Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Kader IPPNU Korban Bom Kampung Melayu Masih Dirawat di RS

Jakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Teror bom di Terminal Kampung Melayu, Jakarta timur, Rabu malam (24/5) lalu menyebabkan tiga anggota polisi meninggal dunia dan 6 polisi luka-luka. Selain itu juga terdapat 5 warga sipil menjadi korban luka, salah satunya Susi Afitriyani yang merupakan aktivis Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Brebes.

Korban yang akrab disapa Pipit adalah warga Desa Karangsembung, Kecamatan Songgom, Brebes, Jawa Tengah. Pipit merupakan mahasiswi yang tengah menimba ilmu di Universitas Azzahra Jakarta. Hingga kini ia masih menjalani perawatan intensif di RS Budhi Asih Kramatjati, Kota Jakarta Timur.




Kader IPPNU Korban Bom Kampung Melayu Masih Dirawat di RS (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader IPPNU Korban Bom Kampung Melayu Masih Dirawat di RS (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader IPPNU Korban Bom Kampung Melayu Masih Dirawat di RS

Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Puti Hasni beserta rombongannya membesuk Susi Afitriyani di rumah sakit itu, Sabtu (27/5). Puti didampingi Bendahara Umum Ainun Nikmah melihat secara langsung kondisi korban.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Korban merupakan kader IPPNU asal Brebes yang pernah menjabat sebagai ketua komisariat MTs, ketua ranting , dan sempat menjadi pengurus Pimpinan Cabang IPPNU Brebes," jelas Ainun saat ditemui usai menjenguk korban.

Menurut Ain, sapaan akrab Bendahara Umum PP IPPNU itu, Pipit mengalami patah tulang di lengan bagian kiri karena hempasan ledakan. Korban mendapat jahitan di punggung karena luka serpihan dan luka-luka di kaki. "Korban terkena ledakan pertama.? Lalu berlari ke polisi untuk minta pertolongan sebelum adanya ledakan kedua," tutur Ain

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selain itu Puti juga menyampaikan bela sungkawa dan memberikan semangat untuk Pipit dan keluarganya.

"Saya mengutuk keras peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di Kampung Melayu beberapa hari yang lalu. Apa pun motifnya, teror tidak sesuai dengan ajaran agama mana pun," kata Puti usai menjenguk Pipit.

�IPPNU mendesak polisi dan aparat hukum mengusut tuntas sampai ke akar-akarnya. Menyampaikan duka cita mendalam kepada para korban," ujarnya

Puti juga mengajak semua elemen masyarakat turut waspada sedini mungkin terhadap potensi terorisme di lingkungan masing-masing. Ia juga meminta pemerintah semakin aktif menggencarkan pendekatan lembut dalam menangkal radikalisme dan ekstremisme dengan melibatkan tokoh-tokoh masyarakat.

Mengenai hal tersebut, Puti menginstruksikan kepada seluruh jajaran pengurus dan kader IPPNU di mana pun berada agar selalu mendakwahkan Islam Rahmatan lil aalamiin, mengajak semua masyarakat untuk selalu merawat kebinekaan, dan menghormati setiap perbedaan, serta berkampanye perdamaian tanpa lelah. (Anty Husnawati/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nahdlatul, Sejarah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 23 Februari 2018

Selfie dan Kemabruran Ibadah Haji

Oleh Ach. Mudzakki M

Setiap orang yang melaksanakan ibadah haji tentu berharap agar hajinya mabrur, karena haji yang mabrur memiliki pahala yang besar. Menunaikan ibadah haji merupakan kesempatan istimewa bagi umat muslim, terutama bagi mereka yang berada di negara yang jauh dari Mekkah. Ongkos dan biaya yang mahal menjadikan ibadah haji identik dengan kemewahannya tersendiri.




Selfie dan Kemabruran Ibadah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Selfie dan Kemabruran Ibadah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Selfie dan Kemabruran Ibadah Haji

Mari sejenak menyimak sebuah kisah menarik berkaitan dengan haji pada masa Nabi Muhammad SAW. Ada orang miskin yang ingin menunaikan ibadah haji, ia rupanya telah mengumpulkan semua biaya ibadah haji itu selama 20 tahun. Namun, ketika dalam perjalanan mulia menuju Mekkah, ia menyaksikan banyak kaum muslimin yang sedang dilanda kemiskinan di mana-mana. Tidak tega melihat saudara-saudaranya yang seiman sedang membutuhkan bantuan, ia pun kemudian mengurungkan niatnya untuk ziarah ke Mekkah. Selanjutnya ia bagi-bagikan semua hartanya kepada mereka. Persoalan itu kemudian sampai ke telinga Nabi dan Nabi pun haru mendengarnya. Selanjutnya nabi bersabda "hajimu sah dan kamu berhak masuk surga".

Dari kisah di atas menunjukkan bahwa rukun Islam kelima itu bukan hanya ibadah yang kaitannya dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga ibadah yang menuntut terwujudnya keshalehan sosial (hablum minannas). Sehingga dari perpaduan entitas tersebut mewujudkan kehidupan manusia yang baik (insan kamil).

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Konsepsi Haji



Menunaikan ibadah haji merupakan bentuk ritual tahunan yang dilakukan kaum muslimin. Dilakukan dalam kondisi mampu untuk berkunjung dan melaksanakan kegiatan ibadah di tempat-tempat Arab Saudi yang dikenal dengan musim haji (bulan Dzulhijah).

Secara epistimologi haji bermakna menyengaja, menuju dan mengunjungi. Sedang menurut ishthilah fiqhiyah adalah menuju ke baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan ibadah. Menurut Ali Shariati dalam bukunya yang berjudul Haji bahwa ibadah tersebut merupakan kepulangan manusia kepada Allah SWT yang muthlaq, yang tidak memiliki keterbatasan dan yang tidak dipadankan oleh sesuatu apapun. Kepulangan yang merupakan gerakan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai, dan fakta-fakta.

Sedangkan pengertian haji mabrur, mengutip pendapat Jalaludin As Suyuti dan Muhyiddin Syarf An-Nawawi cukup kiranya untuk mendefinisikannya. Menurutnya, haji mabrur adalah haji yang diterima dan dibalas dengan pahala yang sangat besar yakni surga, yang mana, di dalamnya tidak tercampur kemaksiatan, dan unsur-unsur riya�. Sebagaimana merujuk pada pendapat Al Qurthubi bahwa haji mabrur adalah haji yang dipenuhi seluruh ketentuanya dan dijalankan dengan sesempurna mungkin oleh pelakunya sebagaimana yang dituntut darinya.

Pergeseran Ekspresi Ibadah Haji



Namun, kesempatan mewah ini seringkali membuat orang yang mampu menunaikan ibadah haji acap kali digunakan sebagai ajang pamer. Entah caranya dengan selfie atau live video yang kemudian mengunggahnya ke media sosial. Alangkah ruginya kita melakukan amal ibadah haji dengan bersusah payah, mengerahkan banyak pengorbanan fisik dan materi, namun kemabrurannya hilang karena kesalahan motivasi atau niat, seperti riya� (pamer), �ujub (membanggakan diri sendiri), takabbur (sombong), dan sebagainya.

Menurut pakar sosiologi, selfie diartikan sebagai aksi narsistik untuk mengabadikan gambar diri sendiri melalui sebuah ponsel atau kamera digital. Fenomena ini memberikan peluang bagi pelaku untuk tetap eksis dan mendokumentasikannya. Dan adanya fenomena ini juga dapat mengakibatkan banyak hujatan karena mempunyai tendensi negatif dan melanggar norma.

Seakan, praktek selfie menjadi rukun ibadah haji yang baru. praktek yang seakan tidak komplit ketika tidak menjalankanya. Ratusan bahkan ribuan jamaah haji yang terkena virus selfie. Akibatnya, praktek tersebut hanya akan mengganggu ibadah jamaah lain dan menodai nilai-nilai dari ibadah tersebut. Pada musim haji 2015 lalu, terjadi musibah yang mengakibatkan robohnya crane di masjidil haram, dan banyak dari jamaah haji yang mendokumentasikan musibah itu dengan ber-selfie dan menjadikanya latar padan akun media sosial.

Sebenarnya pendapat yang berkaitan dengan mendokumentasikan peristiwa langka dan peristiwa mewah telah lama disuarakan. Pendapat pertama dari Assim Al Hakim dari Arab Saudi adalah pendapat yang cukup tegas dan keras melarang karena hal-hal seperti itu dapat meciptakan sifat riya� dan pamer yang merusak tujuan haji. Kemudian pendapat kedua dari seorang Profesor Hukum Syariah dari Riyadh Arab Saudi adalah diperbolehkan dalam mendokumentasikan momentum haji dengan catatan tidak untuk pamer, diperbolehkan juga ketika telah menyelesaikan ritual syarat dan rukun haji, dan diperbolehkan ketika tidak mengganggu ibadah orang lain.



Penulis tinggal di Pondok Pesantren Nailul Ula Center Plosokuning, Minomartani, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta
Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nahdlatul, Nusantara, Pendidikan Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 19 Februari 2018

KHA Musallim Ridlo, Singa Podium dari Banyumas

KHA Musallim Ridlo adalah satu mubalig alias singa podium dari Kabupaten Banyumas. Almarhum dikenal sosok ulama yang moderat, guru santri, praktisi politik, dan menjabat Ketua NU Banyumas selama tiga dekade. Beliau wafat seratus hari silam, tepatnya tanggal 1 Mei 2014, pada usia 84 tahun.

�Warga Nahdliyin merasa sangat kehilangan beliau. Kiai Musallim adalah sosok yang sangat konsisten dalam memperjuangkan dan membela NU,� kata Drs H Taefur Arofat, salah satu pengurus PCNU Kabupaten Banyumas.




KHA Musallim Ridlo, Singa Podium dari Banyumas (Sumber Gambar : Nu Online)
KHA Musallim Ridlo, Singa Podium dari Banyumas (Sumber Gambar : Nu Online)

KHA Musallim Ridlo, Singa Podium dari Banyumas

?

Tokoh kelahiran 27 Februari 1932 ini tumbuh dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Musallim kecil mendapat didikan agama langsung dari sang ayah Almaghfurlah KHA Masruri. Ketika para santri lain masih terlelap tidur, remaja Musallim mengaji seorang diri di bawah penerangan lampu minyak. �Dulu ayah mengaji dari jam 3 dini hari hingga waktu Subuh tiba,� tutur M Ibnu Ridlo (50), putera sulung almarhum.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Selain mengaji ilmu agama, Musallim muda juga menempuh pendidikan formal di Sekolah Rakyat (setara SD). Ternyata, kepiawaian Musallim dalam ilmu agama telah diakui sang ayah sekaligus guru saat usianya relalif muda. Suatu hari KHA Masruri akan mengimami salat jamaah seperti hari-hari biasa namun beliau merasa was-was saat hendak takbiratul ihram. Lantas, beliau memilih mundur dan meminta Musallim menggantikannya sebagai imam.

Setamat SR, pemuda Musallim melanjutkan nyantri ke Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Di sana dirinya banyak belajar dan menimba ilmu dari KH Wahid Hasyim, ayah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). �KH Wahid Hasyim adalah inspirator ayah dalam banyak hal,� kata M Ibnu Ridlo.

Kepergian KH Wahid Hasyim yang begitu tiba-tiba dalam sebuah kecelakaan lalu lintas sungguh memukul hatinya. Konon, semangat pemuda Musallim sempat drop sepeninggal Kiai Wahid. Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, beliau melanjutkan studi ke pesantren asuhan KH Bisri Mustofa di Rembang, JawaTengah. Sepulang nyantri dari Tebuireng dan Rembang, Kiai Musallim mulai berkiprah di bidang dakwah, pendidikan, dan politik.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Beliau mendapat amanah sebagai Ketua Partai NU Cabang Kabupaten Banyumas, saat itu partai politik sebelum berfusi ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dalam dunia pendidikan, almarhum turut serta merintis berdirinya Yayasan Perguruan Al-Hidayah yang berkantor pusat di Karangsuci Purwokerto bersama KH Muslich, KHM Sami�un, dan sejumlah ulama lain.

?

Politik dan Dakwah

Kiprah sebagai wakil rakyat dimulai saat beliau terpilih sebagai anggota DPR-GR Jawa Tengah (1971). Selanjutnya menjadi anggota DPRD Kabupaten Banyumas hingga tahun 1992. Semasa Ketua DPRD Kabupaten Banyumas dijabat Kisworo, dirinya menjabat Wakil Ketua DPRD bersama Agus Taruno.

Pada 1992-1997 KHA Musallim duduk sebagai anggota DPR-RI dari PPP. �Dalam dunia politik, Kiai Musallim dikenal sebagai sosok yang lurus ibarat penggaris; lempeng kaya garisan,� ujar Bupati Achmad Husein, seperti ditirukan M Ibnu Ridlo.

Aktivitas dakwah dan politik dilakoninya secara tulus dan penuh sukacita. Mengisi ceramah pengajian hingga pelosok pedesaan adalah hal dinantikan umat. Bahasa ceramahnya blakasuta alias lugas, tanpa tedheng aling-aling, sehingga mudah dicerna oleh kalangan awam sekalipun.

Sekadar catatan, beberapa tahun silam, Eyang Singa setiap malam Jumat Kliwon mengisi acara Gendu-Gendu Rasa di RRI Purwokerto. Hal ini diakui banyak pihak sebagai kiprah nyata dalam upaya nguri-nguri (baca: melestarikan) Bahasa Jawa dialek Banyumasan.

Demikian halnya dengan KHA Musallim Ridlo. Dalam aktivitas dakwahnya beliau sangat konsisten dengan dialek Banyumasan. Dalam konteks ini, Kiai Musallim adalah sosok ulama moderat-visioner yang layak menyandang gelar Pelestari Dialek Ngapak.

KHA Musallim Ridlo telah berpulang ke hadirat Allah, Kamis (1/5) silam. Jenazah almarhum dikebumikan di komplek Pondok Pesantren Al-Masruriyah Desa Kebumen, Kecamatan Baturraden. Dari pernikahannya dengan Nyai Solihah, beliau dikaruniai lima orang putra: M Ibnu Ridlo, Niswati Amanah, M Aman Ridlo, HM Maskun Ridlo, dan M Hanif Ridlo. Kini dakwah beliau di Pesantren Al-Masruriyah dilanjutkan HM Maskun Ridlo alias Gus Maskun. (Akhmad Saefudin)

Foto: KHA Musallim Ridlo (kanan) saat bersama KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nahdlatul Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 27 Januari 2018

Penjaga Cahaya Religiusitas di Ibukota Jakarta

Jakarta sebagai ibukota Indonesia identik dengan kehidupan metropolitan yang gemerlap dan hedonis. Tetapi cahaya pendidikan keagamaan masih bersinar di beberapa tempat, salah satunya di Pesantren Assidiqiyah Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Pesantren ini juga masih mempertahankan beberapa tradisi pengajian salaf, disamping pengajaran dari kurikulum resmi pemerintah.

Pada awalnya, Kiai Nur Iskandar sendiri agak ragu ketika pertama kali ingin mendirikan pesantren di lokasi tersebut. Awalnya, sebagai santri Pesantren Lirboyo, ia diminta oleh KH Mahrus Ali, pengasuh Lirboyo untuk mendirikan pesantren di Jakarta, tetapi ia belum berani memutuskan. Bahkan ketika ada seseorang yang berniat memberi tanah wakaf, ia pun masih ragu. Isyarat datang ketika berangkat haji ke Makkah, ia diminta oleh seorang asing untuk mengaji. Awalnya Kiai Nur menolak karena merasa masih muda padahal disitu ada beberapa kiai senior seperti KH As�ad Syamsul Arifin, KH Subakir, dan Kiai Muhtar Syafaat. Oleh beberapa kiai tersebut, permintaan orang asing tersebut dimaknai sebagai perintah untuk mendirikan pesantren.




Penjaga Cahaya Religiusitas di Ibukota Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Penjaga Cahaya Religiusitas di Ibukota Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Penjaga Cahaya Religiusitas di Ibukota Jakarta

Setibanyak di Jakarta, langsung saja, tanah wakaf tersebut di terima dan dibangun masjid. Tahun 1985 resmi dibuka pesantren. Dari satu-dua santri, akhirnya pesantrennya terus berkembang sehingga tanah di sekitar masjid tersebut dibeli untuk perluasan pesantren. Bukan hanya di Kebun Jeruk saja, bahkan kini Assidiqiyah sudah memiliki cabang di delapan lokasi di seluruh Indonesia seperti di Batu Ceper, Puncak Cianjur, Palembang, Lampung, dan lainnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Muhammad Riza Azizi, pengasuh pesantren Assidiqiyah di kawasan Puncak Cianjur yang ditemui di Assidiqiyah Kebun Jeruk menjelaskan, beberapa tradisi pesantren salaf masih dipertahankan seperti ngaji sorogan. Beberapa kitab kuning juga masih diajarkan seperti Jurumiyah, Imriti, Tafsir Jalalain, Taklimul Mutaallin, dan beberapa lainnya.

Para santri memiliki jadual yang sangat padat. Dari papan pengumuman yang dipasang di salah satu area pesantren, pada jam 03.30 santri sudah harus bangun untuk shalat tahajjud dan istighotsah. Setelah shalat Subuh, jadual pelajaran bahasa Arab atau Inggris sudah menunggu dalam bentuk small group atau pelajaran di kelas. Sekolah formal berlangsung sampai 12.30 dan pada pukul 16.00-17.30 santri harus mengikuti Madrasah Diniyah. Malam hari, mereka masih harus belajar Al-Qur�an, Tafsir Jalalain, dan belajar mandiri. Baru pukul 22.00 mereka bisa istirahat.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Di Assidiqiyah Kebon Jeruk, jumlah santri sekitar 800 yang belajar di tingkat SMP, Aliyah dan Ma�had Ali. Selain adanya kajian agama yang lengkap, menurut Riza Azizi, biaya yang murah juga menjadi faktor wali santri mengirimkan anaknya ke pesantren ini. Dalam satu bulan, orang tua hanya perlu membayar 900 ribu yang sudah meliputi biaya makan tiga kali, sekolah dan fasilitas asrama dengan ranjang tidur. Untuk ukuran Jakarta, biaya tersebut cukup murah, apalagi jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah swasta yang bayarannya saja bisa diatas satu juta.

Jika digabungkan dengan cabang-cabangnya, jumlah total santri lebih dari 3.000. Kebijakan kurikulum masing-masing pesantren ada yang terstandarisasi dari pusat seperti pembelajaran Qur�an dengan metode Yambu�a sedangkan hal lainnya, masing-masing cabang diizinkan melakukan inovasi karena masing-masing kondisinya berbeda, baik kemampuan masyarakat maupun tenaga pengajarnya.

Sementara itu, para santri berasal dari jaringan alumni dan ketokohan pengaruh pesantren, khususnya Kiai Nur Iskandar yang sudah berkiprah di dunia dakwah lebih dari 30 tahun. Beberapa alumni juga menjadi dai populer seperti Ustadz Solmet, Ustadz Fikri Haikal, Ustadz Anwar Pandeglang dan lainnya. Mereka turut mempromosikan pesantren Assidiqiyah ke masyarakat. Keberadaan para alumni yang menjadi dai tersebut menunjukkan apa yang diajarkan di pesantren ini bisa diteruskan ke masyarakat melalui para alumni. Juga mengharumkan nama pesantren atas keberhasilannya dalam mendidik mereka.

Mengingat biaya operasional yang mahal, pesantren memiliki sejumlah unit usaha seperti SQ Mart dengan motto �Dari santri, oleh santri, untuk santri.� Keuntungan dari unit usaha ini kembali ke kas pesantren untuk kebutuhan sehari-hari.

Program Ma�had Ali merupakan program tiga tahun yang setara dengan D3. Pesantren mendorong mereka untuk melanjutkan ke S1 karena juga sudah ada STAI di Karawang. Para mahasantri bisa mengkonversi kuliahnya dan tinggal menambah satu tahun untuk menambah kekurangan mata kuliah dan menulis skripsi.

Untuk pelajar SMP-Aliyah, mereka juga memiliki beberapa kegiatan seperti drumband, tata bonga, hadrah dan marawis.

Ditengah persaingan ketat berbagai lembaga pendidikan, pesantren Assidiqiyah terus mampu menjaga eksistensinya, menjaga cahaya religiusitas di ibukota Jakarta. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ubudiyah, Nahdlatul, Pahlawan Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Siapkan Juara, LPTQ Brebes Gelar Try Out STQ

Brebes, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sebagai upaya mendapatkan predikat terbaik bagi kafilah Seleksi Tilawatil Quran (STQ) tingkat Provinsi Jawa Tengah, Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kabupaten Brebes menggelar Try Out. Hal ini juga didorong oleh keadaan bahwa Kabupaten Brebes menjadi tuan rumah ajang perlombaan tersebut pada 17-19 November mendatang.

Ketua LPTQ Kabupaten Brebes Drs H Imam Hidayat MPdI menjelaskan, yang mengikuti try out adalah kafilah (kontingen) Brebes telah diseleksi. Sebelumnya dilakukan pembinaan secara bertahap dengan mendatangkan pelatih dari luar daerah yang berkelas Nasional.




Siapkan Juara, LPTQ Brebes Gelar Try Out STQ (Sumber Gambar : Nu Online)
Siapkan Juara, LPTQ Brebes Gelar Try Out STQ (Sumber Gambar : Nu Online)

Siapkan Juara, LPTQ Brebes Gelar Try Out STQ

�Sebanyak 16 orang personalia Kafilah Brebes yang di-try out,� tuturnya di sela Try Out di ruang rapat Bupati Brebes, Rabu (5/11).

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Keenam belas kafilah Brebes akan berebut piala pada cabang Tilawah, Tahfidz dan Tafsir. Sebagai tuan rumah, selaku Ketua LPTQ akan mendukung penuh agar Kabupaten Brebes dapat sukses penyelenggaraan, sukses, prestasi dan sukses administrasi. �Try out ini untuk mendukung sukses prestasi,� tekadnya.

Try out, lanjut Imam, dimaksudkan untuk mengukur kemampuan dalam mencapai target. Bila ternyata belum mencapai nilai minimum maka akan terus dilakukan langkah-langkah perbaikan.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Wakil Bupati Brebes Narjo selaku Ketua Panitia STQ tingkat Jateng menjelaskan, pelaksanaan STQ tingkat Provinsi Jawa Tengah di Brebes akan berlangsung pada 17-20 November 2014. Gelaran ini bakal diikuti 35 Kafilah (kontingen) Kabupaten/Kota Se Jateng. Tiap kafilah akan mengirimkan 16 peserta, 3 pelatih, 1 Ketua Kafilah dan 2 pendamping. Setidaknya 1.500 orang, belum orang tua dan tamu lain-lainnya akan turut memeriahkan event islami tiga tahunan ini.

Adapun cabang dan golongan yang akan dimusabaqohkan pertama Cabang Tilawah golongan anak-anak putra dan putri usia maksimal 13 tahun, golongan dewasa putra putri (pa pi) usia maksimal 40 tahun. Kedua Cabang Tahfidz golongan 1 juz dan tilawah pa pi usia maksimal 14 th, gol 5 juz dan tilawah pa pi usia maksimal 16 tahun, gol 10 juz pa pi usia maksimal 18 tahun, gol 20 juz pa pi usia maksimal 20 tahun dan gol 30 juz pa pi usia maks 23 tahun. Sedangkan yang ketiga cabang Tafsir Al quran untuk golongan Bahasa Arab Putra dan putri usia maksimal 23 tahun.

�Untuk tempat STQ akan ditempatkan diberbagai titik antara lain di MTs N Model Brebes, Pondok Pesantren Assalafiyah II Brebes, Kantor Kemenag, Islamic Center dan Masjid Agung Brebes,� terang Narjo.

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE yang turut memantau dari awal hingga akhir Try Out mengatakan, target menjadi yang terbaik memang bukan yang utama. Tetapi dengan prestasi yang gemilang tentu akan menambah kebahagian tersendiri sebagai tuan rumah.

Menurut Idza, yang lebih utama tercapainya perubahan perilaku warga Brebes yang Qurani. Kepada Generasi Muda bisa berjiwa Qurani dan masyarakat Brebes mampu mengimplementasikan nilai-nilai Quran dalam kehidupan sehari-hari. �Sungguh sangat membahagiakan dengan lahirnya generasi yang Qurani lewat penyelenggaraan STQ,� harap Bupati. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nahdlatul, Pahlawan, Amalan Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rabu, 24 Januari 2018

Pesan Kesederhanaan Hasil Audiensi Dai NU di Vatikan

Di Italia, saya berkesempatan mengikuti audiensi di Vatikan. Tepatnya pada hari Rabu, 28 Juni 2017 yang lalu, saya menghadiri undangan langsung dari Romo Markus Solo. Romo Markus ini mampu berbahasa Arab, karena pernah belajar bahasa Arab di Gereja Katolik di Mesir.

?




Pesan Kesederhanaan Hasil Audiensi Dai NU di Vatikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Kesederhanaan Hasil Audiensi Dai NU di Vatikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Kesederhanaan Hasil Audiensi Dai NU di Vatikan

Saya berkenalan dengan beliau saat open house di KBRI Roma. Perkenalan semakin hangat, hingga akhirnya saya katakan ingin tahu acara audiensi. Ternyata salah satu yang bisa memberikan undangan audiensi itu adalah Romo Markus Solo. Akhirnya saya diberikan undangan khusus untuk tiga orang.

Peribahasa mengatakan �banyak jalan menuju Roma�. Namun, Ketua Nadwah Ukhuwah Roma (NUR), Yusral Thahir menambahkan banyak jalan di dalam Kota roma. Hehehe, karena memang di kota Roma, jalanan begitu padat, kecil-kecil, banyak gang, dan seperti berputar di situ-situ saja.

Yusral memang salah satu teman selain Asrarudin Salam yang menemani saya berangkat audiensi. Hari itu kami berangkat pukul 08.00 waktu Roma. Jadwal acara dimulai pukul 10.00 sampai 12.00.

?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sesampainya di Vatikan, Basilica telah dipenuhi lautan ? pengunjung. Pada acara audiensi ini Paus Fransiscus akan menyapa pengunjung yang berkumpul di depan Basilica dan memberikan lambaian tangan dengan mobil karnaval yang dijaga ketat oleh tentara dan pengamanan.

?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Paus akan berhenti sejenak ketika melihat ada anak kecil, lantas mencium dan mendoakannya. Riuh pengunjung yang hadir dari berbagai negara akan terdengar pada saat paus menggendong dan mengecup kening anak kecil tersebut. Audiensi dilakukan setiap hari Rabu. Untuk di musim panas, audiensi terakhir di bulan Juni, seperti pagi itu.

Bulan Juli dan Agustus, audiensi libur. Menurut Daniel, staff KBRI di Roma, beruntung sekali jika dapat bersalaman dengan Paus Fransiscus. Paus adalah pimpinan tertinggi di ? negara ? Takhta Suci Vatikan. Ibarat negara lain, seperti presiden.

Dalam audiensi juga dilakukan wisuda para oriental dari berbagai negara. Seperti dari Hong Kong, Polandia, Swis, bahkan salah satunya dari Indonesia.

?

Bagi umat Kristiani, terutama Katolik, berkunjung ke Vatikan merupakan sesuatu yang penting dan sangat diinginkan. Pilgrim, sebutan untuk para pengunjung yang datang ke Vatikan.

?

Sangat menyenangkan dan membuat saya salut, ketika melihat-lihat gereja Basilica di Vatikan. Bangunan dari ribuan tahun masih terjaga. Juga ketika masuk ke dalam Basilica, yang di dalamnya terdapat makam para paus terdahulu.

Saya merenungkan pelajaran yang bisa dipetik dari audiensi ini adalah kesederhanaan. Pada acara ini paus turun ke bawah, menyapa hangat, dan membaur bersama pengunjung sambil memberikan pesan-pesan kebaikan.

?

Sebagai Muslim, kita pun harus sederhana dan ramah. Kerena Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap rendah hati dan menyebarkan salam. Seperti dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Muslim disebutkan, �Dengan salam dan sapa hangat, kita akan damai.�

Khumaini Rosadi, anggota Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM) LDNU 2016; Dai Ambassador Cordofa 2017, dengan penugasan ke Roma, Italia.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nahdlatul, Khutbah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Pages

Archive

Diberdayakan oleh Blogger.