Tampilkan postingan dengan label banserboyolali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label banserboyolali. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Juli 2019

Tujuh Kakak Beradik Mengikuti Diklatsar dan PKD di PAC GP Ansor Mojosongo.



Setiap pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) dan Pendidikan Kader Dasar (PKD) Ansor, selalu menghadirkan kisah indah untuk diabadikan dan dikenang.
Kisah itu di antaranya, banyaknya peserta satu keluarga yang notabene kakak beradik yang mengikuti Diklatsar dan PKD di Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Mojosongo, Boyolali, 12-14 Juli 2019.

Ada 6 kakak beradik yang ikut serta dalam Diklatsar dan PKD di PAC Mojosongo, yaitu Endar Prabowo, Yhosi Hanesa, dan Agus Susanto yang berasal dari Kecamatan Wonosegoro. Selain kakak beradik, ketiganya juga mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), guru.

Ada juga Sahabat Brojol dan Sudiyar (Wonosegoro), Ahmad Wasi Uzzulfa, M. Dzakiya Dzulfa, dan Alif (Wonosegoro), Sholihin dan M Mukit (Wonosegoro), Suwardi dan Zaenal Arifin (Wonosegoro), Suparmen dan Sukardi (Desa Ngadirojo, Ampel), serta Suyatno dan Nanang Riskiya (Ampel).

Kakak beradik hebat tersebut berangkat dari rumah bersama. Ada yang naik sepeda motor, (rental) mobil, dan ada juga yang naik truck. Raut wajah sahabat-sahabat itu pun terpantau semangat dan tulus dari keberangkatan sampai di akhir acara.
Sisi lain dari gelaran Diklatsar dan PKD ini, menunjukkan adanya gairah membuncah yang inspiratif dari keluarga-keluarga yang mendapat "hidayah".
Semoga istiqomah dan bermanfaat bagi diri, organisasi, dan sesuai titah Ilahi Robbi. (Heri, Sis, khafidz)

Kamis, 30 Mei 2019

Bentuk Pengabdian Ansor Untuk Masyarakat, GP Ansor Boyolali Wujudkan 4 titik Posko Mudik.


Boyolali.- Gerakan Pemuda (GP) Ansor-Banser Boyolali membuka empat posko mudik Lebaran 2019 yang tersebar di beberapa titik strategis di Boyolali, yaitu di Kecamatan Karanggede, Kecamatan Klego, Kecamatan Andong, dan Kecamatan Mojosongo.
Pembukaan posko bertujuan membantu pemudik dalam perjalanan ke kampung halaman.
�Ini salah satu bhakti Ansor dan Banser Boyolali kepada masyarakat. Dengan kegiatan ini diharapkan bisa turut serta membantu meringankan kerja pemerintah atau aparat TNI-POLRI,� kata Ketua GP Ansor Boyolali, Husein Ahmadi, Kamis (30/5).

Menurut Husein, melayani pemudik tanpa memandang suku, ras, agama, golongan dan bahasa seperti ini, menjadi tugas mulia yang masuk kategori ibadah sosial. Dia berharap, kegiatan mudik tahun ini semakin lancar dari tahun-tahun sebelumnya, tanpa suatu rintangan apapun.

�Melayani pemudik itu tugas mulia dan masuk kategori ibadah sosial. Kami berharap perjalanan para pemudik tahun ini lancar tanpa suatu hambatan. Sebagai organisasi kami juga ingin momen ini menjadi media silaturahmi antar pengurus (GP. Ansor) untuk saling membantu sesama manusia,� tutur Husein.
Pada Lebaran tahun ini, menurut Kasatkorcab Banser Kabupaten Boyolali, Ahmad Muzamil, pihaknya akan mengerahkan 1000 personel untuk mengawal posko mudik Lebaran 2019. Dia berharap, keberadaan posko mudik memberi dampak positif bagi pemudik dan masyarakat secara umum.

�Kami ingin hadir di tengah-tengah masyarakat, saling membantu, memberikan rasa aman dan nyaman,� ujarnya. (HR)

Senin, 29 April 2019

Pembaretan Banser Satkorcab Boyolali, Militansi Tanpa Batas.



Setiap Diklatsar Banser pastinya dirangkai dengan "Pembaretan". Ini, demi meningkatkan dan pemantaban anggota agar memiliki "militansi tanpa batas".

Begitu juga dengan Satkorcab Banser Kab. Boyolali hari ini, Minggu 28/04/19, menggelar Pembaretan Banser yang Ke-3. Kegiatan yang diikuti 500 peserta, ini dibuka dan sekaligus start dari Pondok Pesantren Al Huda Doglo, Cepogo, Boyolali, hingga finish di Pondok Pesantren Afaada, Desa Tanduk, Ampel, Boyolali.

Dalam apel persiapan pembaretan Banser, ini dipimpin langsung oleh Kasatkorcab Banser Boyolali, Komandan Ahmad Muzamil.



Ahmad Muzamil mengatakan, pembaretan dilakukan bagi anggota Banser yang sudah mengikuti Diklatsar sebelumnya.

"Pembaretan ini sebagai rangkaian Diklatsar yang diselenggarakan di empat Pimpinan Anak Cabang (PAC) yaitu Karanggede, Ampel, Simo, dan Wonosegoro. Seorang Banser dinyatakan lulus jika telah mengikuti pembaretan ini," tegas Muzamil.

Ahmad Muzamil menghimbau kepada peserta pembaretan, agar usai pembaretan ini seluruh anggota tetap berada di jalur komando,m engikuti arahan dari pimpinan.

Selanjutnya pelepasan peserta pembaretan dipimpin langsung oleh Wakil Sekjend Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor, Gus 'Aunullah A'la al-Habib, atau kerap disapa Gus 'Aun.



Gus 'Aun memberikan arahan, Banser bukanlah gerombolan orang, tapi Banser adalah organisasi (Jam'iyah). Artinya siapa saja tidak boleh menggerakkan, memberikan komando selain pengurus yang diberi wewenang, dilantik, disumpah oleh organisasi.
"Kita ini organisasi yang terorganisir. Selalu bergerak dalam satu barisan. Tetap dalam satu komando. Bela agama, bangsa, dan negeri," tandasnya. (fidz)

Minggu, 07 April 2019

Jurnalisme Warga dan Kultur Keadaban Dunia Maya

M Nur Huda, Jurnalis Tribun Jateng, Wakil Ketua Pengurus Wilayah GP Ansor Jateng Bidang Media dan Teknologi Informasi saat menyampaikan materi dalam Tadris Literasi LTN NU (7/4/2019
Oleh : M Nur Huda

Jurnalis Tribun Jateng, Wakil Ketua Pengurus Wilayah GP Ansor Jateng Bidang Media dan teknologi informasi




Semarang - ansorboyolali. Pada 5 April 2019 lalu, saya mengunggah sebuah berita ke portal berita tempat saya bekerja. Berita yang dilansir dari Kompas.com tersebut mengejutkan saya, karena ada sebuah peristiwa pembunuhan di salah satu daerah yang disebabkan oleh hoaks di media sosial (medsos).

Peristiwa itu bemula, ada seseorang yang mendapatkan kabar dari medsos bahwa salah satu anggota keluarganya ditangkap aparat karena kasus narkoba akibat informasi dari korban.

Seseorang tersebut kemudian menyebarkan kabar yang belum jelas faktanya itu, pada enam temannya. Akhirnya dibuatlah skenario untuk menjemput korban kemudian dibawa ke sebuah tempat, selanjutnya terjadi pengeroyokan hingga korban meninggal dunia.

Polisi setempat mengonfirmasi bahwa operasi penangkapan kasus narkoba merupakan hasil penyidikan dari jajaran kepolisian, tidak berdasar atas informasi dari korban pembunuhan tersebut. Sehingga disimpulkan, terjadi pembunuhan karena adanya hoaks di medsos.

Contoh peristiwa di atas merupakan salah satu kasus dampak hoaks, tentunya diyakini masih banyak lagi dampak-dampak fatal lainnya.

Perkembangan teknologi informasi, telah membuat semua orang memiliki kesempatan menjadi Citizen Journalism (Jurnalisme Warga). Setiap orang, dapat menjelma jadi �wartawan� dengan mengumpulkan data, informasi, analisis, dan menyebarkan berita atau informasi yang dimiliki sesuka hati.

Salah satu dampak positif medsos, dari aspek produk jurnalistik yang dihasilkan oleh media mainstream, membuat ruang interaksi antara produk Newsroom dapat dikomentari, dikritik, maupun dipuji oleh warganet. Sehingga, newsroom memiliki tanggungjawab lebih untuk memberikan informasi yang akurat.

Yang membedakan produk jurnalistik dengan citizen journalism, adalah proses pra-publishing, produk jurnalistik sudah melalui proses editing yang dilakukan secara berjenjang sebelum dipublikasikan. Produk jurnalistik juga terikat dengan kode etik jurnalistik yang sangat ketat, semisal cek dan ricek seta tidak menyinggung unsur SARA.

Berbeda dengan jurnalisme warga yang cenderung tanpa proses editing dan analisis dampak baik dan buruk dari konten yang dipublikasikan.

Celakanya, masyarakat cenderung tidak sadar bahwa konten di media sosial jauh berbeda dengan produk jurnalistik. Penyebaran konten yang massif dan belum terverifikasi, berdampak pada psikologi masyarakat untuk memercayainya sebagai sebuah fakta.

Menengok doktrin Goebbels yang terkenal, �Kebohongan yang dikampanyekan secara terus-menerus dan sistematis akan berubah menjadi (seolah-olah) kenyataan!� Sedangkan kebohongan sempurna, kata Goebbels, adalah kebenaran yang dipelintir sedikit saja.

Permasalahannya, media sosial sebagai ruang interaksi tanpa batas, tidak memegang prinsip etika dan norma selayaknya komunikasi �dunia nyata�. Norma-norma kesopanan, unggah-ungguh, keadaban, telah diabaikan.

Prof KH Nadirsyah Hosen, LLM, MA (Hons), PhD, Dosen Fakultas Hukum di Monash University Australia yang juga Ra�is Syuriah Pengurus Cabang Istimewa NU (PCNU) Australia dan Selandia Baru, juga mengungkapkan dalam buku terbarunya berjudul Saring Sebelum Sharing, Pilih Hadis Shahih, Teladani Kisah Nabi Muhammad SAW dan Lawan Berita Hoaks-Bentang Pustaka.

Disebutkan Gus Nadir, diskusi di media sosial sama riuh dan berisiknya seperti diskusi di pasar. Gayanya saja kita pakai smartphone saat diskusi, padahal cara kita berkomunikasi masih berupa kerumunan yang saling berteriak dan memunculkan mekanisme pertahanan diri.

Masih menurut Gus Nadir, kita juga cenderung memercayai sesuatu yang memang kita ingin percayai. Kalau ada berita jelek atau baik tentang seorang tokoh, tanpa berpikir dua kali, kita langsung forward atau share berita tersebut, sesuai isi hati kita yang senang atau benci dengan tokoh tersebut. Jadi, yang menentukan bukan benar atau tidaknya isi berita, melainkan apakah kita senang atau benci dengan tokoh yang dibicarakan itu. Ini yang namanya bias.

Kalangan nahdliyin tentu masih teringat sosok seorang pemuda karyawan PT Adhi Karya, Pandu Wijaya, yang menuliskan komentar di Twitter mengenai rencana aksi salat Jumat oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI, dengan kalimat yang mengarah ke penghinaan terhadap KH Mustofa Bisri atau Gus Mus pada Oktober 2016 lalu. Setelah ada desakan dari sejumlah pihak, yang bersangkutan akhirnya memintaa maaf ke Gus Mus.

Saat itu, Gus Mus memberikan maaf dan disampaikan melalui akun Twitternya, bahwa kesalahan pemuda itu hanyalah menggunakan �bahasa khusus� di tempat umum (media sosial).

Bagaimana mungkin, Gus Mus, sosok pengasuh pondok pesantren tersohor, menguasai ilmu ke-Islaman mendalam, pernyataannya dihina oleh seorang pemuda kelahiran tahun 1991 yang jika dirunut latar belakang pendidikan keagamaannya pun jauh dibanding Gus Mus.

Aspek etika, kesopanan, dan rasa tanggungjawab inilah yang cenderung tidak dipegang oleh pengguna medsos. Orang dengan mudah mengina pihak lain yang dinilai memiliki kepentingan berbeda.

Pada konteks bahaya pengaruh konten di medsos, cara sederhana dan arif yang harus dilakukan adalah �Membudayakan Tabayyun� atau cek dan ricek. Yakni meminta penjelasan atau mengklarifikasi sebuah informasi sebelum bertindak atas informasi yang diterima.

Budaya tabayyun dalam bermedsos, ini penting, sebab tidak ada jaminan informasi yang beredar 100 persen benar, meskipun dinilai kabar yang baik. Sikap kritis dan waspada mesti terus terngingang. Jangan terlibat dalam kolom komentar yang mengarah pada ujaran kebencian apalagi fitnah, sebelum benar-benar mengetahui faktanya. Alangkah baiknya jika media sosial dimanfaatkan untuk media bersilaturahmi, berbagi informasi tentang semangat beribadah, semangat berbuak yang lebih baik pada sesame manusia, berbagi informasi untuk tetap memberikan kemanfaatan untuk ummat, tidak dijadikan sebagai sarana mencari musuh.

Senin, 18 Maret 2019

Kisah Unik Diklatsar Banser Wonosegoro, Anak-Bapak-Paman Ikuti Diklatsar.



Boyolali-ansorboyolali. PKD dan Diklatsar Ansor-Banser Wonosegoro, Boyolali, 15-17 Maret 2019 selesai digelar. Banyak cerita unik di dalamnya. Di antaranya ada peserta anak (Nursyahid), ayah (Munawir), dan paman (Ali Imron).

Ketiga peserta yang berasal dari Dukuh Beran, Karangjati, Wonosegoro, ini memiliki tekad kuat untuk menjadi banser yang baik. "Motivasi saya masuk banser, ingin memperbaiki diri," kata Munawir (57).

Usia Munawir yang tidak muda lagi, tak menyurutkan keiinginannya menjadi banser. Ia mengikuti proses diklatsar dari awal sampai akhir tanpa putus.

Bapak tiga anak yang kesehariannya sebagai petani, ini tertarik banser karena di banser ada banyak kegiatan positif, di antaranya sosial dan ngaji. Selain itu sahabat Munawir ingin didoakan Mbah Hasyim Asy'ari agar husnul khotimah. Nursyahid dan Ali Imron juga mengamini impian mulia Munawir itu.

Dari semua hal, keluarga banser ini bisa menjadi inspirasi yang bergizi. Aamiin. (Sis)

Minggu, 17 Maret 2019

Banser Tak Memandang Usia || 64 tahun memilih menjadi Banser


Wonosegoro-ansorboyolali. Kecintaan seseorang terhadap suatu hal memang kadang membuat seseorang lupa terhadap entitas dirinya. Sebagaimana hal tersebut tersirat dalam sebuah Hadist yang berbunyi "' Man Ahabba Say'an Fahuwa Abduhu' "
( Barang siapa mencintai sesuatu maka berarti dia siap mengabdi untuknya ).

Adalah seorang pria lanjut usia :

 Bapak fathurohman dari desa pinggir kecamatan Karanggede Kabupaten Boyolali Jawa Tengah dan Bapak M Tukiron alias Brewok dari desa Gunung sari parapat kecamatan wonosegoro kabutapen Boyolali Jawa tengah.


 Telah membuktikan kecintaannya terhadap Nahdlatul Ulama. Meski umurnya yang tak lagi muda, tidak membuat semangatnya surut untuk tetap menghibahkan sisa hidupnya untuk tetap berkhidmat Badan Otonom Ansor, yakni Barisan Ansor Serbaguna (Banser).

Terbukti, semangat juangnya tetap berkobar untuk mengikuti Diklatsar selama 3 hari 15-17 maret 2019 di wonosegoro , Boyolali , Jawa Tengah 
itulah yang membuat dirinya tetap bersemangat dalam menjalani tahap demi tahap diklatsar
Semangat juang yang dimiliki Pak ini perlu bahkan wajib diintegrasikan ke dalam jiwa para pelopor yang muda, yang tua tetap semangat, tentu yang muda harus lebih semangat. (Hr)

Senin, 31 Desember 2018

SEORANG ANAK MENGAJAK BAPAKNYA IKUT DIKLTSAR MENJADI BANSER


Foto 2 pasang  anak dan bapak gabung menjadi banser, Suroto (bapak) dan Naufal (anak). 
Triyono (bapak) Agung (anak) .



Kekompakan Bapak dan Anak ini patut diacungi jempol. Kecintaan kepada NU dan semangat tinggi berorganisasilah yang menjadikan Suroto dan Putranya Naufal,
Garayung, pelem, simo Dan Juga Triyono beserta Putranya Agung Desa Pinggir Kecamatan Karanggede bergabung di Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Boyolali, Jateng.


Kekompakan mereka terlihat saat keduanya bersama-sama ikut Diklatsar Banser yang dilaksanakan Satkorcab Banser Boyolali.


Umur yang sudah tidak muda lagi tidak menghalangi kedua Bapak (surono dan triyono) untuk ikut prosesi Diklatsar yang membutuhkan kekuatan fisik dan mental ini. "Saya ingin berkhidmah di NU melalui Banser," kata pria yang akrab dipanggil Triyono ini saat di minta Oleh Instruktur berdiri Di depan Para peserta lain

Motivasi ingin gabung menjadi banser 

Ketika ditanya motivasi ikut Diklatsar, mereka menjelaskan bahwa Ia ingin memberikan contoh kepada generasi muda untuk memiliki jiwa dan fisik yang tangguh dan digunakan untuk berkhidmah di NU Terutama Anak-anak Mereka.


"Kulo pengen nyukani wawasan kangge rencang-rencang (saya ingin memberikan wawasan untuk teman-teman)," katanya polos menggunakan bahasa jawa.

Semangat Suroto Dan Triyono ini ternyata sudah ia wariskan kepada putranya Naufal dan Agung. Saat Prosesi Diklatsar mereka tidak canggung bersama-sama melewati test fisik dan mental. "Saya dari kecil pingin Mengabdi Pada NU. Untuk menyalurkannya saya ikut Banser," katanya Saat di Tanya Oleh Instruktur alasan mereka mengikuti diklatsar.
Diklatsar banser satkorcab kab. boyolali

Mereka Menunjukkan kekompakan mereka dengan Bapaknya dari Saat Awal sampai Akhir dalam prosesi diklatsar ini.

Tenaga yang terforsir Selama 3 hari setelah melakukan jelajah alam serta Materi kelas tidak mereka hiraukan. Yang ada hanya kecintaan terhadap NKRI dan Nahdlatul Ulama.



 Diklatsar yang dilaksanakan di Gedung MI ISLAMIYAH, Gunung Kec Simo pada pada Jum'at sampai Minggu (28-30/12) kemarin memang berbeda dari yang lain. Selain terlihat 2 Bapak dan Anak ikut Diklatsar bersama, kegiatan tersebut juga diikuti oleh 114 peserta Diklatsar Dan 35 Peserta PKD. Setelah melalui test fisik lintas alam, para peserta akhirnya mampu mendapatkan Gelar Anggota Ansor Dan Banser setelah melalui proses pembaiatan.
(H.r)

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Pages

Archive

Diberdayakan oleh Blogger.