajj (syukuran jelang pemberangkatan haji).




�Ibadah Haji Adalah Ibadah Anugerah (Sumber Gambar : Nu Online)
�Ibadah Haji Adalah Ibadah Anugerah (Sumber Gambar : Nu Online)

�Ibadah Haji Adalah Ibadah Anugerah"

Menurut informasi dari Bagian Kesmasag Pemda Kabupaten Pringsewu, calon jamaah haji Kabupaten Pringsewu akan dilepas secara resmi oleh Bupati Pringsewu, Sabtu (5/9) di gedung NU Kabupaten Pringsewu.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Semakin dekatnya musim haji dan pernak-pernik rukun Islam yang kelima ini diangkat oleh KH. Hambali menjadi materi utama pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) yang dilaksanakan rutin di Gedung NU Kabupaten Pringsewu, Ahad (23/8).

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut KH Hambali yang juga Ketua MUI Kabupaten Pringsewu, tidak semua orang dapat melaksanakan Ibadah haji ke Baitullah. Ibadah haji merupakan ibadah yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang mampu.

"Mampu di sini artinya adalah mampu dalam banyak hal seperti mampu materi, fisik serta mampu dalam hal keilmuan di bidang haji," katanya seraya mengutip ayat al-Quran surat Ali Imran ayat 97 yang menjelaskan tentang hal tersebut.

Menurut KH Hambali, mereka yang dapat berangkat haji ke Tanah Suci adalah mereka yang telah menerima anugerah dari Allah SWT. Oleh karena itu ia menyarankan kepada jamaah haji khususnya yang berangkat pada tahun ini untuk dapat memanfaatkan anugerah Allah ini dengan sebaik baiknya.

"Pergunakan waktu sebaik-baiknya untuk berbagai macam ibadah seperti umrah, shalat arbain, membaca Quran dan Ibadah-Ibadah lain yang disunahkan," terangnya.

Namun KH Hambali juga mengingatkan kepada para Jamaah untuk tetap menjaga kondisi kesehatan fisik dan mental selama pelaksanaan ibadah haji agar syarat, rukun dan wajib haji dapat dilaksanakan dengan sempurna juga.

Tampak hadir pada kesempatan kegiatan Jihad ini beberapa pengurus NU yang juga akan melaksanakan ibadah haji pada tahun ini, seperti Adi Ben Slamet (Sekretaris PCNU Kabupaten Pringsewu), Muhammad Faozan (Wakil Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu) dan Ustadz Sodiqin (Ketua MWCNU Kecamatan Pringsewu). (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kajian, Bahtsul Masail, RMI NU Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Pages

Archive

Diberdayakan oleh Blogger.