Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Peringati Haflah Akbar, Pesantren Tambakberas Dukung PBNU

Jombang, Pimpinan Pusat Muhammadiyah



Lapangan Untung Suropati Tambakrejo yang berada di utara Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas Jombang Jawa Timur penuh sesak oleh puluhan ribu santri. Mereka khidmat mengikuti upacara pembukaan al-haflatul kubro pesantren setempat, Rabu (8/2) pagi.




Peringati Haflah Akbar, Pesantren Tambakberas Dukung PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Haflah Akbar, Pesantren Tambakberas Dukung PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Haflah Akbar, Pesantren Tambakberas Dukung PBNU

KH Abdul Choliq Mustaqim dalam amanatnya mengemukakan bahwa peringatan haflah kali membawa pesan bahwa Pesantren Tambakberas, sebutan kepada PPBU memiliki komitmen kuat terhadap eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI. "Karenanya kita akan pelihara dan jaga NKRI sebagai harga mati," kata Sekretaris Umum Yayasan PPBU tersebut.

"Demikian pula kita akan pelihara dan jaga PBNU yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI serta UUD 1945," katanya disambut tepuk tangan hadirin.

Gus Kholiq, sapaan akrabnya juga menandaskan kepada para kiai, ustadz dan santri yang hadir di lapangan tersebut bahwa haflah kali ini juga terbilang istimewa. "Karena usia madrasah di lingkungan Pesantren Tambakberas telah memasuki 102 tahun," ungkapnya. Sedangkan untuk pesantren sendiri adalah berusia 192 tahun, lanjutnya.

Hadir pada kesempatan tersebut Ketua Majlis Pengasuh yakni KH Hasib Abdul Wahab, serta Ketua Umum Yayasan PPBU yakni KH Irfan Sholeh.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sebelum upacara pembukaan, kegiatan diawali dengan penampilan kreasi para santri dari berbagai ribath atau asrama yang ada di pesanren setempat. Tidak ketinggalan, sejumlah kontingen dari madrasah dan sekolah juga turut unjuk kebolehan.

Pantauan Pimpinan Pusat Muhammadiyah di lokasi, sejumlah santri dan siswa menampilkan kebudayaan dari berbagai suku dan daerah di Indonesia. Dari mulai budaya dan pakaian masyarakat Madura, Nusa Tenggara Timur, Bengkulu, dan beberapa kawasan lain di tanah air.

Kegiatan dipungkasi dengan sambutan dari yayasan serta amanah oleh ketua majlis pengasuh. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pesantren, Pondok Pesantren, Syariah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rabu, 21 Februari 2018

Sumbang Solusi Bangsa melalui Munas dan Konbes

Dalam struktur organisasi NU, forum permusyawaratan tertinggi disebut dengan muktamar yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali. Forum lain yang sangat penting adalah musyawarah nasional dan konferensi besar (munas dan konbes) yang diselenggarakan minimal selama dua kali dalam satu periode kepengurusan. Dua forum ini biasanya mendapat perhatian publik karena biasanya terdapat keputusan atau rekomendasi penting yang menyangkut sikap NU terhadap sebuah persoalan bangsa atau pandangan NU dalam sebuah permasalahan keagamaan.

Keputusan penting dalam muktamar adalah penyampaian laporan pertanggungjawaban pengurus setelah lima tahun bekerja dan pemilihan mandataris baru, yaitu rais aam dan ketua umum yang akan memimpin NU lima tahun selanjutnya. Nahkoda baru, selalu memiliki gaya tersendiri dalam mengendalikan NU terkait bagaimana menjalankan visi, misi, dan program yang telah ditetapkan sehingga selalu menarik perhatian pihak luar yang memiliki kepentingan dengan NU.

Acara munas berisikan pembahasan masalah-masalah kebangsaan yang dilihat dari perspektif keagaman atau persoalan-persoalan keagamaan kekinian yang belum terpecahkan yang terbagi dalam tiga forum bahtsul masail waqi�iyah (membahas kasus-kasus aktual), maudluiyah (membahas isu-isu tematik), dan qanuniyah (membahas masalah yang berkaitan dengan perundang-undangan). Pada forum itu, para kiai dan alim ulama yang tidak masuk dalam struktur kepengurusan Nahdlatul Ulama turut diundang untuk mendiskusikan berbagai persoalan tersebut. Semantara itu konferensi besar membahas persoalan internal organisasi, seperti evaluasi program dan penyusunan program baru.




Sumbang Solusi Bangsa melalui Munas dan Konbes (Sumber Gambar : Nu Online)
Sumbang Solusi Bangsa melalui Munas dan Konbes (Sumber Gambar : Nu Online)

Sumbang Solusi Bangsa melalui Munas dan Konbes

Forum munas dan konbes telah berkontribusi menyelesaikan sejumlah persoalan bangsa seperti penerimaan NU atas asas Pancasila, masalah KB, bunga bank, atau hukum tidak membayar pajak karena maraknya kasus penggelapan dana pajak. Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesaia dengan pengikut yang mengakar sampai ke desa-desa, apa yang diputuskan oleh NU memiliki dampak yang signifikan dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara karena menjadi panduan para pengikut NU dalam bersikap.

Nusa Tenggara Barat (NTB) sudah dua kali menjadi tempat munas dan konbes, pertama pada tahun 1997 dan dua puluh tahun kemudian, 2017 ini, pulau seribu masjid ini terpilih kembali menjadi tempat penyelenggaraan acara. Terdapat dua isu pokok yang mengemuka, yaitu soal radikalisme dan kesenjangan ekonomi. Era kebebasan setelah berakhirnya rezim Orde Baru membuat ideologi transnasional tumbuh dan berkembang cepat di Indonesia. Setelah dua puluh tahun, eksistensi mereka semakin mengakar, sekalipun masih dalam taraf kecil. Upaya pemerintah untuk menghambat perkembangan mereka layak diapresiasi karena kalau terlambat, akan menimbulkan permasalahan terhadap harmoni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Forum ini berusaha mencari solusi agar ajaran-ajaran radikal dan transnasional ini tidak berkembang di Indonesia.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Persoalan kesenjangan ekonomi juga menjadi perhatian dari para ulama NU ketika ada sekelompok kecil orang yang menguasai aset negeri ini sangat besar, dan komposisinya dari tahun ke tahun semakin membesar sementara di sisi lain, banyak warga negara yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya. Dalam pertemuan kali ini, isu yang dibahas adalah rencana redistribusi lahan guna meningkatkan kesejahteraan para petani. Isu kesenjangan kepemilikan tanah merupakan permasalahan paling krusial mengingat ada konglomerat yang menguasai lahan lebih dari satu juta hektar sementara rata-rata petani hanya memiliki lahan 0.3 hektar. Redistribusi juga tidak dimaknai sebatas pembagian lahan saja, tetapi banyak aspek yang terkait. Upaya redistribusi diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan para petani. Tetapi yang harus diingat adalah bahwa redistribusi bukanlah hal yang gampang karena banyak sekali pihak yang berkepentingan. Jangan sampai timbul moral hazard terkait dengan niat baik mensejahterakan para petani ini.

Media sosial, selain menghubungkan orang-orang yang sebelumnya terpisah dan sebagai sarana ekpresi diri, juga menimbulkan persoalan ketika menjadi ruang untuk menyebarluaskan ujaran kebencian dan hoaks. Sejumlah peristiwa telah memberi pelajaran bahwa jika dampak negatif tersebut tidak dikelola, akan menimbulkan persoalan dalam harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara. Isu SARA bisa dengan mudah �digoreng� untuk kepentingan politik kelompok tertentu. Keputusan munas dan konbes ini diharapkan mampu memberi panduan bagaimana berperilaku yang baik di media sosial dan bagaimana negara mengatur ujaran kebencian ini.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

RUU KUHP yang sudah dibahas setiap periode DPR sejak tahun 1960an, tetapi hingga kini belum kelar padahal keberadaannya sangat penting untuk mengatur masyarakat. KUHP yang dibuat era kolonial itu tentunya sudah tidak sesuai dengan konteks masyarakat kini. PBNU akan memberikan masukan pada isu-isu tertentu yang sangat penting. NU memiliki ahli-ahli yang sangat menguasai masalah fiqih dan hukum nasional. Dengan demikian, KUHP versi kolonial tersebut bisa disesuaikan dengan konteks kekinian dan kondisi sosial di mana masyarakat Indonesia sebagian besar adalah Muslim.

Total terdapat 18 isu yang dibahas yang merupakan turunan dari tema besar soal radikalisme dan kesenjangan ekonomi ini. Sejumlah isu merupakan isu berat yang tidak selalu populer dalam wacana publik sebagaimana isu-isu politik sesaat yang kemudian hilang dalam seminggu-dua minggu ditelan isu baru lainnya, tetapi keberadannya sangat penting untuk memajukan bangsa ini.

Jokowi dalam sambutan pada pembukaan acara menyatakan menunggu rekomendasi dari pertemuan para alim ulama NU ini. Hal tersebut tentu harus kita apresiasi bahwa niat baik NU ini mendapat sambutan dari pemerintah dan menunjukkan kesadaran bahwa persoalan-persoalan bangsa tidak dapat diselesaikan sendiri oleh pemerintah. Peran ormas Islam dan kelompok masyarakat lainnya sangat penting dalam mendukung perjalanan bangsa ini menuju situasi yang lebih baik. (Ahmad Mukafi Niam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syariah, Nusantara, Pendidikan Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 16 Februari 2018

KH. Ruhiat CipasungSeorang Ajengan Patriot

KH. Ruhiat adalah tokoh terkenal pada zamannya karena dialah pendiri pesantren Cipasung, Singaparna, Tasikmalaya. Namun generasi saat ini kurang lagi mengenal ketokohannya. Bahkan puteranya yaitu KH Iyas Ruhiat lebih dikenal apalagi setelah menduduki jabatan tertinggi di NU sebagai Rais Aam. Hal itu bisa dimengerti, kiai sepuh tersebut telah meninggal 29 tahun lalu. Tanggal 17 Dzulhijjah 1426 H yang bertepatan dengan 17 Januari 2006, adalah haul (peringatan hari wafat) ke-29 KH. Ruhiat.

Pesantren Cipasung saat ini merupakan pesantren terbesar dan paling berpengaruh di Jawa Barat. Perannya dalam penyiaran agama, pengembangan masyarakat dan menjaga harmoni sosial sangat besar. Selain keteguhannya mengembangkan pesantren yang responsif pada perkembangan dunia pendidikan, pada masa penjajahan, Ajengan Ruhiat juga seorang patriot yang mengorbankan tenaga dan pikirannya untuk kemerdekaan Republik Indonesia.

Ajengan Patriot

Jika syarat seorang pahlawan nasional adalah mendukung kemerdekaan sejak awal mula diproklamasikan, maka Ajengan Ruhiat (AR) memenuhi syarat itu. Tak lama setelah berita Proklamasi Kemerdekaan sampai ke Cipasung, AR segera pergi ke kota Tasikmalaya. Dengan menghunus pedang, ia berpidato di babancong, podium terbuka yang tak jauh dari Pendopo Kabupaten. Ia menyatakan dengan tegas bahwa kemerdekaan yang sudah diraih cocok dengan perjuangan Islam, oleh karenanya harus dipertahankan dan jangan sampai jatuh kembali ke tangan penjajah. Ia meneriakkan pekik merdeka seraya menghunus pedangnya itu. Dia tokoh Islam pertama di Tasikmalaya yang melakukan hal itu.

Ketika pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) berlangsung, ia tak goyah sekalipun gangguan dari pihak DI sangat kuat. Ia menolak tawaran menjadi salah seorang imam DI. Ia menampik gerakan yang disebutnya �mendirikan negara di dalam negara� itu, karena melihatnya sebagai bughat (pemberontakan) yang harus ditentang. Puncaknya ia hampir diculik oleh satu regu DI, tetapi berhasil digagalkan. Akibat sikapnya yang tegas itu ia mengalami keprihatinan yang luar biasa, karena terpaksa harus mengungsi setiap malam hari, selama tiga tahun lamanya.

Kegigihannya sebagai seorang pejuang dibuktikan dengan pernah dipenjara tak kurang dari empat kali. Pertama, pada tahun 1941 ia dipenjara di Sukamiskin selama 53 hari bersama pahlawan nasional KH. Zainal Mustofa. Alasan penahanan ini karena Pemerintah Hindia Belanda cemas melihat kemajuan Pesantren Cipasung dan Sukamanah yang dianggap dapat menganggu stabilitas kolonial. Kedua, bersama puluhan kiai ia dijebloskan ke penjara Ciamis. Ia hanya tiga hari di dalamnya karena keburu datang tentara Jepang yang mengambil alih kekuasaan atas Hindia Belanda tahun 1942. Ketiga, tahun 1944 ia dipenjara oleh pemerintah Jepang selama dua bulan, sebagai dampak dari pemberontakan KH. Zainal Mustofa di Sukamanah. Pada saat itu, Ajengan Cipasung dan Sukamanah lazim disebut dua serangkai dan sama-sama aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Kecintaan sang Ajengan pada NU sangat mendalam, oleh karena itu pada saat Ajengan Sukamanah berbulat tekad untuk melawan Jepang, keduanya membuat kesepakatan. Ajengan Sukamanah tidak akan melibatkan NU secara organisasi dan perjuangannya bersifat pribadi, agar NU tidak menjadi sasaran tembak tentara Jepang. Secara organisatoris, Ajengan Sukamanah menyatakan keluar dari NU (Aiko Kurasawa,1993). Dengan kesepakatan ini, jika terjadi akibat buruk dari perlawanannya--sesuatu yang sudah mereka perhitungkan--, organisasi NU tidak akan terbawa-bawa dan AR tetap bisa mengembangkan NU di Tasikmalaya dan Jawa Barat. Kesepakatan itu dibuktikan oleh Ajengan Ruhiat lewat keterlibatannya di NU sampai ke tingkat pusat.

Karirnya di PBNU dibuktikan dengan menjadi A�wan (pembantu) Syuriah PBNU periode 1954-56 dan 1956-59, serta perkembangan NU di Tasikmalaya dan Jawa Barat yang ditunjang oleh para alumni Cipasung. Keempat, ia dijebloskan ke penjara Tasikmalaya selama sembilan bulan pada aksi polisionil kedua, dan dibebaskan setelah penyerahan kedaulatan. Ini membuktikan bahwa AR seorang non-kooperatif sehingga sangat dibenci penjajah yang membonceng pasukan NICA itu. Sebelum masuk penjara yang terakhir itu, sepasukan tentara Belanda datang ke pesantren pada waktu ia sedang solat ashar bersama tiga orang santrinya. Tanpa peringatan apapun, tentara Belanda itu memberondongkan peluru ke arah mereka yang sedang solat. AR luput dari tembakan, tetapi dua santrinya tewas dan seorang lagi cedera di kepala.

Mungkin ia tidak disebut sebagai pahlawan karena tidak pernah menduduki jabatan dalam pemerintahan, sebab konsisten memilih jalur pendidikan pesantren sebagai pengabdiannya, bahkan sebagai tarekat-nya. �Tarekat Cipasung adalah mengajar santri,� ujarnya. Atau karena tidak pernah menjadi politisi yang berjuang di parlemen. Sebab katanya, �Biarlah bagian politik itu sudahDari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syariah Pimpinan Pusat Muhammadiyah




KH. Ruhiat CipasungSeorang Ajengan Patriot (Sumber Gambar : Nu Online)
KH. Ruhiat CipasungSeorang Ajengan Patriot (Sumber Gambar : Nu Online)

KH. Ruhiat CipasungSeorang Ajengan Patriot

PBNU-Spanyol Jajaki Kerja Sama Redam Radikalisme Agama

Jakarta,Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Wakil Duta Besar Spanyol Rodrigo de la Vina Muhlack bersama seorang seorang staf bertamu ke PBNU Jakarta Pusat, Rabu, (20/1). Ia ditemui Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua PBNU H Marsudi Syuhud, Bendahara Umum H Bina Suhendra, dan Wakil Sekretaris Jenderal Imam Pituduh.

Menurut Ketua PBNU H Marsudi Syuhud, Rodrigo de la Vina Muhlack mengungkapkan keprihatinannya atas perkembangan radikalisme agama dan terorisme. Hal itu juga yang terjadi di negaranya. Kedua belah ada keinginan untuk meredamnya.




PBNU-Spanyol Jajaki Kerja Sama Redam Radikalisme Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU-Spanyol Jajaki Kerja Sama Redam Radikalisme Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU-Spanyol Jajaki Kerja Sama Redam Radikalisme Agama

Di Sapanyol, diperkirakan ada sekitar 500 orang yang ikut Islamic State of Iraq and Shiria (ISIS). �Ada kesamaan keprihatinan antara Indonesia dan Spanyol terkait menjamurnya radikalisme agama dan terorisme,� kata Marsudi.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Untuk mengatasi hal itu, akan kedua belah pihak akan menjajaki kerja sama pertukaran pelajar atau pemuka agama. �Dalam kesempatan itu, PBNU menyebutkan bahwa NU megembangkan Islam Nusantara yang damai, Islam yang meragkul bukan memukul, Islam membina tidak menghina, Islam ramah yang tidak marah-marah,� tambahnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Menurut Marsudi, NU menerangkan wakil Spanyol, bahwa budaya Islam Nusantara berbeda dengan Timur Tengah dan dan di Eropa. Kelebihan Islam Nusantara adalah wataknya yang moderat, tasamuh, tawazun, taadul.

�Mereka khawatir banyak radikalisme di negara mereka. NU dianggap tepat untuk bisa bersama-sama mendorong Islam yang moderat ini ke Eropa,� pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syariah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 12 Februari 2018

Gus Mus Ajukan Mbah Muchith dan Kiai Tholchah untuk Calon Rais Aam

Surabaya, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pejabat Rais Aam PBNU KH Mustofa Bisri atau Gus Mus mengajukan dua nama kiai sepuh untuk menjadi calon Rais Aam menggantikan KH Sahal Mahfudh yang meninggal setahun lalu. Mereka adalah KH Muchith Muzadi dan KH Tholchah Hasan.




Gus Mus Ajukan Mbah Muchith dan Kiai Tholchah untuk Calon Rais Aam (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Ajukan Mbah Muchith dan Kiai Tholchah untuk Calon Rais Aam (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Ajukan Mbah Muchith dan Kiai Tholchah untuk Calon Rais Aam

Hal itu disampaikan Gus Mus di sela bedah buku "Kiai Bisri Syansuri, Tegas Berfiqih, Lentur Bersikap" di Gedung PWNU Jatim di Surabaya, Ahad (1/2) kemarin. Menurut Gus Mus, dua tokoh senior NU itu layak dipilih pada Muktamar NU di Jombang pada 1-5 Agustus 2015 mendatang.

Gus Mus mengakui, saat ini sudah beredar dua nama calon rais aam yakni KH Hasyim Muzadi (Rais Syuriyah PBNU) dan dirinya sendiri. Namun, menurutnya, dua nama yang beredar di media massa itu masih belum pas memimpin NU.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

"Ada media yang menyebut saya dan Pak Hasyim itu bisa menjadi Rais Aam PBNU. Saya kira penulisnya tidak paham NU, karena saya dan Pak Hasyim disangka top, padahal saya dan Pak Hasyim itu tidak ada apa-apanya," ujar Gus Mus.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Lebih dari itu, Gus Mus mengingatkan bahwa rais aam bukan posisi yang layak diperebutkan. Dalam acara bedah buku tentang KH Bisri Syansuri itu, ia bercerita, dulu para peserta muktamar memilih Kiai Bisri sebagai Rais Aam, namun Kiai Bisri menolak dan menyerahkan kepemimpinan kepada KH Wahab Chasbullah yang lebih senior.

Waktu itu muktamirin mendukung Kiai Bisri karena Rais Aam Kiai Wahab sudah sepuh dan udzur akibat mata yang sulit untuk melihat. Namun, kata Gus Mus, Kiai Bisri Syansuri yang didukung para ulama justru mengambil mikrofon dan mengumumkan bahwa dirinya tidak akan mau menjadi Rais Aam Syuriyah PBNU selama KH Wahab Chasbullah masih hidup. �Janji itu dipenuhi hingga Kiai Wahab Chasbullah wafat," kata Gus Mus.

Dua orang yang dijagokan Gus Mus adalah tokoh senior NU yang aktif dalam organisasi semenjak masih muda. KH Muchit Muzadi (90 tahun) atau Mbah Muchit adalah salah seorang santri KH Hasyim Asy�ari di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Kakak kandung KH Hasyim Muzadi ini menjadi sekretaris pribadi Rais Aam PBNU KH Achmad Siddiq yang memimpin NU bersama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Sementara KH Tolchan Hasan (77 tahun) adalah menteri agama di era Presiden Gus Dur. Kiai Thochah pernah menjabat wakil Rais Aam pada periode kedua kepemimpinan Rais Aam KH Sahal Mahfudh. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah PonPes, Syariah, Kajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Sabtu, 10 Februari 2018

Penjelasan tentang Najis yang Dimaafkan dan yang Tak Dimaafkan

Dalam kehidupan sehari-hari sering kali seorang Muslim bersinggungan dengan barang-barang yang dianggap oleh fiqih sebagai barang najis, yang apabila barang najis ini mengenai sesuatu yang dikenakannya akan berakibat hukum yang tidak sepele. Batalnya shalat dan menjadi najisnya air yang sebelumnya suci adalah sebagian dari akibat terkenanya barang najis.

Sejatinya tidak setiap apa yang terkena najis secara otimatis menjadi najis yang tak termaafkan. Di dalam fiqih madzhab Syafi�i ada beberapa barang najis yang masih bisa dimaafkan dan ada juga yang sama sekali tidak bisa dimaafkan. Dalam fiqih, najis yang bisa dimaafkan dikenal dengan istilah �ma�fu�.

Syekh Nawawi Banten di dalam kitabnya K�syifatus Saj� memaparkan empat kategori najis dilihat dari segi bisa dan tidaknya najis tersebut dimaafkan. Beliau menuturkan sebagai berikut:




Penjelasan tentang Najis yang Dimaafkan dan yang Tak Dimaafkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Penjelasan tentang Najis yang Dimaafkan dan yang Tak Dimaafkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Penjelasan tentang Najis yang Dimaafkan dan yang Tak Dimaafkan

Pertama:

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

? ? ? ? ? ? ?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

�Najis yang tidak dimaafkan baik ketika mengenai pakaian maupun ketika mengenai air.�

Termasuk najis dalam kategori ini adalah umumnya barang-barang najis yang dikenal secara umum oleh masyarakat. Seperti air kencing, kotoran manusia dan binatang, darah, bangkai dan lain sebagainya. Apabila najis-najis ini mengenai pakaian atau air maka tidak dimaafkan. Pakaiannya menjadi najis dan harus disucikan sebagaimana mestinya. Airnya juga menjadi air najis yang tidak dapat lagi digunakan untuk bersuci atau keperluan lain yang membutuhkan air suci.

Kedua:

? ? ? ?

�Najis yang dimaafkan baik ketika mengenai air maupun ketika mengenai pakaian.�

Yang masuk dalam kategori ini adalah najis yang sangat kecil sehingga tidak terlihat oleh mata yang normal. Sebagai contoh adalah ketika seseorang buang air kencing dengan tanpa benar-benar melepas pakaiannya bisa jadi ada cipratan dari air kencingnya yang sangat lembut yang tidak terlihat mata mengenai celana atau pakaian lain yang dikenakan. Bila pakaian ini digunakan untuk shalat maka shalatnya dianggap sah karena najis yang mengenai pakaiannya masuk pada kategori najis yang dimaafkan.





Ketiga:

? ? ? ? ? ? ?

�Najis yang dimaafkan ketika mengenai pakaian namun tidak dimaafkan ketika mengenai air.�

Barang najis yang masuk dalam kategori ini adalah darah dalam jumlah yang sedikit. Darah yang sedikit volumenya bila mengenai pakaian maka dimaafkan najisnya. Bila pakaian itu dipakai untuk shalat maka shalatnya masih dianggap sah. Sebaliknya bila darah ini mengenai air tidak bisa dimaafkan najisnya meski volumenya hanya sedikit. Air yang terkena darah ini bila volumenya kurang dari dua qullah dihukumi najis meski tidak ada sifat yang berubah, sedangkan bila volumenya memenuhi dua qullah atau lebih maka dihukumi najis bila ada sifatnya yang berubah. Dengan demikian air yang menjadi najis karena terkena darah yang sedikit ini tidak bisa digunakan untuk bersuci atau keperluan lain yang memerlukan air yang suci.

Lalu bagaimana ukuran darah bisa dianggap sedikit atau banyak? Syekh Syihab Ar-Romli seagaimana dikutip oleh Syekh Nawawi Banten menuturkan bahwa ukuran sedikit dan banyak itu berdasarkan adat kebiasaan. Noda yang mengenai sesuatu dan sulit untuk menghindarinya maka disebut sedikit. Yang lebih dari itu disebut banyak. Namun ada juga yang berpendapat bahwa yang disebut banyak itu seukuran genggaman tangan, seukuran lebih dari genggaman tangan, atau seukuran lebih dari satu kuku (lihat Muhammad Nawawi Al-Jawi, K�syifatus Saj� [Jakarta: Darul Kutub Islamiyah, 2008], hal. 84).





Keempat:

? ? ? ? ? ? ?

�Najis yang dimaafkan ketika mengenai air namun tidak dimaafkan ketika mengenai pakaian.�

Yang termasuk dalam kategori ini adalah bangkai binatang yang tidak memiliki darah pada saat hidupnya. Seperti nyamuk, kecoak, semut, kutu rambut dan lain sebagainya. Bangkai binatang-binatang ini bila mengenai air dimaafkan najisnya. Namun bila mengenai pakaian maka tidak dimaafkan najisnya.

Sebagai contoh bila Anda melakukan shalat dan melihat di pakaian yang Anda kenakan ada semut yang mati maka shalat Anda batal bila tak segera membuang bangkai semut tersebut. Ini karena bangkai binatang yang tak berdarah tidak bisa dimaafkan najisnya bila mengenai pakaian.

Masalah ini perlu diketahui oleh setiap muslim mengingat sangat sering bersinggungan dalam kehiduan sehari-hari terlebih memberikan dampak pada sah tidaknya ibadah yang dilakukan. Wallahu a�lam. (Yazid Muttaqin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah RMI NU, Syariah, Pesantren Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 08 Februari 2018

Berkorban Tak Sekadar Berkurban

Oleh A Mustofa Bisri

Akhirnya setelah sekian lama mendambakan dan tak kunjung mempunyai anak, permohonan Nabi Ibrahim agar dianugerahi anak dikabulkan oleh Tuhannya. Allah menganugerahi seorang anak yang sabar. Ketika di anak sudah cukup dewasa untuk membantu ayahnya bekerja, tiba-tiba sang ayah memberitahukan bahwa ada isyarat Tuhan untuk menyembelih si anak. �Bagaimana pendapatmu?� kata sang ayah. Dengan tenang, si anak menjawab, �Ayahku, laksanakan saja apa yang diperintahkan kepada ayah. Insyaallah ayah akan mendapatkan anakmu ini tabah.�




Berkorban Tak Sekadar Berkurban (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkorban Tak Sekadar Berkurban (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkorban Tak Sekadar Berkurban

Ketika bapak-bapak itu bertekad bulat berserah diri sepenuhnya untuk melaksanakan perintah Allah dan Nabi Ibrahim telah merebahkan anak kesayangannya itu di atas pelipisnya, ketika itu pula keduanya membuktikan kepatuhan dan kebaktian mereka. Dan, Allah pun mengganti si anak dengan kurban sembelihan berupa kambing yang besar.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Meskipun ritual kurban (dengan �u�) konon sudah dilakukan sejak putra-putra Nabi Adam, Habil dan Qabil, peristiwa yang dituturkan dalam kitab suci Al Qur�an itulah yang menjadi dasar persyaratan kurban setiap Idul Adha (Hari Raya Kurban).

Nabi Ibrahim rela mengorbankan putranya dan putranya ikhlas dijadikan kurban demi Tuhan mereka. Bagi Nabi Ibrahim dan putranya, Tuhan adalah nomor satu. Allah adalah segalanya. Siapa pun dan apa pun tidak ada artinya dihadapan-Nya. Demi dan untuk-Nya, apa pun ikhlas mereka korbankan; sampai pun anak atau nyawa sendiri.?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Inti Berkurban

Jadi inti makna kurban di Hari Raya Kurban memang berkorban. Namun, lihatlah, bahkan untuk sekedar mengorbankan hewan, banyak orang mampu yang masih �menawar-nawar� atau menitipkan kepentingan sendiri sebagai �kompensasi�

Apakah mereka ini mengira bahwa kurban (daging ternak) itu benar yang �dituntut� Tuhan sebagai bukti kecintaan dan kebaktian? Tidak. Sama sekali bukan daging-daging dan darah-darah hewan itu yang mencapai Allah, melainkan ketakwaan. Pengorbanan. �Tidaklah darah dan daging hewan kurban itu sampai kepada Allah sebagai ketakwaanmu yang sampai kepada-Nya� (Al Qur�an22;37).

Pengorbanan tidak hanya menyembelih kurban. Pengorbanan adalah atau mestinya merupakan pantulan dari kecintaan dan kebaktian itu. Dari pengorbanan, bisa diukur seberapa dalam kecintaan dan seberapa agung kebaktian seseorang.

Kita bisa saja mengaku cinta atau mengabdi kepada pujaan kita. Kita bisa saja menyatakan hal yang mulia demi Tuhan, demi tanah air, demi rakyat, demi siapa atau apa pun yang kita cintai. Namun tanpa kesediaan kita berkorban untuknya, pernyataan itu tidak ada artinya.?

Bahkan ,jika kita menawar-nawar di dalam pengorbanan kita, kata �demi�-�demi� itu hanyalah omong kosong belaka. Dalam pengorbanan, tak ada perhitungan untuk rugi atau tuntutan kompensasi apapun. Dalam pengorbanan hanya ada ketulusan.

Hamba yang sungguh mencintai dan mengabdi kepada Allah seperti Nabi Ibrahim dan putranya, akan siap dan rela berkorban apa pun, yang paling berharga, atau yang remeh, termasuk ego dan kepentingan sendiri-bagi dan demi Tuhannya. Demi melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, hamba yang sungguh mencintai dan mengabdi Tuhannya siap dan rela mengalahkan egonya dan mengesampingkan kepentingan sendiri.

Apabila Tuhan, misalnya melarang perbuatan merusak, hamba yang sungguh mencintai dan mengabdi Tuhannya akan menghindari perbuatan perusak meski bertentangan dengan kehendaknya. Dia misalnya, tak akan melakukan perbuatan korupsi, tidak melakukan tindakan teror, tidak berurusan dengan narkoba, dan tindakan merusak lainnya, meski dirinya merasa berkepentingan untuk melakukan hal itu.?

Pemimpin berkorban

Warga negara yang sungguh mencintai dan mengabdi tanah arinya akan dengan sendirinya siap dan rela berkorban apa saja bagi dan demi tanah airnya, meski tidak pernah menyatakannya. Sebaliknya, mereka yang sering menyatakan cinta tanah air, tetapi tidak sudi mengorbankan sedikit waktu dan pikiran untuk kepentingan tanah airnya, jelas mereka pembohong besar.

Pemimpn yang selalu menyatakan diri sebagai abdi rakyat, tetapi tidak pernah rela berkorban meski sekedar waktu dan perhatian untuk rakyat, bahkan lebih sering mengorbankan rakyat, cepat atau lambat pasti akan ketahuan palsunya dan rakyat akan mencampakkannya.

Akhirnya, Idul Adha atau Hari Raya Kurban juga sering disebut Lebaran Haji. Pada Saat itu memang kaum Muslimin yang mampu sedang melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci.

Satu satunya ibadah dan rukun Islam yang di negeri ini ditangani secara �serius� oleh pemerintah. Ibadah ini pun memerlukan pengorbanan yang tidak kecil. Masih di Tanah air, jemaah calon haji sudah harus mengorbankan waktu, harta, tenaga, pikiran sering kali juga ? perasaan.

Dalam ritual haji, kaum Muslimin diingatkan dengan peragaan diri tentang kehambaan, kesetaraan, dan kefanaan manusia; bahkan tentang hari kemudian. Dengan demikian, jika itu semua dihayati, akan atau semestinya dapat menguban sikap dan perilaku mereka. Konon salah satu tanda haji mabrur, yang pahalanya tiada lain: surga, ialah merubahan sikap perilaku.?

Yang sebelum haji malas beribadah, misalnya, sesudahnya menjadi rajin. Sebelumnya sangat, sesudahnya santun. Sebelumnya korup, sesudahnya jujur. Demikian seterusnya. Bukan yang sebelum dan sesudah haji tetap saja sikap perilakunya atau malahan lebih buruk lagi.

Wallahualam. Selamat Hari Raya Kurban, Selamat Lebaran Haji

* Wakil Rais Aam PBNU

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syariah, Nusantara, Pondok Pesantren Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Jumat, 26 Januari 2018

Bukti NU Tidak Hanya Berkutat Urusi Agama

Brebes, Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ketua PC NU Brebes H Athoillah Syatori memandang, peringatan Hari Santri Nasional (HSN) membuktikan kalau kaum santri tidak melulu mengurusi persoalan agama saja. Tetapi, justru menyangkut kepentingan bela negara, nasionalisme yang berlandaskan agama.?

Hari Santri, kata Athoillah, telah membuktikan bahwa kaum nahdliyin (warga NU) tidak memiliki keraguan dalam jihad. Karena justru kelahiran Hari Santri Nasional telah mengingatkan kepada kita kalau para kiai dan santrinya menitahkan Resolusi Jihad sebagai embrio perebutan kembali NKRI pada 10 November 1945 dari penjajah yang ingin menguasai kembali Ibu Pertiwi.?




Bukti NU Tidak Hanya Berkutat Urusi Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Bukti NU Tidak Hanya Berkutat Urusi Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Bukti NU Tidak Hanya Berkutat Urusi Agama

Semangat Hari Santri, lanjutnya, saat ini harus diejawantahkan dengan terus berjuang, belajar dengan semangat guna mengisi kemerdekaan. Tantangan era kini, juga masih banyak untuk itu jangan tinggal diam karena penjajahan yang terjadi sekarang bentuknya berbeda yang kadang tidak terlihat seperti melalui tontonan, teknologi komunikasi, narkoba, dan terorisme.

Atho turut bangga dengan peningkatan jumlah santri yang signifikan diera kini. Karena disamping ada dorongan dari orang tua, juga perhatian pemerintah yang semakin meningkat terhadap pondok pesantren. �Jumlah santri kini jumlahnya semakin menggembirakan, terutama di pondok pesantren yang memadukan dengan pendidikan formal. Tapi untuk pondok pesantren yang tidak ada pendidikan fiormalnyanya ? masih stagnan,� katany di gedung PCNU Jalan Yos Sudarso Kamis (20/10) malam..?

Ketua Panitia Hari Santri Nasional Kabupaten Brebes H Musafa menjelaskan, HSN yang digawangi PCNU Brebes akan menyelenggarakan berbagai kegiatan. Antara lain Ikrar Santri Indonesia yang diikuti lebih dari 7 ribu santri di Pesantren Al Hikmah 2 Benda Sirampog Brebes pada Sabtu (22/10) jam 09.00.

Selanjutnya pukul 10.00, donor darah di PCNU. Kemudian pukul 13.00 Kirab hari santri dengan star di halaman masjid Al Ittihaj Jatibarang sampai Pondok pesantren Darussalam Jatibarang Kidul yang diikuti 3000 santri. Sesampainya di Darussalam, dilanjut istighosah, shAlat ashar berjamaah. Istighosah dipimpin SyeKh Sholeh Basalamah, Kiai Mansyur, Syeh Said hingga menjelang shAlat Maghirb. Disamping itu, pembacaan Shalawat Nariyah 1 miliar, akan dilangsungkan di gedung PCNU Brebes.?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rangkaian berikutnya, pada Ahad (23/10) jam 09.00 digelar halaqoh kebangsaan dengan tema wahabi dan terorismen di Pondok Pesantren Darussalam Jatibarang Brebes. Pembicara KH Arwami Saeroji Rektor Mahad Aly Al Hikamus Salafiyah Cirebon yang juga aktivis Muda NU. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syariah, AlaSantri, Daerah Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Pages

Archive

Diberdayakan oleh Blogger.